Di Tengah PHK Massal, Paus Leo XIV Kritik Ambisi Perusahaan Mendominasi AI
Paus Leo XIV menolak ajakan Presiden AS Donald Trump bergabung dengan Dewan Perdamaian.(Instagram/pontifex)
17:51
26 Mei 2026

Di Tengah PHK Massal, Paus Leo XIV Kritik Ambisi Perusahaan Mendominasi AI

- Pemimpin tertinggi Gereja Katolik Roma saat ini, Paus Leo XIV melayangkan kritik pada berbagai aktor, termasuk perusahaan teknologi, yang berambisi untuk mendominasi teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).

Menurutnya, ambisi itu muncul karena didorong keinginan untuk mengamankan kepentingan bisnis atau geopolitik. Ia menggambarkan ambisi atau mentalitas untuk mendominasi AI merupakan “senjata” yang akan merugikan umat manusia sehingga perlu dilucuti.

Baca juga: Atas Nama AI, Puluhan Ribu Karyawan Dipecat Perusahaan-perusahaan Ini

“Melucuti senjata (ambisi dominasi AI) berarti menolak asumsi bahwa kekuasaan atas teknologi secara otomatis memberikan hak untuk memerintah. Melucuti senjata bukan berarti menolak teknologi, tetapi mencegahnya mendominasi umat manusia,” kata Paus Leo XIV.

Kritik ini disampaikan Paus Leo XIV dalam pesan pastoral atau ensiklik bertajuk “Magnifica Humanitas” yang diterbitkan pada Senin kemarin (25/5/2026), di tengah kondisi para pekerja di industri teknologi yang sedang tidak baik-baik saja.

Pope Leo XIV resmi merilis ensiklik pertama bertajuk ?Magnifica Humanitas? atau ?Magnificent Humanity? di Vatikan, pada Senin (25/5/2026) waktu setempat. CNS/Lola Gomez Pope Leo XIV resmi merilis ensiklik pertama bertajuk ?Magnifica Humanitas? atau ?Magnificent Humanity? di Vatikan, pada Senin (25/5/2026) waktu setempat.

Sebagaimana yang terjadi belakangan, puluhan ribu karyawan secara global di perusahaan teknologi mengalami pemecatan hubungan kerja (PHK). PHK massal ini terjadi tak lain karena ambisi perusahaan untuk jadi yang terdepan dalam AI.

Kritik Paus Leo XIV soal gagasan dan praktik AI hari ini

Dalam ensiklik sepanjang lebih dari 42.000 kata yang secara umum membahas tentang kemanusiaan di era AI itu, Paus Leo XIV membaca terdapat gagasan dan praktik dari berbagai aktor dalam membangun AI yang mengkhawatirkan umat manusia.

Ia meyakini bahwa AI tidak bisa cuma dipandang sebagai alat. Di balik AI, terdapat gagasan yang menyertainnya. Teknologi terkini seperti AI telah didominasi dengan gagasan teknokratis yang mengutamakan efisiensi, kontrol, dan keuntungan semata.

Menurut Paus Leo XIV, dengan gagasan yang mendominasi AI itu, manusia akan dikorbankan untuk mengejar efisiensi yang lebih besar.

“Ketika teknologi menjadi standar yang digunakan untuk menilai segala sesuatu, teknologi mulai mendikte apa yang penting dan apa yang dapat dibuang, mereduksi ciptaan menjadi objek eksploitasi dan manusia menjadi sekadar roda gigi dalam sistem yang didorong menuju efisiensi yang semakin besar,” tulis Paus Leo XIV.

Selain gagasan yang bermasalah, Paus Leo XIV juga menyoroti soal praktik dominasi teknologi di tangan segelintir entitas ekonomi dan teknologi. Ia mengatakan, praktik dominasi teknologi ini hanya akan merugikan umat manusia.

