28 Tahun Lalu Soeharto Nyatakan Mundur Setelah Aksi Demonstrasi Bertahan 10 Hari
Gambar Soeharto. Usulan Soeharto jadi pahlawan nasional menuai kontroversi. Selama masa pemerintahannya, Soeharto diduga terlibat dalam sejumlah kasus pelanggaran HAM, mulai dari tragedi Pulau Buru hingga kerusuhan Mei 1998.(Wikimedia Commons)
13:46
21 Mei 2026

28 Tahun Lalu Soeharto Nyatakan Mundur Setelah Aksi Demonstrasi Bertahan 10 Hari

Mundur 28 tahun lalu, pada 21 Mei 1998, Presiden ke-2 RI, Soeharto menyatakan diri mundur dari jabatannya.

Saat pidato penguduran diri, Soeharto bilang langkah mundur sebagai presiden didasari dari situasi nasional dan aspirasi rakyat untuk mengadakan reformasi di segala bidang kehidupan berbangsa dan bernegara.

Soeharto awalnya menanggapi aksi tersebut dengan rencana membentuk Komite Reformasi dan mengubah susunan Kabinen Pembangunan VII.

"Namun demikian, kenyataan hingga hari ini menunjukkan komite reformasi tersebut tidak dapat terwujud karena tidak adanya tanggapan yang memadai terhadap rencana pembentukan komite tersebut," kata Soeharto dalam pidatonya.

Baca juga: Pidato Lengkap Soeharto 28 Tahun Lalu: Saya Berhenti dari Jabatan sebagai Presiden RI

Komite Reformasi akhirnya tak terbentuk, Soeharto mulai berpikir ia sulit menjalankan tugas pembangunan dengan baik.

Dia kemudian membaca ketentuan Pasal 8 Undang-Undang Dasar 1945 yang berbunyi:

Jika Presiden mangkat, berhenti, atau tidak dapat melakukan kewajibannya dalam masa jabatannya, ia diganti oleh Wakil Presiden sampai habis waktunya.

Soeharto juga memperhatikan pandangan dari DPR dan pimpinan fraksi di dalamnya.

"Saya memutuskan untuk menyatakan berhenti dari jabatan saya sebagai Presiden Republik Indonesia, terhitung sejak saya bacakan pernyataan ini pada hari ini, Kamis 21 Mei 1998," ucapnya.

Baca juga: 10 Hari Jelang Lengsernya Soeharto, Kronologi Kerusuhan Mei 1998

Mundur Setelah Aksi Demonstrasi 10 Hari

Mundurnya Soeharto tak terlepas dari peristiwa Kerusuhan Mei 1998.

Peristiwa ini terjadi sejak 12 Mei, atau 10 hari sebelum Seoharto menyatakan diri mundur dari jabatan.

Dilansir dari Kompaspedia.kompas.id, hari pertama dimulai pada 12 Mei 1998, aparat keamanan menembak mati mahasiswa Universitas Trisakti yang sedang melakukan aksi damai.

Empat mahasiswa hilang nyawanya, mereka adalah Elang Mulia Lesmana, Heri Hertanto, Hafidin Royan, Alan Mulyadi, Hendriawan Sie.

Insiden ini memicu kemarahan publik. Dari Trisakti gelombang demonstrasi di berbagai tempat di Jakarta.

Hari kedua, pada 13 Mei, kerusuhan pecah di sekitar Universitas Trisakti yang semakin memanas.

Hari ketiga, 14 Mei, kerusuhan di Jakarta mulai menyebar ke berbagai kota besar di Indonesia.

Hari kempat, 15 Mei kerusuhan semakin meluas sampai ke pusat perbelanjaan. Salah satu satunya adalah toko serba ada Yogya, di Klender, Jakarta. Dalam toko itu ditemukan ratusan orang meninggal dunia.

Baca juga: Prabowo Panggil Purbaya hingga Menkeu Era Soeharto ke Istana, Ada Apa?

Hari kelima, 16 Mei, kerusuhan masih terjadi. Kembali ditemukan ratusan orang tewas di Cileduk Plaza.

Hari keenam, 17 Mei dilaporkan ada 499 orang telah tewas dalam kerusuhan berkepanjangan tersebut, serta kurang lebih 4.000 gedung terbakar.

Hari ketujuh, 18 Mei, ribuan mahasiswa menduduki Kompleks Parlemen Senayan. Ketua MPR Harmoko meminta Soeharto mundur.

Saat itu Wiranto sebagai Panglima ABRI menyebut permintaan Harmoko tak miliki dasar hukum.

Hari kedelapan, 19 Mei Soeharto berjanji akan mengadakan pemilu secepatnya dan tak akan mencalonkan diri lagi. Ia mengumumkan rencana membentuk komite reformasi.

Baca juga: Basarah: Soeharto Saja Sudah Pahlawan, Korban Pelanggaran HAM Harus Dilayani

Hari kesembilan, 20 Mei beredar kabar rencana long march mahassiwa dari Kompleks Parlemen ke Monas untuk memperingati Hari Kebangkitan Nasional, namun rencana ini tidak terjadi.

Hari kesepuluh, 21 Mei Soeharto mengundurkan diri dan mengalihkan kekuasaan kepada Presiden BJ Habibie.

Tag:  #tahun #lalu #soeharto #nyatakan #mundur #setelah #aksi #demonstrasi #bertahan #hari

KOMENTAR