Belajar dari LCC 4 Pilar, Ini Pentingnya Beri Ruang Bicara untuk Anak Menurut Psikolog
Psikolog menilai anak perlu diberi ruang bicara sejak kecil agar berani menyampaikan pendapat secara sehat dan sopan.(dok. SMANSA Pontianak)
17:20
14 Mei 2026

Belajar dari LCC 4 Pilar, Ini Pentingnya Beri Ruang Bicara untuk Anak Menurut Psikolog

Keberanian siswi SMAN 1 Pontianak yang menyampaikan protes terhadap keputusan juri dalam ajang Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar MPR RI masih menjadi perhatian publik.

Banyak orang menilai tindakan tersebut sebagai contoh anak muda yang berani menyuarakan pendapat secara tegas namun tetap sopan.

Di balik viralnya momen itu, psikolog menilai keberanian berbicara di depan figur otoritas sebenarnya tidak muncul begitu saja.

Kemampuan tersebut umumnya terbentuk dari lingkungan yang memberi anak ruang untuk menyampaikan pikiran dan perasaannya sejak kecil.

Psikolog Anak dan Remaja RS Dr. Oen Solo Baru, Yustinus Joko Dwi Nugroho, mengatakan kemampuan menyampaikan pendapat secara tegas tetapi tetap santun dapat dilatih melalui pembiasaan di rumah.

“Komunikasi asertif itu bisa dilatih sejak kecil. Anak perlu diberi ruang untuk menyampaikan ketidaksetujuan atau perasaannya tanpa langsung dimarahi,” ujar Joko kepada Kompas.com, baru-baru ini.

Baca juga: Berkaca dari Siswi SMAN 1 Pontianak, Psikolog: Speak Up Bentuk Keberanian Moral

Anak perlu merasa pendapatnya didengar

Menurut Joko, salah satu fondasi penting dalam membangun keberanian moral pada anak adalah membuat mereka merasa aman untuk berbicara.

Ia menjelaskan, tidak sedikit anak yang akhirnya memilih diam karena terbiasa dipotong, dibentak, atau tidak diberi kesempatan mengungkapkan pendapatnya.

“Kadang anak belum selesai bicara sudah dimarahi atau langsung disuruh diam. Lama-lama mereka merasa pendapatnya tidak penting,” katanya.

Padahal, anak yang terbiasa diberi ruang bicara cenderung lebih mampu mengungkapkan keberatan dengan cara sehat.

Orangtua, menurut dia, juga dapat membantu anak memilih kalimat yang lebih sopan saat menyampaikan ketidaksetujuan.

Misalnya, dengan mengajarkan anak mengatakan, “Saya menghargai keputusan ini, tetapi bolehkah saya menyampaikan keberatan saya?”

“Anak boleh berbeda pendapat, tetapi tetap perlu diarahkan bagaimana cara menyampaikannya dengan baik,” lanjutnya.

Baca juga: Berkaca dari Siswi SMAN 1 Pontianak, Ini Cara Melatih Anak Berani Berpendapat menurut Psikolog

Kalah karena dianggap tidak adil lebih membekas

Yustinus juga menjelaskan bahwa dari sudut pandang psikologi, pengalaman merasa diperlakukan tidak adil dapat meninggalkan luka emosional yang lebih dalam dibanding sekadar kalah karena kurang mampu.

Menurut dia, anak umumnya masih dapat menerima kekalahan jika memahami bahwa dirinya memang perlu belajar atau berlatih lebih baik lagi.

Namun, ketika anak merasa usahanya tidak dihargai atau suaranya diabaikan, dampaknya bisa lebih besar secara emosional.

“Kalah karena merasa diperlakukan tidak adil bisa menimbulkan kecewa, marah, malu, bahkan hilang kepercayaan terhadap orang dewasa atau sistem,” ujarnya.

Perasaan tersebut, lanjut Joko, dapat membuat anak enggan mencoba lagi karena merasa usaha mereka tidak berarti.

Baca juga: Bagaimana Perasaan Anak saat Usahanya Diabaikan Orang Dewasa? Ini Penjelasan Psikolog

Orang dewasa perlu belajar menerima kritik

Lebih lanjut, Joko menilai orang dewasa juga perlu belajar menerima masukan, termasuk dari anak atau remaja yang lebih muda.

Ia mengatakan masih ada sebagian orang yang menganggap kritik dari anak sebagai bentuk pembangkangan atau serangan terhadap wibawa.

Padahal, menurut dia, sikap terbuka terhadap kritik justru menunjukkan kedewasaan emosional dan integritas seseorang.

“Kalau memang ada kekeliruan, mengakui kesalahan bukan berarti kehilangan wibawa. Itu justru menunjukkan integritas,” katanya.

Joko menambahkan bahwa respons orang dewasa saat menerima kritik akan menjadi contoh bagi anak.

Ketika anak melihat orang dewasa mampu mendengarkan masukan dengan tenang, mereka juga belajar bahwa perbedaan pendapat dapat disampaikan tanpa permusuhan.

“Yang penting anak tetap diberi ruang untuk bersuara, sementara cara penyampaiannya tetap diarahkan agar sopan dan tertib,” ujar dia.

Baca juga: Remaja Berani Bicara di Depan Otoritas, Tanda Perkembangan Psikologi yang Sehat

Tag:  #belajar #dari #pilar #pentingnya #beri #ruang #bicara #untuk #anak #menurut #psikolog

KOMENTAR