Muncul Kelompok Garis Keras yang Ingin Gagalkan Kesepakatan AS-Iran
Warga Iran mengibarkan bendera negara saat menghadiri pemakaman para komandan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) yang tewas dalam serangan Amerika Serikat-Israel, di Lapangan Enghelab, Teheran, 11 Maret 2026.(AFP/ATTA KENARE)
13:54
10 Mei 2026

Muncul Kelompok Garis Keras yang Ingin Gagalkan Kesepakatan AS-Iran

- Saat negosiasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran memasuki tahap kritis, sebuah faksi garis keras telah berupaya menyabotase kesepakatan potensial dengan Washington.

Kelompok tersebut memiliki pandangan kesepakatan nuklir antara Iran dan kekuatan global pada 2015 adalah sebuah kesalahan, dan tidak ingin hal itu terulang lagi.

Ketika para pemimpin Iran memproyeksikan persatuan dalam menghadapi ancaman, kelompok ultra-garis keras telah meningkatkan upaya di media, parlemen, dan jalanan untuk mengadvokasi penolakan terhadap kesepakatan dengan AS.

Alasannya, karena hanya dengan mengalahkan Washington, Iran dapat mengamankan kesepakatan yang menguntungkan.

Baca juga: Iran Putar Otak Hadapi Blokade AS, Jalur Kereta China Jadi Penyelamat


Kelompok revolusioner super

Dikenal sebagai Jebhe-ye Paydari (Front Ketahanan) para anggotanya sering digambarkan oleh para pengamat sebagai “Revolusioner Super”.

Mereka memandang dirinya sebagai penjaga nilai-nilai revolusi 1979 yang menggulingkan Shah yang pro-Barat sebelum memberlakukan rezim otoriter.

“Mereka memandang perlawanan terhadap Amerika Serikat dan Israel sebagai perjuangan abadi,” kata Hamidreza Azizi, peneliti tamu di Institut Jerman untuk Urusan Internasional dan Keamanan, kepada CNN dilansir Sabtu (9/5/2026).

Baca juga: Putin Tawarkan Bantuan, Sebut Rusia Siap Angkut Uranium Iran

“Mereka percaya pada negara dan ideologinya yang perlu terus ada hingga akhir zaman, serta cukup fanatik dalam hal ideologi keagamaan.” lanjut dia.

Munculnya kelompok tersebut menjadi salah satu kekuatan paling vokal yang menentang upaya Teheran mendekati AS selama dua bulan terakhir.

Ini memberikan gambaran tentang perebutan kekuasaan yang membentuk Iran pasca-Ali Khamenei, pemimpin tertinggi yang terbunuh di hari pertama perang.

Dengan Teheran yang tengah terlibat dalam negosiasi perdamaian yang berisiko tinggi, hasilnya dapat menentukan faksi mana yang akan mendominasi pada fase berikutnya di Iran.

Baca juga: Iran Punya Jalur Perairan Strategis Lain, Hampir Mustahil Diintervensi AS

Sangat vokal dalam mengkritik para negosiator Iran

Suasana menjelang negosiasi Amerika Serikat dan Iran di Islamabad, Pakistan, Sabtu (11/4/2026).AFP/POOL/JACQUELYN MARTIN Suasana menjelang negosiasi Amerika Serikat dan Iran di Islamabad, Pakistan, Sabtu (11/4/2026).

Sebulan terakhir, para pejabat Iran telah berupaya menyeimbangkan negosiasi dengan AS secara hati-hati, sambil menenangkan faksi-faksi di lanskap politik negara, termasuk kelompok Paydari.

Keikutsertaan anggota kelompok ini dalam pembicaraan dengan para negosiator Washington di Pakistan bulan lalu menunjukkan Teheran tengah menampilkan kohesi internal.

Namun demikian, kelompok Paydari semakin vokal di dalam negeri dalam mengkritik para negosiator.

Sejumlah ahli mengatakan bahwa itulah yang mendorong Trump kemudian pada bulan lalu menggambarkan kepemimpinan Iran "terpecah belah" dan "kacau".

Para pemimpin Iran, termasuk Pemimpin Tertinggi baru, Mojtaba Khamenei, telah mengeluarkan pernyataan yang menunjukkan persatuan merespons pernyataan Trump.

Baca juga: Pertama Kali, Iran Ungkap Kondisi Mojtaba Khamenei secara Rinci

Para negosiator dituduh keluar dari jalur

Kelompok garis keras ini seolah menabur perpecahan, menuduh para negosiator tidak setia kepada Iran dan membangkang dari garis merah Khamenei dalam negosiasi, termasuk setiap diskusi tentang program nuklir Iran.

Banyak anggota kelompok tersebut menganggap bahwa mempertimbangkan kesepakatan dengan AS merupakan bentuk penyerahan diri.

“Mereka (AS) menyadari bahwa membunuh para pemimpin, komandan, dan orang-orang terkasih kami tidak merugikan mereka sama sekali,” demikian bunyi sebuah artikel yang mengkritik perundingan di Raja News, yang mewakili Front Paydari.

Baca juga: Demi Lawan Iran, Israel Bangun Pangkalan Militer Rahasia di Irak

“Mereka memahami bahwa meskipun mereka membunuh Imam kami (Ali Khamenei), masih ada kelompok di sini yang bersedia bernegosiasi, berjabat tangan dengan Witkoff, Vance, dan Kushner, serta tersenyum kepada para pembunuh Imam kami yang gugur.”

Jebhe-ye Paydari dipandang sangat radikal sehingga bahkan kelompok garis keras dalam kalangan konservatif Iran pun menganggapnya sebagai kelompok pinggiran.

Meskipun demikian, anggotanya ada di beberapa pusat kekuasaan paling berpengaruh di Iran dan kelompok ini memiliki tokoh-tokoh senior di media Iran.

Termasuk politisi top yang pernah menjadi kandidat presiden terkemuka dan otoritas agama yang telah memberikan pengaruh terhadap para pemimpin tertinggi di masa lalu.

Tag:  #muncul #kelompok #garis #keras #yang #ingin #gagalkan #kesepakatan #iran

KOMENTAR