Bahaya Menuruti Semua Permintaan Anak, Psikolog Ungkap Dampaknya
Ilustrasi anak. Perubahan suasana hati anak setelah liburan sering dianggap biasa, padahal bisa menjadi tanda tekanan emosional yang perlu diperhatikan orangtua.(Freepik)
20:05
6 Juni 2026

Bahaya Menuruti Semua Permintaan Anak, Psikolog Ungkap Dampaknya

Banyak orangtua merasa sulit menolak permintaan anak, terlebih ketika anak menginginkan sesuatu yang sedang populer di kalangan teman-temannya.

Tidak sedikit pula yang memilih langsung mengabulkan permintaan tersebut demi menghindari rengekan, tangisan, atau rasa kasihan.

Padahal, menurut psikolog anak dan keluarga Vera Itabiliana Hadiwidjojo, kebiasaan selalu menuruti keinginan anak dapat berdampak pada perkembangan psikologis mereka dalam jangka panjang.

Vera menjelaskan bahwa anak perlu belajar memahami batasan dan mengelola keinginan sejak dini. Jika setiap keinginan selalu dipenuhi, anak berisiko tumbuh tanpa kemampuan mengendalikan diri dengan baik.

"Anak dapat kesulitan belajar mengelola keinginan dan menunda kepuasan," ujar Vera kepada Kompas.com.

Anak Perlu Belajar Menunda Kepuasan

Kemampuan menunda kepuasan atau delayed gratification merupakan salah satu keterampilan penting yang perlu dimiliki anak.

Melalui proses menunggu dan memahami bahwa tidak semua keinginan bisa langsung terpenuhi, anak belajar mengendalikan emosi, bersabar, serta mempertimbangkan prioritas.

Sebaliknya, ketika semua permintaan selalu dikabulkan, anak bisa terbiasa mendapatkan apa yang diinginkan secara instan.

Akibatnya, mereka berpotensi mengalami kesulitan saat menghadapi penolakan atau situasi yang tidak sesuai harapan.

Kemampuan mengelola kekecewaan ini penting karena akan dibutuhkan anak dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari lingkungan sekolah hingga pergaulan sosial.

Baca juga: Mengapa Anak Perlu Banyak Bermain? Ini Penjelasan Psikolog

Berisiko Menjadi Lebih Konsumtif

Selain kesulitan mengendalikan keinginan, anak juga berisiko mengembangkan pola pikir bahwa kebahagiaan dan kepuasan selalu berkaitan dengan kepemilikan barang.

Menurut Vera, kondisi ini dapat membuat anak menjadi lebih konsumtif dan mudah terpengaruh oleh tren yang berkembang di lingkungan sekitarnya.

Ketika melihat teman memiliki barang tertentu atau menemukan produk yang sedang viral di media sosial, anak akan cenderung merasa perlu memilikinya juga agar tidak tertinggal.

Dalam jangka panjang, mereka bisa lebih mudah terpengaruh tekanan sosial dan kesulitan mengambil keputusan berdasarkan kebutuhan yang sebenarnya.

Baca juga: Anak di Bawah 8 Tahun Perlu Bergerak 3 Jam Sehari, Ini Kata Psikolog

Harga Diri Bisa Bergantung pada Barang

Dampak lain yang perlu diwaspadai adalah terbentuknya rasa percaya diri yang bergantung pada kepemilikan barang.

Jika anak terbiasa mendapatkan apresiasi atau merasa diterima karena memiliki barang tertentu, mereka dapat menganggap bahwa nilai dirinya ditentukan oleh apa yang dimiliki, bukan oleh kemampuan atau karakter pribadinya.

Padahal, rasa percaya diri yang sehat seharusnya dibangun dari usaha, kemampuan, sikap positif, dan pencapaian yang diraih anak.

"Anak bisa menjadi kurang mampu membangun rasa percaya diri yang bersumber dari kemampuan, karakter, atau pencapaiannya sendiri," kata Vera.

Tidak Selalu Menuruti Bukan Berarti Tidak Menyayangi

Vera mengingatkan bahwa menolak permintaan anak sesekali bukan berarti orangtua tidak menyayangi mereka. Justru, memberikan batasan yang jelas merupakan bagian penting dari proses pengasuhan.

Saat anak meminta sesuatu, orangtua dapat mengajak mereka berdiskusi mengenai alasan ingin memiliki barang tersebut, manfaatnya, serta membedakan antara kebutuhan dan keinginan.

Melalui cara ini, anak belajar berpikir lebih rasional sebelum membuat keputusan.

Selain itu, orangtua juga perlu menjadi teladan dalam mengelola keinginan dan kebiasaan berbelanja. Anak cenderung meniru perilaku yang mereka lihat sehari-hari di rumah.

Jika orangtua mampu menunjukkan sikap bijak dalam menyikapi tren dan tidak mudah membeli sesuatu hanya karena sedang populer, anak pun akan lebih mudah mengembangkan kebiasaan yang sama.

Pada akhirnya, tujuan pengasuhan bukanlah memenuhi seluruh keinginan anak, melainkan membantu mereka tumbuh menjadi pribadi yang mampu mengendalikan diri, memahami prioritas, dan memiliki rasa percaya diri yang tidak bergantung pada barang yang dimiliki.

Tag:  #bahaya #menuruti #semua #permintaan #anak #psikolog #ungkap #dampaknya

KOMENTAR