Ketika Iran Setop Pakai GPS, Beralih ke Sistem Navigasi China
Ilustrasi satelit GPS mengorbit bumi.(iStockphoto/aapsky)
06:09
15 April 2026

Ketika Iran Setop Pakai GPS, Beralih ke Sistem Navigasi China

– Iran dilaporkan telah meninggalkan sistem navigasi satelit berbasis Amerika Serikat (AS), yakni Global Positioning System (GPS), dan beralih menggunakan sistem navigasi milik China yang dikenal sebagai BeiDou Navigation Satellite System.

Sebagai informasi, sistem navigasi satelit selain GPS dan BeiDou, sistem navigasi global lain yang tersedia saat ini adalah GLONASS milik Rusia dan Galileo yang dikembangkan Uni Eropa.

Kabar Iran mengadopsi BeiDou pertama kali diungkap oleh media analisis geopolitik, National Herald.

Sebelumnya pada Juli 2025 lalu, saat terjadi ketegangan dengan Israel, pejabat Kementerian Komunikasi Iran mengonfirmasi bahwa pemerintah sedang mempertimbangkan alternatif GPS seperti BeiDou.

"Republik Islam berencana mengejar opsi alternatif seperti sistem BeiDou milik China, yang telah menjadi salah satu poin utama dalam perjanjian kerja sama jangka panjang yang sedang dinegosiasikan antara Teheran dan Beijing," kata Wakil Menteri Komunikasi Iran, Ehsan Chitsaz, kepada surat kabar Ham-Mihan.

Dilaporkan situs berita Iran International, pejabat Iran saat itu juga mengatakan gangguan GPS dan konflik keamanan mendorong negara tersebut mencari sistem navigasi alternatif dari China.

Baca juga: Menelusuri Jejak Hacker Iran yang Senyap Usai Serangan AS-Israel

Salah satu alasan utama Iran beralih ke BeiDou adalah kekhawatiran bahwa GPS berada di bawah kendali militer AS. Dalam kondisi konflik, akses terhadap sinyal navigasi tersebut secara teori dapat dibatasi atau diganggu.

Beberapa laporan pertahanan menyebut Iran telah mengintegrasikan BeiDou-3 ke sistem militer tertentu, termasuk drone dan rudal, untuk mengurangi ketergantungan pada GPS.

Integrasi ini disebut membantu Iran mengatasi jamming GPS dalam konflik, karena BeiDou diklaim memiliki fitur anti-jamming dan sinyal militer terenkripsi.

Iran sendiri dilaporkan beberapa kali mengalami gangguan navigasi berbasis GPS dalam beberapa tahun terakhir, terutama di kawasan Teluk dan wilayah yang terdampak ketegangan militer di Timur Tengah, dikutip KompasTekno dari National Herald.

Bunker bawah tanah yang dipenuhi deretan drone Shahed milik Iran dipaemerkan oleh televisi Iran Fars setelah serangan AS dan Israel dalam operasi gabungan pada Sabtu (28/2/2026).TELEGRAM FarsNA via NEW YORK POST Bunker bawah tanah yang dipenuhi deretan drone Shahed milik Iran dipaemerkan oleh televisi Iran Fars setelah serangan AS dan Israel dalam operasi gabungan pada Sabtu (28/2/2026).

Walau sebagian besar drone dan rudal militer modern menggunakan sinyal GPS terenkripsi yang hanya diperuntukkan bagi militer, beberapa drone pengintai serta bom atau rudal berpemandu masih mengandalkan sinyal GPS terbuka yang tidak terenkripsi, sehingga rentan terhadap gangguan.

Teheran sendiri merasakan gangguan tersebut lebih parah dibandingkan wilayah lain. Aplikasi navigasi domestik seperti Balad dan Neshan, serta aplikasi internasional seperti Waze, dilaporkan menampilkan peta yang keliru atau menempatkan pengguna di lokasi yang salah seperti di Eropa, Kanada, atau Afrika ketika sinyal sedang terganggu.

Dengan menggunakan BeiDou, Iran berharap dapat memiliki sistem navigasi yang lebih independen serta tidak bergantung pada infrastruktur teknologi yang dikendalikan oleh negara Barat.

Secanggih apa BeiDou?

Sistem BeiDou saat ini dioperasikan oleh China dengan jaringan lebih dari 40 satelit yang mengorbit Bumi. Sistem ini resmi beroperasi secara global sejak 2020.

Baca juga: Saat Tentara AS Minta Tolong AI Claude Anthropic buat Serang Iran…

Sistem BeiDou menawarkan sejumlah kemampuan navigasi yang serupa dengan GPS, termasuk penentuan posisi, navigasi, dan sinkronisasi waktu.

Selain itu, sistem ini juga menyediakan sinyal dengan tingkat akurasi tinggi serta layanan komunikasi pesan singkat melalui satelit.

Dalam layanan sipil, akurasi BeiDou dilaporkan berada pada kisaran beberapa meter, sementara layanan presisi tinggi dapat mencapai tingkat sentimeter dengan bantuan stasiun darat tambahan.

Kemampuan tersebut dinilai dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, mulai dari navigasi transportasi, logistik, hingga sistem militer seperti pengoperasian drone atau sistem senjata presisi.

Peralihan Iran ke sistem BeiDou juga dianggap sebagai bagian dari dinamika persaingan teknologi global, di mana sejumlah negara mulai mencari alternatif terhadap infrastruktur digital yang didominasi Amerika Serikat.

Dalam beberapa tahun terakhir, China aktif mempromosikan penggunaan BeiDou di berbagai negara mitra, termasuk di kawasan Asia, Afrika, dan Timur Tengah.

Tag:  #ketika #iran #setop #pakai #beralih #sistem #navigasi #china

KOMENTAR