Serangan Rantai Pasokan Jadi Ancaman Siber Terbesar 2025, Perusahaan Asia Pasifik Wajib Waspada
ilustrasi serangan siber. (unsplash/Rohan)
15:24
23 Maret 2026

Serangan Rantai Pasokan Jadi Ancaman Siber Terbesar 2025, Perusahaan Asia Pasifik Wajib Waspada

Laporan terbaru dari Kaspersky mengungkap bahwa serangan rantai pasokan (supply chain attack) menjadi salah satu ancaman paling dominan yang dihadapi perusahaan global, termasuk di kawasan Asia Pasifik sepanjang 2025.

Data menunjukkan, hampir 1 dari 3 perusahaan di dunia (31 persen) telah terdampak serangan ini dalam 12 bulan terakhir, yang menjadikannya ancaman paling umum dibanding jenis serangan siber lainnya.

Asia Pasifik Jadi Target Empuk Serangan Siber

Di kawasan Asia Pasifik, intensitas serangan bahkan lebih tinggi di beberapa negara. China mencatat angka tertinggi dengan 40 persen perusahaan terdampak, disusul Vietnam (34 persen), India (29 persen), Singapura (26 persen), dan Indonesia (20 persen).

Menurut World Economic Forum, sebanyak 65 persen perusahaan besar menganggap kerentanan rantai pasokan dan pihak ketiga sebagai hambatan utama dalam menjaga ketahanan siber mereka.

Perusahaan Besar Lebih Rentan

Perusahaan besar menjadi target utama karena kompleksitas ekosistem digitalnya. Rata-rata, perusahaan besar mengelola hingga 100 pemasok teknologi dan lebih dari 130 kontraktor, membuka banyak celah bagi peretas.

Kondisi ini memicu meningkatnya serangan hubungan tepercaya (trusted relationship attack), di mana hacker mengeksploitasi koneksi resmi antar organisasi.

Secara global, serangan ini telah menyerang sekitar 25 persen perusahaan, dengan Singapura menjadi negara paling terdampak di Asia Pasifik.

Ancaman Sering Diremehkan Perusahaan

Ironisnya, meski sering terjadi, banyak perusahaan justru meremehkan ancaman ini. Hanya 9 persen bisnis global yang menganggap serangan rantai pasokan sebagai prioritas utama keamanan mereka.

Padahal, dampaknya bisa langsung mengganggu operasional bisnis secara signifikan.

Kepala Pusat Operasi Keamanan di Kaspersky, Sergey Soldatov, menegaskan pentingnya pendekatan keamanan yang lebih luas.

“Kami beroperasi dalam ekosistem digital di mana setiap koneksi, setiap pemasok, dan setiap integrasi menjadi bagian dari profil keamanan kami. Melindungi perusahaan modern membutuhkan pendekatan ekosistem, bukan hanya sistem individual,” ujarnya dalam keterangan resminya, Senin (23/3/2026).

Sementara itu, Managing Director Asia Pasifik Kaspersky, Adrian Hia, menyoroti adanya kesenjangan antara persepsi dan realitas risiko.

“Persepsi risiko tidak selalu sebanding dengan kerentanan aktual. Kesalahan dalam menilai risiko ini dapat menghambat investasi keamanan siber yang memadai,” jelasnya.

Ancaman siber sepanjang 2025. [Kaspersky]Ancaman siber sepanjang 2025. [Kaspersky]

Tantangan Baru di Era Ekosistem Digital

Dengan semakin terhubungnya sistem bisnis, serangan rantai pasokan berpotensi menimbulkan efek domino lintas industri dan negara.

Para pakar menilai, perusahaan yang ingin tetap kompetitif harus mulai memperkuat pertahanan siber secara menyeluruh, tidak hanya pada sistem internal, tetapi juga seluruh jaringan mitra dan pemasok.

Di era digital saat ini, keamanan bukan lagi sekadar proteksi, melainkan fondasi utama keberlangsungan bisnis.

Editor: Dythia Novianty

Tag:  #serangan #rantai #pasokan #jadi #ancaman #siber #terbesar #2025 #perusahaan #asia #pasifik #wajib #waspada

KOMENTAR