Mengenal SWIFT, Sistem yang Disebut Menghambat Ekspor Minyak Rusia ke Indonesia
Ilustrasi kapal Tanker Pertamina.(KOMPAS.com/Seto Ajinugroho)
15:42
17 April 2026

Mengenal SWIFT, Sistem yang Disebut Menghambat Ekspor Minyak Rusia ke Indonesia

Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Federasi Rusia untuk Republik Indonesia, Sergei Gennadievich Tolchenov mengatakan, setidaknya ada tiga pertanyaan utama yang harus dipecahkan jika Indonesia serius ingin mengimpor minyak dan gas (migas) dari Rusia.

Salah satunya adalah sistem pesan pembayaran Society for Worldwide Interbank Financial Telecommunication (SWIFT).

Sergei mengatakan, untuk membeli minyak, Indonesia harus mentransfer uang ke Rusia.

Namun yang menjadi masalah, Rusia tidak tergabung lagi dalam SWIFT karena sanksi Amerika Serikat dan negara barat atas konflik di Ukraina.

Baca juga: Dubes Rusia Buka-Bukaan Soal 3 Hambatan Ekspor Migas ke Indonesia

Menurut Sergei, solusi dari persoalan kedua ini mungkin bisa menggunakan pihak negara ketiga dengan jalur transfer yang lebih panjang.

"Itu masalahnya karena kami, Rusia, tidak bisa menggunakan SWIFT, mungkin (bisa dilakukan) hanya melalui negara ketiga," kata Sergei saat ditemui di Kantor Radio Sonora, Jakarta, Kamis (17/4/2026).

Lantas apa itu sistem SWIFT yang disebut tidak bisa digunakan Rusia dan menjadi penghambat transaksi minyak dengan Indonesia?

Baca juga: Tak Ada Diskon Minyak untuk Indonesia, Dubes Rusia Sebut Harga Bisa Jadi Lebih Tinggi

Sistem Pembayaran 11.000 Lembaga Keuangan di Seluruh Dunia

Dilansir dari Kompas.com, SWIFT berbasis di Belgia sejak 2021 dan menangani pembayaran 11.000 lembaga keuangan di seluruh dunia.

Sistem ini menyampaikan 42 juta pesan transaksi keuangan per hari dan merupakan sistem yang digunakan untuk sistem perdagangan antar negara.

Financial Times mencatat, pemutusan akses atau transaksi perbankan antar negara yang dilakukan tanpa SWIFT akan jauh lebih mahal dan lebih lama.

Baca juga: Bahlil Sebut Minyak Rusia Mulai Dikirim ke RI Bulan Ini

Pemblokiran Rusia dari SWIFT sejak 2022 disebut memiliki dampak ekonomi yang signifikan.

Mantan menteri keuangan Rusia Alexei Kudrin memperkirakan, produk domestik bruto Rusia akan susut 5 persen dalam setahun tanpa SWIFT.

Langkah tersebut juga dinilai akan membahayakan kemampuan Rusia untuk mengambil untung dari ekspor minyak dan gas yang merupakan 40 persen dari pendapatan negara.

Meski demikian, Rusia telah membentuk sistem pembayaran alternatif dengan China yang dapat digunakan Rusia.

Baca juga: Soal Ekspor Minyak dan Gas ke Indonesia, Dubes Rusia: Tak Ada Harga Teman dalam Bisnis

Walakin, Atlantic Council mencatat, platform tersebut hanya memiliki jangkauan kecil dibanding SWIFT dan tidak bisa mengimbangi transaksi keuangan Rusia.

Tag:  #mengenal #swift #sistem #yang #disebut #menghambat #ekspor #minyak #rusia #indonesia

KOMENTAR