Dari Generatif ke Agentic AI, Ini Arah Baru Teknologi AI
Gavin Barfield dalam media brifing Agenforce World Tour Jakarta 2026 yang dihelat di hotel Ritz Carlton Pacific Place, Jakarta Selatan, Kamis (23/4/2026).(Kompas.com/Lely Maulida)
14:36
24 April 2026

Dari Generatif ke Agentic AI, Ini Arah Baru Teknologi AI

- Agentic AI menjadi topik hangat belakangan ini. Sejumlah perusahaan kecerdasan buatan seperti OpenAI dan Anthropic juga berlomba menghadirkan layanan agen AI, termasuk untuk membantu coding hingga menemukan celah keamanan penting perusahaan.

Menurut Gavin Barfield, VP & CTO Solution Salesforce ASEAN, agentic AI merupakan perkembangan AI yang bukan sekadar evolusi teknologi, melainkan revolusi yang akan mengubah cara pandang perusahaan beroperasi dan berinteraksi dengan pelanggan.

Sebab, agentic AI tidak hanya mampu menghasilkan konten, melainkan juga mengambil tindakan secara mandiri (autonomous) dalam proses bisnis.

Baca juga: Survei Salesforce: 70 Persen Karyawan di Indonesia Lebih Percaya Diri Kerja Pakai AI

"Saya kira agentic AI bukan evolusi, ini adalah revolusi teknologi. Bila kita melihat ke masa depan, AI dan agentik AI akan mengubah segalanya, mulai dari bagaimana kita berinteraksi dengan pelanggan, hingga kehidupan kita sehari-hari," kata Barfield dalam media briefing Agentforce World Tour Jakarta 2026 yang dihelat di hotel Ritz Carlton Pacific Place, Jakarta Selatan, Kamis (23/4/2026).

Tiga fase perkembangan AI

Secara umum Barfield memaparkan bahwa perkembangan AI terbagi dalam tiga fase utama.

Fase pertama adalah predictive AI, yang memanfaatkan data historis untuk memprediksi kejadian di masa depan, seperti perilaku pelanggan.

Fase kedua yaitu generative AI, yang populer dalam beberapa tahun terakhir melalui kehadiran chatbot dan large language model (LLM) atau model AI. Pada fase ini, AI sudah mampu menghasilkan konten seperti teks, gambar, hingga video.

Namun, menurut Gavin, banyak implementasi generative AI masih berhenti di tahap uji coba dan belum memberikan dampak bisnis nyata.

Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, seperti kualitas data yang belum optimal, tidak terintegrasi dalam alur kerja, serta belum mampu mengeksekusi tugas secara langsung.

“AI generatif membantu membuat konten, tetapi belum benar-benar melakukan pekerjaan,” ujarnya.

Memasuki fase ketiga, yakni agentic AI yang tidak hanya memberi rekomendasi, tetapi juga dapat menjalankan tugas secara otomatis.

Gavin lantas memberikan analogi sederhana terkait perbedaan AI generatif dengan agentic AI lewat sistem navigasi GPS di mobil otonom.

Jika generative AI seperti GPS mampu memberi petunjuk arah, maka menurut Gavin, agentic AI lebih menyerupai mobil tanpa pengemudi yang mampu mengambil alih kendali dan menjalankan tugas secara langsung.

Baca juga: Perplexity Rilis AI Agent “Computer”, Pesaing OpenClaw Versi Lebih Aman

Sebagai perusahaan teknologi, Salesforce juga mengembangkan layanan agentic AI lewat "Agentforce". Layanan ini mengintegrasikan berbagai komponen, mulai dari model AI (LLM), lapisan kepercayaan (trust layer), hingga sistem data dan aplikasi bisnis.

Salah satu komponen penting dalam Agenforce yakni data yang diklaim berkualitas tinggi untuk menjadi fondasi AI. Sebab, menurut Gavin, tanpa data yang akurat dan relevan, AI tidak dapat menghasilkan output yang optimal.

Di Agenforce, Salesforce mengandalkan pendekatan “Data360” yang menggabungkan data terstruktur dan tidak terstruktur, seperti transaksi pelanggan, dokumen, e-mail, hingga percakapan internal, guna memberikan konteks yang lebih kaya bagi AI.

Ilustrasi Data 360, pendekatan Agenforce yang menggabungkan data terstruktur dan tidak terstruktur, seperti transaksi pelanggan, dokumen, e-mail, hingga percakapan internal, guna memberikan konteks yang lebih kaya bagi AI.Kompas.com/Lely Maulida Ilustrasi Data 360, pendekatan Agenforce yang menggabungkan data terstruktur dan tidak terstruktur, seperti transaksi pelanggan, dokumen, e-mail, hingga percakapan internal, guna memberikan konteks yang lebih kaya bagi AI.

“AI yang cerdas bukan hanya soal data, tapi soal konteks. Seperti karyawan berpengalaman yang memahami bisnis secara menyeluruh, tentu akan lebih unggul dalam hal konteks ketimbang karyawan baru,” beber Gavin.

Di Agenforce, Salesforce juga menekankan pentingnya aspek keamanan dan kepercayaan. Melalui trust layer, sistem keamanan pada agen AI ini akan memastikan data sensitif seperti informasi pribadi tetap terlindungi, sekaligus meminimalisasi risiko kesalahan AI seperti halusinasi.

Baca juga: Salesforce Rilis Agentforce 3, Tingkatkan Kontrol Agen AI Perusahaan

Dalam praktiknya, agentic AI diintegrasikan langsung ke dalam berbagai aplikasi bisnis Salesforce, mulai dari penjualan, layanan pelanggan, hingga pemasaran. Teknologi ini diklaim tidak lagi menjadi fitur tambahan, melainkan tertanam langsung dalam sistem kerja perusahaan.

Salesforce juga mengembangkan ekosistem terbuka dengan mendukung berbagai model AI dari penyedia lain seperti OpenAI, Anthropic, hingga Google, serta integrasi dengan platform seperti AWS dan Databricks.

Untuk interaksi pengguna, Salesforce mengandalkan platform kolaborasi Slack sebagai pusat aktivitas kerja sekaligus antarmuka utama bagi agen AI. Melalui fitur seperti Slackbot, pengguna dapat mengakses informasi penting dan rekomendasi bisnis secara instan berbasis data perusahaan.

Tag:  #dari #generatif #agentic #arah #baru #teknologi

KOMENTAR