“Di banyak kasus dalam konteks digital, kendali atas platform, infrastruktur, data, dan daya komputasi tidak berada di tangan negara, tetapi di tangan aktor utama ekonomi dan teknologi,” kata Paus Leo XIV.

“Ketika kekuasaan tersebut terkonsentrasi di tangan segelintir orang, kekuasaan tersebut cenderung menjadi tidak transparan dan menghindari pengawasan publik, meningkatkan risiko bentuk-bentuk pembangunan yang menyimpang yang menimbulkan ketergantungan, pengucilan, manipulasi, dan ketidaksetaraan baru,” imbuhnya.

Ambisi dominasi AI yang mengorbankan pekerja

Banyak perusahaan teknologi saat ini berambisi menjadi penguasa AI. Mereka rela menggelontorkan banyak sumber daya untuk meningkatkan infrastruktur AI. Namun, sayangnya, pekerja yang harus menanggung ambisi dominasi AI itu.

Misalnya, dari kasus terbaru pada 20 Mei 2026, Meta (induk Facebook, WhatsApp, dan Instagram) resmi merumahkan sekitar 8.000 karyawan secara global. Bersamaan aksi PHK ini, nilai investasi AI Meta meningkat ratusan miliar.

Tahun ini, Meta berkomitmen menggelontorkan lebih dari 100 miliar dollar AS (sekitar Rp 1.764 triliun) untuk investasi AI, bahkan total belanja modal perusahaan diperkirakan mencapai 125 miliar hingga 145 miliar dollar AS (sekitar Rp 2.205 triliun - Rp 2.557 triliun).

Ambisi untuk mendominasi AI juga bercokol pada Oracle dan Amazon. Mereka berdua melakukan aksi PHK besar-besaran (Oracle PHK 16.000 karyawan dan Amazon 16.000) di tahun ini, sembari meningkatkan investasi untuk pengembangan dan pusat data AI.

Baca juga: Pekerja yang Digantikan AI Bakal “Ngenes”, Gaji Turun dan Susah Cari Kerja

Selain tiga perusahaan itu, ada sederet nama besar lain yang turut melakukan aksi PHK massal, seperti Cisco, Microsoft, dan Atlassian. Kebijakan PHK ini digunakan perusahaan-perusahaan tersebut untuk memfokuskan sumber daya ke proyek AI.

Di luar ambisi dominasi AI, aksi PHK massal karyawan juga dijalankan atas dasar efisiensi biaya tenaga kerja oleh sebagian perusahaan teknologi, seperti Block (PHK lebih dari 4.000 karyawan), Cloudflare (PHK 1.100 karyawan, Coinbase (PHK 7.000 karyawan), dan Snapchat (PHK 1.000 karyawan).

Mereka semua kompak beralasan bahwa terjadi perubahan cara kerja di era AI sehingga perlu mengatur ulang atau restrukturisasi pegawai. Seiring dengan pengadopsian yang meningkat, peran-peran pekerja diganti AI sehingga bisa menghemat biaya.

Pengembangan AI tidak boleh mengorbankan pekerja

Aksi PHK massal yang dijalankan perusahaan atas nama AI itu ditentang oleh Paus Leo XIV. Dengan mengutip Santo Yohanes Paulus II, Paus Leo XIV menulis bahwa pengangguran merupakan salah satu kejahatan besar dan bisa menjadi masalah sosial yang genting.

“Santo Yohanes Paulus II menyadari bahwa pengangguran adalah kejahatan besar. Bahkan, ketika mencapai proporsi yang masif, hal itu menjadi bencana sosial yang sesungguhnya yang terutama membutuhkan negara untuk menjalankan tanggung jawabnya,” tulis Paus Leo XIV.

Menurut Paus Leo XIV, masalah pengangguran ini menjadi lebih mengkhawatirkan di era revolusi industri ke-4 dengan kehadiran AI seperti ini. Sebab, inovasi teknologi seringkali dilakukan hanya untuk mengurangi biaya dan mengejar keuntungan.

