Riset Ungkap Anak Muda Urban Sering Self-diagnose Penyakit Fisik Bukan Mental
Ilustrasi self diagnose penyakit(FREEPIK)
20:10
14 Mei 2026

Riset Ungkap Anak Muda Urban Sering Self-diagnose Penyakit Fisik Bukan Mental

- Kebiasaan mencari tahu arti gejala penyakit melalui internet atau kecerdasan buatan (artificial intelligence) kini sangat lekat dengan gaya hidup masyarakat perkotaan.

Banyak pihak selama ini menduga bahwa fasilitas digital tersebut paling banyak dimanfaatkan untuk mengonfirmasi masalah kesehatan mental atau psikologis.

Namun, sebuah riset terbaru dari Health Collaborative Center (HCC) membantah asumsi tersebut. Hasil penelitian justru memperlihatkan bahwa keluhan fisik menempati urutan teratas dalam pencarian informasi medis di mesin pencari.

Baca juga: 6 dari 10 Anak Muda di Indonesia Suka Self-Diagnose Penyakit, Waspadai Risikonya

"Surprisingly teman-teman, dari studi kami menunjukkan bahwa keluhan pernapasan dan kardiovaskular, itu adalah keluhan paling sering," kata Ketua Peneliti dan Pendiri HCC, Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH, dalam sesi diskusi di Jakarta, Rabu (13/5/2026).

Penyakit yang dicari di internet untuk self-diagnose

Penelitian ini melibatkan 448 responden usia produktif di bawah 39 tahun yang berdomisili di 12 kota besar, dengan 75 persen terpusat di Jabodetabek, Bandung, Surabaya, Semarang, dan Yogyakarta.

Profil partisipan didominasi oleh kalangan berpendidikan tinggi, dengan rincian 25 persen di antaranya lulusan S2 ke atas. Dari segi ekonomi, 61 persen responden memiliki penghasilan di atas UMR dan 17 persen lainnya berpenghasilan melampaui Rp 10 juta per bulan.

Hanya sedikit yang mencari soal masalah kesehatan mental

Kelompok usia muda dari latar belakang mapan ini ternyata hanya sedikit yang menggunakan algoritma mesin pencari untuk urusan kejiwaan.

Data menunjukkan persentase pencarian terkait kondisi kesehatan mental berada di urutan bawah dibandingkan masalah jasmani.

"Jadi, kita ternyata khawatir bahwa selama ini kita takutnya mental health screening itu jadi dominan di swadiagnostik. Ternyata enggak tuh. Justru penyakit klinis yang organik, yang bikin anak muda kita nyari ChatGPT," ujar Ray.

"Dan ternyata psikologis itu hanya 16 persen. Anak muda kita 'ngomong' dan cari tau sakitnya di gadget itu bukan masalah mental health," sambung dia.

Baca juga: Alasan Jangan Melakukan Self Diagnose Kesehatan Mental

Pernapasan dan jantung paling tinggi

Keluhan yang berkaitan dengan sistem pernapasan dan kardiovaskular mendominasi kolom pencarian dengan persentase masing-masing menembus 46 persen dan 40 persen.

Gejala harian seperti batuk menjadi pendorong utama seseorang membuka layar gawai untuk menemukan kepastian penyakit.

"Ternyata gangguan di bagian pernapasan, sesak nafas, batuk, itu adalah keluhan utama yang bikin anak muda urban di Indonesia berkonsultasi dengan swadiagnostik tools mereka," ungkap Ray.

Sebanyak 99,5 persen responden mengakses internet harian lewat gawai, dan 23 persen di antaranya berani menghabiskan waktu menatap layar lebih dari enam jam.

Tingginya paparan layar ini membuka peluang terjadinya tebakan diagnosis kronis oleh mesin, meskipun gejala awal yang dirasakan pengguna bisa saja dipicu oleh stres.

"Ini mungkin ada anomali, tapi ini akan jadi studi kami selanjutnya untuk ngecek dan untuk memvalidasi bener nggak dan kenapa ini," tutur Ray.

"Karena, bisa jadi dua ini (sesak napas dan batuk) adalah bagian dari mental health. Orang refluks kan, orang regurgitasi kan juga kebanyakan karena mental health, karena psikosomatis," lanjut dia.

Tren keluhan asam lambung

Selain masalah saluran napas, gangguan pencernaan menempati posisi kedua terbanyak yang ditanyakan kepada kecerdasan buatan.

Gaya hidup kaum urban yang sibuk sering kali memicu masalah lambung, sehingga istilah spesifik ini menjadi kata kunci yang sangat dominan di mesin pencari.

Kendati demikian, gejala ringan di area perut kerap kali langsung diasosiasikan dengan penyakit serius oleh algoritma.

Tanpa adanya pemeriksaan fisik secara riil oleh dokter, tebakan dari perangkat lunak ini berisiko memicu salah diagnosis yang berujung pada pengobatan yang tidak tepat.

"Kalau hanya gejala bertahap tetapi dia salah menaruh prompt di ChatGPT, akan terdiagnosis sebagai muntah. Itu sudah selesai, langsung over diagnosis," ujar Ray.

Baca juga: Sadari, 5 Risiko Lakukan Diagnosis Kesehatan Mental Sendiri

Kesalahan dalam membedakan gejala fisik yang tampak mirip, seperti antara refluks biasa dan muntah, memiliki implikasi serius terhadap terapi yang diambil.

Algoritma yang tidak didasarkan pada pemeriksaan medis secara langsung, sering kali mendorong pengguna untuk melakukan tindakan pengobatan yang sebenarnya belum diperlukan.

"Bayangkan kalau itu hanya refluks tapi dianggap infeksi usus karena hasil swadiagnosis yang salah," ucap Ray.

Tag:  #riset #ungkap #anak #muda #urban #sering #self #diagnose #penyakit #fisik #bukan #mental

KOMENTAR