Fenomena Kirim Video Cuci Piring Bisa Dapat Uang, Pahami Potensi dan Risikonya Sebelum Ikutan
Robot bernama LG CLOiD ini dirancang sebagai asisten rumah tangga yang mampu melakukan berbagai pekerjaan domestik, mulai dari melipat baju, mencuci piring, hingga menyajikan makanan. (LG Electronics)
11:21
23 Mei 2026

Fenomena Kirim Video Cuci Piring Bisa Dapat Uang, Pahami Potensi dan Risikonya Sebelum Ikutan

- Profesi AI trainer atau pelatih kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) belakangan mulai ramai dibicarakan di media sosial.

Salah satu yang viral adalah video seseorang merekam aktivitas mencuci piring demi mendapatkan bayaran dollar AS dari perusahaan AI.

Sekilas memang terlihat seperti pekerjaan rumah tangga biasa. Namun ternyata, aktivitas tersebut dipakai untuk membantu melatih AI, khususnya robot humanoid, agar memahami gerakan manusia di dunia nyata.

Fenomena ini ramai setelah pengguna Instagram bernama Itha Siburian Pandjaitan membagikan pengalamannya dibayar merekam aktivitas mencuci piring untuk perusahaan AI Mindrift.

Baca juga: Viral Orang Dibayar Bikin Video Cuci Piring, Ternyata untuk Latih AI

Dari situ, warganet Indonesia pun mulai tertarik dan bertanya-tanya soal pekerjaan ini. Namun sebelum langsung masuk ke dunia AI trainer, masyarakat sebaiknya memahami dulu potensi sekaligus risikonya.

AI buka peluang kerja baru

Intern Figure AI bernama Aime (kiri) berhasil unggul tipis dari robot humanoid F.03 (kanan) dalam kompetisi adu cepat menyortir paket yang disiarkan secara langsung.X @CernBasher Intern Figure AI bernama Aime (kiri) berhasil unggul tipis dari robot humanoid F.03 (kanan) dalam kompetisi adu cepat menyortir paket yang disiarkan secara langsung.

Pakar keamanan siber dari Vaksincom, Alfons Tanujaya mengatakan tren seperti ini muncul karena AI kini membutuhkan data dari dunia nyata.

“Selama ini, kecerdasan buatan "diberi makan" dengan data digital yang sudah ada. Tetapi sekarang mereka perlu data dari dunia nyata,” kata Alfons dalam wawancara dengan KompasTekno, Jumat (23/5/2026).

Menurut Alfons, fenomena AI trainer memperlihatkan bahwa AI tidak cuma menggeser pekerjaan manusia, tetapi juga membuka peluang profesi baru.

Di tengah kondisi ekonomi yang sulit dan makin mahalnya biaya hidup, pekerjaan seperti AI trainer bahkan mulai dilihat sebagian orang sebagai side hustle baru.

Platform-platform seperti Mindrift, Outlier AI, Toloka, Scale AI, hingga DataAnnotation kini menawarkan berbagai jenis pekerjaan pelatihan AI secara remote.

Sejumlah platform tersebut umumnya merekrut pekerja lepas untuk membantu melatih model AI dari perusahaan teknologi besar.

Baca juga: Anak Magang Kalahkan Robot Humanoid AI dalam Adu Sortir Paket

Tugas yang diberikan pun beragam, mulai dari menulis artikel, memberi penilaian pada jawaban AI, melatih AI coding, hingga merekam aktivitas fisik (seperti mencuci piring, memasak, melipat pakaian, menyapu rumah, dll) untuk robot humanoid.

Bayarannya juga cukup menggiurkan. CBS News melaporkan rata-rata AI trainer dibayar sekitar 105 dollar AS per jam atau sekitar Rp 1,7 juta.

Untuk bidang spesifik seperti psikiatri, bayarannya bahkan bisa mencapai 350 dollar AS per jam atau sekitar Rp 5,7 juta.

