BPOM Siapkan Barcode 3D di Kemasan untuk Identifikasi Kosmetik Palsu
Kepala BPOM Taruna Ikrar dalam sesi wawancara bersama media di acara Indonesia Cosmetic Ingredients (ICI) Expo 2026 yang diadakan oleh Persatuan Perusahaan Kosmetika Indonesia (Perkosmi) pada Rabu (06/05)()
21:50
9 Mei 2026

BPOM Siapkan Barcode 3D di Kemasan untuk Identifikasi Kosmetik Palsu

Kosmetik palsu yang beredar tanpa izin Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menimbulkan kekhawatiran.

Namun, jangan khawatir karena kosmetik palsu atau ilegal bisa diidentifikasi, salah satunya dengan mengecek izin edarnya, yang dapat dilihat pada kemasan produk dalam bentuk nomor dan barcode.

Meskipun begitu, Kepala BPOM Taruna Ikrar mengakui bahwa izin edar berbentuk barcode pada kemasan ini, masih berpotensi dipalsukan.

Hal tersebut disampaikan Taruna dalam acara Indonesia Cosmetic Ingredients (ICI) Expo 2026 yang diselenggarakan oleh Persatuan Perusahaan Kosmetika Indonesia (Perkosmi) di JIEXPO Kemayoran pada Rabu (06/05).

Baca juga: 11 Kosmetik Berbahaya Temuan BPOM 2026, Mengandung Hidrokuinon hingga Merkuri yang Bisa Merusak Ginjal

Menurut Taruna, BPOM kini tengah menyiapkan sistem barcode tiga dimensi atau 3D untuk memperkuat keamanan produk kosmetik yang beredar di pasaran.

“Untuk khusus nomor izin edar ada barcode. Nah, sekarang barcodenya masih dimensi dua. Tapi kita mau mengembangkan supaya menjadi tridimensional, sehingga itu tidak bisa lagi dipalsukan,” ujar Taruna.

BPOM akui masih ada barcode kosmetik yang dipalsukan

Taruna mengatakan, BPOM masih menemukan sejumlah kasus pemalsuan barcode kosmetik.

Bahkan, ada pelaku yang menggunakan nomor izin edar milik produk lain untuk ditempelkan pada produk ilegal.

Baca juga: Sebelum Beli Kosmetik, Cek Keamanannya dengan Metode KLIK

“Kita juga akui masih ada beberapa, dari Deputi Bidang Penindakan dan Direktorat Penyidikan dan Direktorat Siber dan Intelijen menemukan ada beberapa, pertama masih ilegal, yang kedua bahkan palsu, nomornya orang lain dia pakai,” kata Taruna.

Taruna mengatakan produk-produk yang terbukti melanggar pun telah ditindak.

“Nah tentu itu kami akan lakukan penindakan-penindakan dan sebagian kami sudah tindak,” lanjutnya.

Baca juga: Waspada! Ini Kandungan Kosmetik Berbahaya yang Dilarang BPOM

Cara membedakan barcode asli dan palsu

Menurut Taruna, cara untuk membedakan barcode asli dan palsu adalah dengan memindai barcode tersebut.

Barcode asli akan langsung terhubung ke situs resmi BPOM ketika dipindai. Sebaliknya, jika hasil pemindaian justru mengarah ke platform lain, masyarakat patut curiga.

“Kalau di-scan lantas web keluarnya ke tempat lain misalnya ke Instagram, ke Facebook, itu berarti tanda scanning itu adalah nomor yang tidak legal,” tandas Taruna.

Baca juga: BPOM Rilis Daftar Kosmetik Ilegal yang Dijual di Marketplace, Ini Produknya

Barcode 3D masih menunggu proses administratif

Meski pengembangan barcode 3D tengah diproses, penerapannya disebut belum bisa dilakukan dalam waktu dekat. Taruna menuturkan BPOM masih menunggu perubahan status lembaga menjadi Badan Layanan Umum (BLU).

Status BLU, kata Taruna, dibutuhkan karena sistem barcode 3D nantinya berkaitan dengan biaya penerapan per produk.

“Kalau kita sudah jadi Badan Layanan Umum, maka kita punya kewenangan menentukan, karena akan bermanifestasi biaya nantinya menjadi barcode tiga dimensi,” kata Taruna.

Ia menambahkan, saat ini sudah ada tiga lembaga yang mengajukan kerja sama dengan BPOM terkait pengembangan barcode tersebut. Namun, prosesnya masih terkendala regulasi.

Baca juga: BPOM Sebut Skincare Berbahan Alami Belum Tentu Teruji Ilmiah, Jangan Terkecoh

“Sehingga, kalau ditanya kapan barcode tiga dimensi itu akan diberlakukan, segera setelah kita dapat apa yang kita sebut Badan Layanan Umum dari pemerintah,” ujarnya.

Taruna mengatakan, apabila status BLU disetujui tahun ini, pengembangan barcode 3D akan langsung mulai dijalankan.

“Jadi kalau tahun ini kita dapat, tahun ini kita mulai start,” tutup Taruna.

Tag:  #bpom #siapkan #barcode #kemasan #untuk #identifikasi #kosmetik #palsu

KOMENTAR