Jangan Asal Minum Suplemen, Dokter Ungkap Aturan Minum Vitamin yang Benar
ilustrasi vitamin dan suplemen. (canva.com)
16:05
1 Juni 2026

Jangan Asal Minum Suplemen, Dokter Ungkap Aturan Minum Vitamin yang Benar

- Salah satu cara andalan menjaga kebugaran di tengah padatnya aktivitas masyarakat urban, yakni konsumsi multivitamin. Asupan pelengkap ini seolah menjadi tameng andalan pelindung tubuh dari berbagai risiko penyakit.

Ketergantungan tersebut memunculkan anggapan bahwa ada aturan wajib minum suplemen yang harus ditaati secara kaku. Banyak orang akhirnya lebih mementingkan deretan pil vitamin ketimbang memperbaiki komposisi gizi dari piring makan mereka sendiri.

Padahal, pandangan yang menempatkan suplemen di atas kebutuhan asupan alami tersebut merupakan sebuah kekeliruan besar.

Baca juga: 7 Vitamin dan Suplemen Terbaik untuk Pertumbuhan Rambut

"Aturan minum vitamin sebenarnya enggak ada yang baku, karena yang diutamakan tetap adalah makanan dulu, makanan utama," terang pakar estetika dan kesehatan kulit, dr. Yessica Tania, Dipl. AAAM dalam acara peluncuran Zegavit Gummy Vitamin dari PT Kalbe Farma Tbk di Jakarta, Jumat (29/5/2026).

Suplemen bukan pengganti makanan

Kesalahan pemahaman mengenai fungsi suplemen paling sering terjadi ketika tubuh terasa lelah atau kurang bugar. Banyak orang langsung menelan multivitamin dengan harapan mendapatkan suntikan energi instan, agar bisa kembali beraktivitas.

Padahal, vitamin bukanlah sumber penghasil tenaga. Untuk bisa berfungsi secara optimal, organ dan otot membutuhkan bahan bakar utama yang hanya didapatkan dari makanan utuh, bukan dari sebutir pil.

"Tetap sumber kalori utama itu kan dari karbohidrat yang bisa diolah oleh tubuh jadi ATP (Adenosina Trifosfat) kan, yang bakal dipakai oleh otot kita untuk bekerja gitu," ucap dr. Yessica.
Pakar estetika dan kesehatan kulit, dr. Yessica Tania, Dipl. AAAM., dalam acara peluncuran Zegavit Gummy Vitamin dari PT Kalbe Farma Tbk di Jakarta, Jumat (29/5/2026).Kompas.com / Nabilla Ramadhian Pakar estetika dan kesehatan kulit, dr. Yessica Tania, Dipl. AAAM., dalam acara peluncuran Zegavit Gummy Vitamin dari PT Kalbe Farma Tbk di Jakarta, Jumat (29/5/2026).

Kelelahan fisik merupakan sinyal bahwa tubuh sedang kekurangan kalori dasar. Oleh karena itu, mengonsumsi suplemen tanpa didasari pemenuhan gizi, merupakan langkah yang keliru.

"Jadi, tetap tidak bisa mengesampingkan makronutrisi yang lain, yaitu karbohidrat, protein. Masih butuh," sambung dia.

Sesuai dengan sebutannya, multivitamin hanyalah asupan pendukung. Perannya baru benar-benar dibutuhkan ketika nutrisi dari porsi makan harian dirasa belum memadai.

Baca juga: 5 Suplemen Vitamin yang Bisa Bantu Atasi Stres, Ini Saran Ahli

Perhatikan jeda waktu minum multivitamin

Selain masalah pemenuhan kalori dasar, penentuan waktu mengonsumsi multivitamin ikut memengaruhi tingkat efektivitas penyerapan di dalam lambung.

Kebiasaan menelan pil bersamaan dengan minuman seperti kopi atau susu harus dihindari. Minuman semacam itu memiliki senyawa spesifik yang dapat menghambat laju penyerapan gizi penting ke dalam peredaran darah.

Lebih lanjut, sistem pencernaan memerlukan jarak waktu agar semua zat bisa diproses secara bergantian tanpa saling membatalkan khasiat masing-masing.

Memberikan ruang antara jadwal makan besar dengan waktu minum suplemen memastikan kandungan aktifnya tidak terbuang sia-sia.

"Jadi sebaiknya dijeda saja sejam atau dua jam gitu (sebelum atau sesudah)," tutur dr. Yessica.

Baca juga: 7 Suplemen Vitamin untuk Cegah Flu dan Jaga Imun Tubuh Menurut Ahli

Bahaya penumpukan vitamin

Ilustrasi vitamin.Unsplash Ilustrasi vitamin.

Risiko kesehatan jangka panjang yang sering luput dari perhatian publik adalah ancaman penumpukan zat akibat konsumsi berlebihan.

Berdasarkan sifat kelarutannya, vitamin dibagi menjadi dua klasifikasi besar, yakni larut dalam air dan larut dalam lemak.

Pemahaman tentang perbedaan sifat kelarutan ini sangat penting dalam menentukan seberapa banyak dosis yang aman ditoleransi oleh metabolisme. Pada kategori pertama, batas toleransi pembuangan sisa nutrisi di dalam tubuh jauh lebih aman dan fleksibel.

"Kalau vitamin B, vitamin C, itu kan larutnya dalam air, dia bisa dibuang lewat kencing. Ya kalau lebih, tinggal dibuang," ucap dr. Yessica.

Mekanisme ini akan berbeda total ketika seseorang meminum asupan yang penyerapannya harus melewati jaringan lemak.

Badan tidak mempunyai rute pembuangan cairan secara langsung untuk jenis mikronutrisi ini jika jumlahnya melonjak melewati batas anjuran.

Baca juga: Tiga Vitamin untuk Menjaga Kesehatan Mental, Menurut Psikiater

"Kalau vitamin A, D, E, K, itu enggak bisa. Jadi dia akan terdeposisi atau numpuk di dalam lemak yang ada di tubuh kita," imbuh dr. Yessica.

Penumpukan sisa metabolisme dalam kurun waktu lama ini justru dapat merusak fungsi organ internal secara perlahan.

Maka dari itu, kebijaksanaan dalam mematuhi dosis pemakaian merupakan kunci utama agar niat hidup sehat tidak mendatangkan bahaya.

"Jadi, sangat tidak disarankan mengkonsumsi suplemen yang sama dengan jumlah yang berlebihan," ungkap dia.

Tag:  #jangan #asal #minum #suplemen #dokter #ungkap #aturan #minum #vitamin #yang #benar

KOMENTAR