PDI-P: Rakyat Desa Tak Pakai Dollar, tetapi Terdampak Kenaikan Harga
Ketua DPP PDI-P Djarot Saiful Hidayat dalam acara Bimtek Anggota DPRD PDI-P se-Indonesia di Jakarta, Sabtu (30/5/2026).(KOMPAS.com/Tria Sutrisna)
13:34
30 Mei 2026

PDI-P: Rakyat Desa Tak Pakai Dollar, tetapi Terdampak Kenaikan Harga

Ketua DPP PDI-P Djarot Saiful Hidayat menilai masyarakat desa tetap terdampak oleh kenaikan nilai tukar dollar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah, meski tidak menggunakan mata uang tersebut dalam aktivitas sehari-hari.

Menurut Djarot, dampak pelemahan rupiah terhadap dollar akan terasa melalui kenaikan harga berbagai kebutuhan pokok yang digunakan masyarakat.

"Kalau rakyat desa tidak terdampak langsung ya, karena dia tidak menggunakan dollar, iyalah. Tapi harga-harga lihat ya, melambung tinggi, sekarang ini," ujar Djarot saat ditemui dalam acara Bimbingan Teknis (Bimtek) DPRD PDI-P se-Indonesia, Sabtu (30/5/2026).

Baca juga: Ekonom: Tak Pakai Dollar, Warga Desa Tetap Terdampak Pelemahan Rupiah

Djarot mencontohkan salah satu sektor yang sudah merasakan dampak kenaikan dollar adalah usaha tahu dan tempe yang bergantung pada impor kedelai.

Menurut dia, kenaikan harga kedelai akibat pelemahan rupiah membuat pelaku usaha semakin tertekan.

"Misalnya contoh ya, ini pengusaha tahu dan tempe itu menjerit karena harga kedelai itu naik ya. Kalau misalnya terus-terusan seperti ini bisa tutup itu," kata Djarot.

Mantan gubernur DKI Jakarta itu menegaskan bahwa penguatan dollar terhadap rupiah memiliki pengaruh langsung terhadap harga barang-barang kebutuhan masyarakat.

Baca juga: Rakyat Desa Memang Tak Pakai Dollar AS, tapi...

Karena itu, dia menilai masyarakat desa pada akhirnya tetap merasakan dampak meski tidak bertransaksi menggunakan dollar.

"Jadi artinya harga dollar naik itu sangat berpengaruh kepada kenaikan harga kebutuhan pokok rakyat. Jadi secara tidak langsung rakyat desa pasti terdampak, Anda terdampak, kita semuanya terdampak gitu loh ya," kata Djarot.

"Jadi ya biar Presidenlah bisa menjelaskan apa maknanya dollar naik rakyat desa tidak terdampak ya," imbuh dia.

Prabowo sebut orang desa tak pakai dollar

Diberitakan sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menanggapi santai kekhawatiran sejumlah pihak terkait pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS.

Dalam pidato peresmian Museum Ibu Marsinah dan Rumah Singgah di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu (16/5/2026), Prabowo mengatakan masyarakat kecil, khususnya di desa, tidak terlalu terdampak langsung oleh gejolak kurs dollar.

"Rakyat di desa tidak pakai dollar kok," ujar Prabowo.

Dalam kesempatan itu, Prabowo juga menegaskan bahwa kondisi pangan dan energi nasional masih aman di tengah ketidakpastian global.

"Pangan aman. Energi aman. Banyak negara panik, Indonesia masih oke," kata Prabowo.

Baca juga: Orang Desa Tak Pakai Dollar, Perajin Tempe Banyumas: Pak Prabowo Tahu Harga Kedelai Mahal?

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebutkan, konteks pernyataan Prabowi itu ditujukan untuk masyarakat yang ada di desa.

Menurut dia, Prabowo tentu sangat memahami soal kondisi dollar saat ini.

"Saya menjelaskan dulu konteksnya begini. Itu kan bicara di pedesaan, itu konteksnya di situ untuk orang sana. Bukan berarti Pak Presiden enggak mengerti rupiah, dia kan jago, beneran. Jadi konteksnya seperti itu," ucap Purbaya.

Baca juga: Prabowo Sebut Rakyat Desa Tak Pakai Dollar, Purbaya: Bukan Berarti Enggak Ngerti Rupiah, Dia Jago!

Sebab, menurut Purbaya, tidak banyak warga di desa yang akan paham dengan istilah teknis soal ekonomi dan kenaikan nilai tukar dollar.

"Emang mereka mengerti imported inflation? Berapa banyak mereka mengerti kalau mereka dijelaskan imported inflation secara teoretis enggak terlalu signifikan kok," kata Purbaya.

"Kalau kamu baca buku-buku ekonomi yang clear seperti itu, kadang-kadang jelas kadang-kadang enggak, sebagian meragukan adanya imported inflation. Jadi itu bahasa populer kan, coba selama ini. Itu pasti ada delay dan kadang-kadang juga hilang," imbuh dia.

Tag:  #rakyat #desa #pakai #dollar #tetapi #terdampak #kenaikan #harga

KOMENTAR