Indonesia Menonton Sepak Bola, Negara Lain Menjualnya
DALAM beberapa pekan terakhir, media sosial Indonesia dipenuhi oleh euforia suporter sepak bola.
Pendukung Arsenal F.C. memastikan klubnya menjuarai Liga Inggris di depan mata setelah Manchester City berhasil ditahan imbang oleh Bournemouth, sementara bobotoh mulai membicarakan kemungkinan Persib Bandung menorehkan sejarah baru di kompetisi domestik serta jalur konvoi perayaan juara di Kota Bandung.
Percakapan tentang sepak bola muncul di mana-mana, warung kopi, kantor, kampus, hingga grup WhatsApp keluarga.
Sulit rasanya mencari olahraga lain di Indonesia yang mampu menciptakan keterlibatan sosial sebesar itu.
Namun di tengah gairah yang begitu besar, ada satu pertanyaan yang jarang benar-benar dibahas, mengapa sepak bola Indonesia belum berhasil menjadi kekuatan ekonomi?
Perdebatan tentang komersialisasi sepak bola sebenarnya sudah lama muncul, para suporter menganggap sepak bola modern terlalu korporatis.
Hal yang menurut mereka modernisasi sepak bola membawa dampak pada tiket pertandingan yang mahal, jadwal mengikuti kepentingan televisi, dan klub perlahan berubah menjadi entitas bisnis yang terasa jauh dari komunitasnya.
Di Eropa, kritik terhadap “modern football” bahkan menjadi gerakan tersendiri.
Baca juga: Membaca Kehebatan Persib yang Berpeluang Hattrick Juara
Kritik itu tidak sepenuhnya keliru. Tetapi sepak bola modern juga menunjukkan satu kenyataan lain, yaitu, hampir tidak ada liga besar yang berkembang tanpa adanya industrialisasi.
English Premier League atau Liga Inggris hari ini sudah dianggap sebagai industri nasional yang secara nyata menumbuhkan ekonomi nasional Inggris.
Studi dampak ekonomi yang disusun oleh Ernst & Young (EY) untuk Premiere League menunjukkan bahwa kompetisi tersebut berkontribusi miliaran poundsterling terhadap ekonomi Inggris.
Pada musim 2023/2024, kontribusinya meningkat menjadi sekitar £9,8 miliar dengan lebih dari 100 ribu pekerjaan yang terkait langsung maupun tidak langsung dengan aktivitas liga.
Yang menarik, dampak ekonominya tidak berhenti di stadion saja. Matchday di kota-kota Inggris ikut menggerakkan hotel, restoran, transportasi, retail, hingga pariwisata lokal.
Liga sepak bola sudah dianggap sebagai rantai ekonomi yang hidup sepanjang musim dan tidak lagi berdiri sebagai hiburan akhir pekan semata.
Asia sebenarnya juga memiliki contoh yang relevan, J1 League berkembang karena kualitas kompetisinya, dan sebagaimana kita tahu, Jepang memperlakukan sepak bola sebagai bagian dari strategi ekonomi kota.
Klub tidak diposisikan sekadar sebagai tim olahraga, melainkan identitas daerah sekaligus penggerak aktivitas ekonomi lokal.
Laporan finansial Season Review 2024, J.League mencatat pendapatan operasional klub-klub J1 dan J2 mencapai sekitar 151,7 miliar yen pada tahun fiskal 2023, tumbuh dibanding tahun sebelumnya.
Pertumbuhan itu ditopang bukan hanya oleh tiket pertandingan, tetapi juga merchandise, aktivitas komersial kawasan stadion, sponsor, hingga keterlibatan komunitas lokal.
Pendekatan yang lebih agresif terlihat di Saudi Pro League. Ketika Arab Saudi mendatangkan Cristiano Ronaldo dan sejumlah pemain bintang lain.
Banyak orang menganggapnya sekadar proyek ambisius penuh gengsi. Tetapi sepak bola di sana sebenarnya sedang diposisikan sebagai instrumen ekonomi strategis.
