8 Hal yang Diam-diam Memicu Stres, Termasuk Gangguan Suara Bising
- Tenggat waktu pekerjaan dan presentasi penting sangat mudah dikenali sebagai pemicu stres harian. Namun, sebenarnya banyak pemicu kecil dari lingkungan maupun kebiasaan yang diam-diam menyebabkan kita selalu stres.
Otak memang bisa beradaptasi secara kognitif, sehingga berbagai pemicu skala rendah tersebut perlahan berhenti disadari pikiran.
Meski begitu, rangsangan ini tetap memicu respons saraf dan meninggalkan tumpukan jejak kelelahan pada tubuh. Kenali apa saja ragam pemicu stres tersembunyi ini?
Baca juga: Bukan Hanya Mental, Studi Ungkap Stres Kronis Bisa Pengaruhi Fisik
Beragam pemicu stres tersembunyi
1. Suhu ruangan yang tidak nyaman
Direktur Medis Kesehatan Wanita di Jersey Shore University Medical Center, Soma Mandal, MD, mengatakan bahwa rasa tidak nyaman karena suhu yang terlalu panas atau dingin bisa memicu stres fisiologis.
"Hipotalamus terus membaca kondisi lingkungan dan memicu mekanisme kompensasi pada tubuh," tutur dia, melansir Real Simple, Rabu (10/6/2026).
Namun, hal tersebut bisa disiasati dengan memodifikasi pakaian atau menyalakan pendingin ruangan untuk menurunkan suhu.
Baca juga: Musim Kemarau 2026 Diprediksi Lebih Panjang, Kemenkes Ingatkan Risiko Heat Stroke hingga ISPA
2. Minimnya paparan sinar matahari
Bekerja di ruangan tanpa sinar matahari bisa memicu stres karena cahaya adalah pengatur utama jam biologis.
Tanpa paparan cahaya siang yang cukup produksi melatonin tertahan saat kamu seharusnya terjaga, dan otak kesulitan mengirimkan sinyal "siang hari" ke seluruh tubuh.
"Ini bermasalah karena tubuh sangat bergantung pada sinyal sirkadian untuk mengatur ritme kortisol, metabolisme energi, dan kekebalan tubuh," jelas dr. Mandal.
Untuk mengatasinya, carilah paparan sinar matahari selama 10-20 menit saat bangun tidur. Ini membantu menstabilkan ritme sirkadian, mengatur kortisol pagi hari, dan menyiapkan pelepasan melatonin nantinya.
Baca juga: Begadang dan Kurang Sinar Matahari Bisa Melemahkan Imun, Ini Penjelasan Ilmiahnya
3. Gangguan suara bising di sekitar
Ilustrasi keberisikan.
Kardiolog Sonal Chandra, MD, menerangkan bahwa suara bising dari lalu lintas atau obrolan kantor membuat tubuh terus waspada.
"Paparan kebisingan yang terus-menerus membuat tubuh dalam kondisi rangsangan simpatik, bahkan saat tidur, sehingga memicu peradangan dan kekacauan tekanan darah," jelas dia.
Lebih lanjut, suara tak terduga juga meningkatkan respons terkejut dan merusak rasa kendali diri. Dampaknya bahkan terasa pada konsentrasi dan kinerja kognitif.
"Paparan berulang bisa menyebabkan lonjakan kortisol, mengganggu daya ingat, dan membuatmu lebih cepat lelah. Beri diri waktu istirahat harian dengan menyendiri di lingkungan minim kebisingan," saran Chandra.
Baca juga: Pakai Earbuds untuk Tidur, Berbahayakah untuk Pendengaran?
4. Pola pernapasan yang terlalu dangkal
Saat asyik menatap layar, pernapasan bisa berubah menjadi lebih pendek tanpa disadari. Jenis pernapasan seperti ini dapat meningkatkan respons fisiologis.
"Dari yang awalnya santai menjadi kondisi kewaspadaan tinggi, yang berujung pada naiknya detak jantung serta tekanan darah," ujar Chandra.
"Tarik napas tiga hingga empat detik, lalu embuskan perlahan selama enam hingga delapan detik. Cara ini ampuh memperlambat detak jantung," sambung dia.
5. Kebiasaan selalu "siaga" setelah jam kerja
Merasa harus selalu siap membalas pesan setelah jam kerja membuat saraf terus siaga. Menurut Mandal, masalahnya bukan pada satu pesan larut malam, melainkan kebiasaan yang berpola.
"Secara fisiologis, hal ini menciptakan apa yang disebut ilmuwan sebagai beban alostatik, yaitu keausan pada tubuh akibat terus-menerus dipaksa aktif," ucap dia.
Tidur dengan pikiran yang masih terikat pekerjaan, istirahat menjadi lebih ringan dan mudah terputus. Namun, ini bisa diatasi dengan menetapkan waktu khusus untuk mengirim pesan terakhir.
Baca juga: Hindari Stres Finansial Saat Tahun Ajaran Baru dengan Sinking Fund
Ilustrasi
6. Sering multitasking
Mengerjakan banyak hal sekaligus memang sangat menguras energi. Sebab, multitasking memaksa otak untuk mengatur ulang fokusnya, yang mana ini membutuhkan energi kognitif yang besar.
"Walaupun seseorang merasa tenang, sistem sarafnya diam-diam terus bersiap untuk pergantian tugas berikutnya. Ini membuat otak kesulitan untuk benar-benar fokus atau beristirahat lelap," terang Psikoterapis Terdaftar Prudence Leung, MA.
Leung menyarankan untuk meluangkan waktu khusus setiap hari agar bisa fokus, meskipun hanya selama 20 menit. Saat melakukannya, pastikan semua notifikasi dimatikan dan hindari berpindah-pindah tugas.
"Tujuan dari kebiasaan ini bukanlah untuk mencapai kesempurnaan, melainkan memberi waktu bagi sistem saraf agar memiliki setidaknya satu momen tenang yang bisa diprediksi untuk fokus tanpa gangguan secara rutin," ujar dia.
Baca juga: Berhenti Multitasking Selama Sebulan, Ini Perubahan yang Terjadi di Otak
7. Banyak mengambil keputusan
Setiap pilihan kecil setiap hari menuntut otak menimbang banyak kemungkinan. Leung menerangkan, proses ini menggunakan fungsi eksekutif otak yang sangat menguras energi.
"Saat keputusan makin menumpuk, tubuh akan merasakannya sebagai kebocoran sumber daya kognitif yang terjadi terus-menerus," ucap dia.
"Kondisi ini membuat seseorang lebih sering merasa buntu, yaitu saat mendadak sangat kewalahan menghadapi masalah sepele karena sistem tubuhnya kehabisan tenaga," lanjut Leung.
8. Jadwal yang terlalu padat
Sering kali, manusia beraktivitas seharian penuh tanpa memberikan celah waktu untuk bernapas. Padahal, meskipun kegiatannya menyenangkan, tubuh tetap butuh jeda singkat untuk "memulihkan diri".
Baca juga: Alasan Bunyi Notifikasi Grup Kantor Bikin Stres Saat WFH
Tag: #yang #diam #diam #memicu #stres #termasuk #gangguan #suara #bising