Fenomena Baru di China, Live Shopping 24 Jam Nonstop tapi Kreatornya Bukan Manusia
Di China, muncul fenomena baru ketika para kreator mulai membuat ?kloning? diri mereka dalam bentuk avatar AI. Tak cuman mirip, avatar AI ini bahkan bisa siaran langsung dan berjualan tanpa henti selama 24 jam.(Sixth Tone)
09:36
24 April 2026

Fenomena Baru di China, Live Shopping 24 Jam Nonstop tapi Kreatornya Bukan Manusia

- Di China, muncul fenomena baru. Banyak kreator melakukan live shopping tanpa henti selama 24 jam. 

Namun, kreator yang melakukan live bukan lah manusia, melainkan avatar AI. Avatar AI tersebut merupakan "kloning" para kreator asli.

Dalam video yang viral di media sosial seperti di link berikut ini, terlihat seorang kreator tetap bisa menjalankan live shopping meski tidak benar-benar tampil aktif.

Ia hanya berada di depan greenscreen dengan pencahayaan sederhana, bahkan tanpa banyak ekspresi atau berbicara. Namun, tampilan di layar penonton justru berbeda jauh. Avatar AI miliknya tampil rapi, ekspresif, dan penuh energi.

“Versi digital” ini bisa berbicara, menjelaskan produk, hingga merespons audiens layaknya manusia sungguhan.

Baca juga: Video Viral Drone Antar Makanan ke Tembok Besar China, Ongkir Cuma Rp 10.000

Fenomena ini bukan sekadar eksperimen. Di China, penggunaan avatar AI untuk live commerce sudah berkembang pesat dan mulai menunjukkan dampak nyata.

Salah satu contohnya datang dari kreator populer Luo Yonghao yang berkolaborasi dengan perusahaan teknologi Baidu.

Dalam sesi live streaming menggunakan avatar AI selama lebih dari enam jam, penjualan yang dihasilkan mencapai 55 juta yuan atau Rp 930,3 miliar pada 2025 lalu.

Angka ini bahkan lebih tinggi dibanding sesi live sebelumnya yang ia lakukan secara langsung tanpa bantuan AI.

Influencer asal Tiongkok, Luo Yonghao, dan rekan pembawa acaranya, Xiao Mu, mencoba siaran langsung pada hari Minggu, 15 Juni 2025, menggunakan avatar digital interaktif yang didasarkan pada model kecerdasan buatan generatif Baidu.via CNBC Influencer asal Tiongkok, Luo Yonghao, dan rekan pembawa acaranya, Xiao Mu, mencoba siaran langsung pada hari Minggu, 15 Juni 2025, menggunakan avatar digital interaktif yang didasarkan pada model kecerdasan buatan generatif Baidu.

Avatar digital tersebut dibuat dengan melatih model AI menggunakan data video selama bertahun-tahun, sehingga mampu meniru gaya bicara, ekspresi, hingga karakter khas sang kreator.

Tren ini sebenarnya sudah mulai muncul beberapa tahun terakhir dan kini berkembang sangat cepat.

Data dari basis bisnis China menunjukkan ada lebih dari 993.000 perusahaan yang bergerak di bidang avatar digital, dengan lebih dari 400.000 di antaranya baru berdiri dalam beberapa tahun terakhir.

Pada festival belanja online “618” (18 Juni), lebih dari 5.000 brand diketahui menggunakan avatar AI untuk live streaming. Siaran ini ditonton lebih dari 100 juta kali dan menghasilkan lebih dari 5 juta interaksi dari pengguna.

Baca juga: Jensen Huang: China Bisa Ancam Dominasi Teknologi AS

Secara industri, dampaknya juga tidak kecil. Pada 2023, avatar digital diestimasikan sudah menghasilkan pendapatan lebih dari 333 miliar yuan (setara Rp 5.633 triliun) di China.

Angka ini diprediksi melonjak hingga 640 miliar yuan atau sekitar Rp 10.826,2 triliun pada 2025.

Dalam video yang viral di media sosial seperti di link ini, terlihat seorang kreator tetap bisa menjalankan live shopping meski tidak benar-benar tampil aktif. 
Instagram/ thedeepview.co Dalam video yang viral di media sosial seperti di link ini, terlihat seorang kreator tetap bisa menjalankan live shopping meski tidak benar-benar tampil aktif.

Keunggulan utama teknologi ini ada pada efisiensi. Berbeda dengan manusia, avatar AI tidak membutuhkan istirahat dan bisa siaran tanpa henti.

Hal ini memungkinkan kreator dan brand tetap berjualan sepanjang hari tanpa harus terus berada di depan kamera.

Selain itu, penggunaan avatar AI juga memangkas biaya produksi. Tidak perlu lagi studio besar, kru lengkap, atau persiapan panjang. 

Namun, di balik potensinya, penggunaan avatar AI juga memunculkan tantangan.

Sebagian pengguna menilai interaksinya masih terasa kaku dan belum sepenuhnya natural. Ada pula kekhawatiran soal transparansi, karena tidak semua penonton bisa membedakan apakah yang tampil adalah manusia atau AI.

Baca juga: Polri Gerebek Gudang HP Ilegal dari China, Sita 76.756 Unit iPhone dan Ponsel Android

Regulasi pun mulai diterapkan. Platform seperti Douyin (TikTok versi China besutan ByteDance) kini mengharuskan kreator memberi label jika menggunakan avatar AI, serta memastikan tetap ada pengawasan manusia selama siaran berlangsung.

Meski masih terus berkembang, tren ini menunjukkan arah baru industri kreator digital. Dengan bantuan AI, seorang kreator kini bisa “hadir” di banyak tempat sekaligus, bahkan tetap berjualan meski tidak benar-benar sedang online, sebagaimana dihimpun KompasTekno dari SixthTone dan CNBC.

Tag:  #fenomena #baru #china #live #shopping #nonstop #tapi #kreatornya #bukan #manusia

KOMENTAR