Hasto Sarankan Prabowo Gelar Pertemuan Sekelas Konferensi Asia-Afrika 1955
Sekretaris Jenderal (Sekjen) PDIP, Hasto Kristiyanto usai menghadiri acara Kulturanesia di Metropole XXI, Jakarta Pusat, Minggu (7/6/2026).(KOMPAS.com/HARYANTI PUSPA SARI )
19:46
11 Juni 2026

Hasto Sarankan Prabowo Gelar Pertemuan Sekelas Konferensi Asia-Afrika 1955

- Sekretaris Jenderal (Sekjen) PDI-Perjuangan Hasto Kristiyanto mengusulkan agar Presiden Prabowo Subianto menggelar konferensi internasional baru, jika ingin menjadi mediator konflik di Timur Tengah seperti Konferensi Asia-Afrika 1955.

"Menyarankan agar Presiden Prabowo mengambil inisiatif menggelar sebuah konferensi internasional baru yang terencana secara detail, seperti halnya Bung Karno mempersiapkan Konferensi Asia-Afrika (KAA) 1955 silam," ujar Hasto saat memberikan kuliah umum bertajuk Pemikiran Geopolitik Bung Karno dalam rangka Dies Natalis ke-27 UBK di Jakarta, Kamis (11/6/2026).

Baca juga: Tawaran Prabowo Jadi Mediator dalam Perang AS vs Iran Masih Berlaku

Menurut Hasto, konferensi tersebut dapat menjadi gerakan baru yang diinisiasi Indonesia, sebagaimana Presiden pertama RI Sukarno mempersiapkan Konferensi Asia-Afrika (KAA) pada 1955.

Menurut Hasto, konferensi tersebut dapat menjadi semacam "KAA Plus" yang diinisiasi langsung oleh Indonesia untuk memediasi ketegangan di Timur Tengah.

Dia menilai pemikiran geopolitik Bung Karno relevan jika Prabowo ingin memosisikan Indonesia sebagai fasilitator perdamaian di tingkat global, khususnya untuk meredakan konflik di Timur Tengah.

"Kalau Presiden Prabowo berkehendak menjadikan Indonesia sebagai peace facilitator untuk masalah Timur Tengah, ini (siklus geopolitik Sukarno) bisa dipakai," kata Hasto.

Baca juga: Prabowo dan PM Jepang Takaichi Siap Jadi Mediator Perdamaian Dunia

Dosen Tetap UBK itu menjelaskan, pemikiran geopolitik Bung Karno berjalan melalui sebuah siklus yang sistematis dalam menghadapi dinamika kawasan maupun global.

Siklus tersebut diawali dengan perumusan kepentingan nasional (national interest), dilanjutkan dengan keterlibatan global (global involvement) melalui pembangunan hukum internasional baru dan kerja sama antarnegara.

Tahap berikutnya ialah memperkuat diplomasi tersebut melalui diplomasi pertahanan guna menciptakan daya tangkal (deterrent effect) yang efektif.

"Siklus ini terus berputar. Kita menciptakan hukum internasional dengan pendekatan diplomasi kita, membangun kerja sama internasional, hingga akhirnya diplomasi pertahanan strategis memperkuat postur pertahanan kita," jelas Hasto.

Baca juga: Bahlil Yakin Prabowo Mampu Jadi Mediator Iran vs AS

Menurut dia, keberhasilan diplomasi Indonesia juga harus ditopang oleh perencanaan teknis yang matang lewat diplomasi.

"Bagaimana konferensi tersebut direncanakan secara detail. Bung Karno dulu merencanakan KAA dengan sangat matang, melibatkan semua elemen termasuk mahasiswa untuk melayani delegasi dengan hormat. Itu adalah bagian dari the art of diplomacy kita," ucap Hasto.

Dia menilai, langkah tersebut penting agar setiap delegasi yang hadir merasa dihormati sehingga kesepakatan perdamaian yang dihasilkan memiliki legitimasi kuat di mata dunia internasional.

Prabowo bersedia menjadi mediator AS vs Iran

Diberitakan sebelumnya, Pada Februari 2026 lalu, Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menyatakan kesiapannya untuk menjadi mediator antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Konflik kedua negara itu juga turut melibatkan Israel yang membuat situasi di Timur Tengah menjadi memanas.

Terbaru, Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) Arrmanatha Nasir mengungkapkan bahwa tawaran Presiden Prabowo untuk menjadi mediator dalam perang AS dan Iran masih berlaku hingga saat ini.

"Tawaran itu selalu ada," ujar Arrmanatha di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (11/6/2026).

Arrmanatha menyampaikan, Prabowo selalu mengungkit bahwa dirinya siap menjadi pihak ketiga yang menjembatani pihak yang bertikai.

"Dan tentunya ini kan membutuhkan kesepakatan dari semua pihak. Dan ini adalah niat baik dari Bapak Presiden Prabowo, di mana beliau selalu mengatakan siap untuk menjadi good offices ya dalam mendukung penyelesaian dari konflik ini," kata Tata, sapaan Arrmanatha.

Tata mengatakan, Indonesia terus mendorong agar Iran dan AS kembali ke meja perundingan dan melakukan gencatan senjata.

Baca juga: Prabowo: Israel Harus Dijamin Keamanannya agar Perdamaian Palestina Terwujud

Sebab jika perang terus berlanjut, maka kondisi itu akan memberi dampak negatif kepada negara di seluruh dunia.

"Bila perang ini berlanjut, tidak saja berdampak negatif dan merugikan masyarakat di negara-negara yang sedang berkonflik, baik itu di Amerika maupun di Iran, tapi juga di negara-negara di seluruh dunia termasuk di Indonesia," jelasnya.

"Oleh karena itu kita sebenarnya menyayangkan bahwa kembali terjadi kontak senjata ya antara para pihak yang berkonflik, dan kita kembali lagi menyerukan agar segera kembali melakukan gencatan senjata dan melakukan perundingan," imbuhnya.

Tag:  #hasto #sarankan #prabowo #gelar #pertemuan #sekelas #konferensi #asia #afrika #1955

KOMENTAR