Menurut Alfons, perusahaan AI memang sedang berlomba mengumpulkan data pelatihan sebanyak mungkin demi meningkatkan kemampuan AI mereka.

“Semua ingin mendapatkan kontrak dari perusahaan AI besar. Mereka perlu banyak kontributor, banyak sampel, banyak jaringan,” ujar Alfons.

Hati-hati pencurian data pribadi dan diminta uang

Ilustrasi penipuan.DOK. Shutterstock/Rawpixel.com. Ilustrasi penipuan.

Meski menawarkan peluang baru, Alfons mengingatkan ada sejumlah risiko yang perlu diwaspadai sebelum ikut pekerjaan AI trainer.

Salah satu risiko terbesar adalah penyalahgunaan data pribadi. Menurut Alfons, masyarakat perlu benar-benar memastikan platform atau perusahaan perekrut AI trainer memang terpercaya.

“Jangan sampai Anda menjadi korban orang yang mengaku mencari jasa pelatihan AI, padahal tujuannya mendapatkan data pribadi kontributornya,” kata Alfons.

Baca juga: Viral Profesor Palsu Buatan AI, Dipakai Anak Muda untuk “Melawan” Orangtua

Ia menyarankan masyarakat melakukan riset terlebih dahulu sebelum memberikan data pribadi atau bergabung ke platform tertentu.

Selain itu, Alfons juga mengingatkan masyarakat agar waspada terhadap lowongan AI trainer yang meminta uang pendaftaran, investasi, atau setoran awal.

“Kalau untuk menerima uang malah harus keluar uang dulu, itu namanya penipuan,” ujar Alfons.

Menurut Alfons, di tengah kondisi ekonomi yang sulit, modus seperti ini makin rawan muncul karena banyak orang sedang mencari tambahan penghasilan.

Karena itu, Alfons mengingatkan masyarakat jangan mudah percaya pada lowongan yang meminta setoran uang dengan janji penghasilan besar.

“Makin putus asa Anda mencari kerja, mereka akan menipu Anda,” kata dia.

Risiko lain yang juga perlu diperhatikan adalah soal keamanan aktivitas pribadi yang direkam. Menurut Alfons, jangan sampai video yang dibagikan justru membuka celah kejahatan.

Misalnya, aktivitas yang terlalu detail bisa membuat orang lain mengetahui lokasi persis rumah, kebiasaan penghuni rumah, kondisi keamanan rumah, hingga jam-jam tertentu saat rumah kosong.

AI bisa menggantikan pekerjaan pelatihnya sendiri

Ilustrasi teknologi AI (Artificial Intelligence). Gempuran AI membuat peluang kerja bagi lulusan baru semakin ketat. Intip strategi agar fresh graduate tetap kompetitif di pasar kerja.Shutterstock Ilustrasi teknologi AI (Artificial Intelligence). Gempuran AI membuat peluang kerja bagi lulusan baru semakin ketat. Intip strategi agar fresh graduate tetap kompetitif di pasar kerja.

Selain risiko keamanan, Alfons juga menyoroti ironi di balik pekerjaan AI trainer. Menurut dia, AI pada akhirnya bisa mempelajari pekerjaan manusia sampai titik tertentu, lalu menggantikan pekerjaan tersebut.

“Sekali AI mendapatkan data, dia tidak perlu lagi,” ujar Alfons.

Setelah AI mampu melakukan pekerjaan tersebut, sebagian pekerja kemudian tidak lagi dibutuhkan. Meski begitu, Alfons menilai fenomena ini sulit dihindari.

“Kalau Anda tidak mau kasih data, orang lain mau kasih. Itu inevitable, tidak terhindarkan,” kata dia.

Karena itu, menurut Alfons, yang paling penting adalah masyarakat memahami konsekuensinya sejak awal dan tetap berhati-hati sebelum bergabung ke pekerjaan pelatihan AI.

Tag:  #fenomena #kirim #video #cuci #piring #bisa #dapat #uang #pahami #potensi #risikonya #sebelum #ikutan

KOMENTAR