Melalui proyek Vision 2030, Arab Saudi mencoba mengurangi ketergantungan ekonominya pada minyak.
Olahraga dijadikan alat untuk menarik investasi, memperkuat sektor pariwisata, meningkatkan nilai hak siar, dan membangun citra global baru.
Dalam konteks itu, sepak bola diperlakukan sebagai kendaraan ekonomi dan diplomasi sekaligus.
Indonesia sebenarnya memiliki modal sosial yang tidak kalah besar. Basis suporter klub lokal sangat kuat dan loyal.
Klub seperti Persib Bandung, Persija Jakarta, atau Persebaya Surabaya bahkan telah berkembang menjadi identitas sosial yang melampaui sepak bola itu sendiri.
Masalahnya, fanatisme sebesar itu belum benar-benar dikonversi menjadi ekosistem ekonomi yang matang.
Di banyak negara, satu pertandingan sepak bola dapat menghidupkan ekonomi kawasan sekitar stadion, di antaranya yaitu hotel-hotel penuh, transportasi meningkat, restoran ramai, dan perdagangan lokal bergerak.
Di Indonesia, efek ekonominya masih terbatas. Stadion sering kali hanya hidup beberapa jam saat pertandingan berlangsung, lalu kembali kosong setelahnya.
Struktur industri klub di Indonesia juga belum cukup sehat.
Banyak klub masih bergantung pada sponsor jangka pendek atau dukungan elite politik lokal, merchandise palsu lebih mudah ditemukan dibanding produk resmi, pembajakan siaran masih tinggi, dan suporter sangat loyal secara emosional tetapi “ekonomi” belum mampu menangkap loyalitas itu menjadi pendapatan yang berkelanjutan.
Di titik ini, Indonesia sebenarnya menghadapi persoalan yang lebih besar daripada sekadar kualitas liga.
Kita terlalu lama memandang sepak bola sebagai keramaian massa.
Padahal, peluang ekonominya jauh lebih luas dibanding sekadar penjualan tiket pertandingan.
Baca juga: Persib dan Seni Menjaga Sense of Belonging di Era Sepak Bola Modern
Bayangkan jika klub-klub lokal mulai membangun platform digital komunitas yang mengintegrasikan tiket, merchandise resmi, transportasi menuju stadion, kuliner lokal, hingga marketplace UMKM sekitar pertandingan.
Artinya, setiap pertandingan tidak hanya menghasilkan penonton, tetapi juga menciptakan perputaran ekonomi kota secara langsung.
Stadion pun seharusnya tidak lagi dipahami sebagai bangunan yang hidup dua minggu sekali.
Kawasan stadion bisa berkembang menjadi pusat aktivitas harian seperti festival kuliner, konser musik, pasar kreatif, atau ruang komunitas.
Jepang dan Korea sudah mulai bergerak ke arah itu, tetapi Indonesia masih tertinggal cukup jauh.
Indonesia tidak kekurangan fanatisme sepak bola. Ironisnya, loyalitas itu justru lebih sering menghidupi industri sepak bola negara lain dibanding liga domestik sendiri.
Kita rela membayar langganan untuk menonton liga Eropa setiap pekan, membeli jersey klub luar negeri dengan harga jutaan rupiah, hingga bergadang dini hari demi pertandingan yang dimainkan ribuan kilometer dari rumah kita.
Dalam posisi seperti ini, Indonesia akhirnya lebih sering berperan sebagai pasar konsumsi global.
Baca juga: Seni Mikel Arteta bersama Arsenal
Kita menjadi penonton yang setia, sementara negara lain dengan mudah menjual produk sepak bolanya ke kita.
Yang belum dimiliki adalah keberanian untuk memperlakukan sepak bola sebagai sektor ekonomi yang serius.
Selama sepak bola hanya dipelihara sebagai euforia tribune, sementara negara lain sibuk membangun industrinya, kita akan tetap menjadi pasar besar yang ramai menonton tetapi terlambat menyadari bahwa permainan ini sebenarnya bernilai triliunan rupiah.
Tag: #indonesia #menonton #sepak #bola #negara #lain #menjualnya