Ia mengatakan, teknologi dikembangkan memang dengan harapan dapat meringankan pekerjaan manusia. Akan tetapi, pengembangan itu tidak boleh mengorbankan kesempatan kerja dan peran manusia.

Paus Leo XIV juga menegaskan bahwa mengejar keuntungan yang lebih besar dengan PHK atau mengorbankan pekerjaan manusia bukan keputusan yang benar.

“Pengejaran keuntungan yang lebih besar tidak dapat membenarkan pilihan yang secara sistematis mengorbankan pekerjaan, karena manusia adalah tujuan, bukan alat,” tulis Paus Leo XIV.

Pesan untuk bersama-sama mengawasi dan mengatur AI

Selain harus “melucuti” atau menghapus ambisi dominasi AI oleh segelintir aktor, Paus Leo XIV berpesan untuk bersama-sama mengawasi teknologi ini. Sebab, dengan adanya konsentrasi kekuasaan di dalamnya, AI bukanlah teknologi dengan moral yang netral.

Menurut Paus Leo XIV, teknologi seperti AI dikembangkan untuk memiliki kemampuan atau hasil tertentu atas berbagai pertimbangan di baliknya, termasuk bagaimana ia mengklasifikasikan orang dan situasi.

Jadi, pengawasan pada AI bukan hanya tertuju pada bagaimana teknologi ini digunakan, apakah dipakai untuk kebaikan atau keburukan.

“Jika suatu sistem dirancang atau digunakan dengan cara yang kurang menghargai beberapa kehidupan, atau mengecualikannya tanpa kemungkinan mempertimbangkannya, maka sistem itu bukan cumat alat yang harus digunakan dengan baik,” kata Paus Leo XIV.

Oleh karena itu, Paus Leo XIV mengingatkan, kita harus turut memeriksa bagaimana sistem AI dirancang dan gagasan apa yang tertanam dalam data dan model yang membangun sistem tersebut.

Selain mengawasi pengembangan di balik AI, ia juga mengajak untuk mengatur penggunaannya, terutama saat menyangkut urusan publik dan hak dasar. Pengaturan harus dipandu dengan kriteria yang jelas dan pengawasan yang efektif.

Dengan prinsip partisipatif, Paus Leo XIV mengingatkan agar data yang jadi kunci pengembangan AI dan teknologi terkini lainnya tidak boleh dikontrol sepenuhnya oleh pihak swasta.

“Kepemilikan data tidak dapat diserahkan sepenuhnya kepada pihak swasta tetapi harus diatur dengan tepat. Data adalah produk dari banyak kontributor dan tidak boleh diperlakukan sebagai sesuatu yang dijual atau dipercayakan kepada segelintir orang,” terangnya.

Dalam peluncuran ensiklik ini turut hadir Christopher Olah, salah satu pendiri perusahaan AI Anthropic. Ia menilai perusahaan AI tengah membutuhkan panduan moral agar tidak hanya mengikuti tekanan bisnis dan keuntungan semata.

“Kami membutuhkan suara moral yang tidak bisa dibelokkan oleh insentif bisnis,” kata Olah.

Baca juga: Ramalan 2028: AI Makin Pintar, Krisis dan Pengangguran Meningkat

Menurut dia, dialog antara pengembang teknologi dan pemimpin moral menjadi penting di tengah perkembangan AI yang sangat cepat.

“Ini baru permulaan, awal dari kolaborasi panjang antara mereka yang membangun teknologi ini dan mereka yang bisa melihat hal-hal yang tidak kami lihat dari dalam,” ujar Olah.

Dapatkan update berita teknologi dan gadget pilihan setiap hari. Mari bergabung di Kanal WhatsApp KompasTekno. Caranya klik link https://whatsapp.com/channel/0029VaCVYKk89ine5YSjZh1a. Anda harus install aplikasi WhatsApp terlebih dulu di ponsel.

Tag:  #tengah #massal #paus #kritik #ambisi #perusahaan #mendominasi

KOMENTAR