Model AI Barat Dituding Bantu Iran Gencarkan Serangan Siber
Ilustrasi chatbot AI ChatGPT dan Gemini.(www.valueleaf.com)
07:06
2 Juni 2026

Model AI Barat Dituding Bantu Iran Gencarkan Serangan Siber

- Model kecerdasan buatan (AI) buatan Barat seperti ChatGPT milik OpenAI dan Gemini milik Google disebut ikut membantu meningkatkan kemampuan operasi siber Iran.

Sejumlah pakar keamanan siber dan perusahaan teknologi menilai chatbot AI generatif tersebut membuat kelompok peretas Iran mampu mengembangkan malware (software berbahaya), menyusun pesan phishing yang lebih meyakinkan, hingga melancarkan serangan siber dalam skala yang lebih besar dan cepat.

"AI benar-benar membantu mereka meningkatkan kemampuan," kata seorang analis keamanan siber yang identitasnya dirahasiakan karena membahas isu sensitif.

Menurut para peneliti, kelompok peretas Iran kini memanfaatkan AI dalam hampir seluruh tahapan operasi siber mereka.

Mulai dari mencari celah keamanan di internet, membuat identitas palsu yang meyakinkan, menerjemahkan percakapan ke berbagai bahasa, hingga menyusun kampanye phishing yang ditargetkan kepada korban di Israel, Amerika Serikat, dan negara lain.

Baca juga: Jalan Tol Digital Tersembunyi di Selat Hormuz, Potensi Mesin Cuan dan Kekuatan Baru Iran?

Salah satu kemampuan yang dieksploitasi adalah kemampuan AI menghasilkan teks yang natural dalam berbagai bahasa.

Dengan bantuan AI, peretas Iran dilaporkan dapat membuat e-mail atau pesan phishing dalam bahasa Ibrani dan Arab yang lebih rapi dan meyakinkan dibanding sebelumnya.

Contohnya seperti gambar di bawah ini yang diyakini di-generate oleh AI. Gambar ini disebut berisi pesan yang muncul di papan iklan dan informasi di beberapa stasiun kereta api Israel. Kemungkinan besar ini adalah serangan siber untuk membuat kepanikan.

"Halo warga, peringatan rudal Iran telah diaktifkan untuk metro. Anda harus mengikuti instruksi komandan internal dan segera pergi," bunyi isi pesan dalam Hebrew alias bahasa Ibrani.

"Keluarlah dari stasiun kereta bawah tanah dengan hati-hati dan pergilah ke tempat perlindungan. Kereta bawah tanah tidak aman saat ini," lanjut isi pesan tersebut.

Di samping itu, AI disebut mampu membantu mereka mempertahankan percakapan selama berminggu-minggu menggunakan identitas palsu untuk membangun kepercayaan calon korban.

"Jika Anda berada di Teheran dan berpura-pura menjadi staf HR perusahaan pertahanan di California, mempertahankan percakapan selama satu bulan bukan pekerjaan mudah. AI membantu mereka melakukan itu," kata seorang analis keamanan siber.

Baca juga: Iran Setop Pakai GPS AS, Beralih ke Sistem Navigasi China

Google temukan aktivitas APT42

Google mengungkap bahwa kelompok peretas APT42 yang diduga terkait pemerintah Iran sempat menggunakan chatbot Gemini untuk mendukung operasi siber mereka.

Tak lama sebelum konflik Iran dan Israel memanas pada awal tahun ini, Google mendeteksi APT42 memanfaatkan Gemini untuk membuat persona palsu dan mendukung aktivitas rekayasa sosial (social engineering).

Laporan Google tahun lalu bahkan menemukan bahwa kelompok peretas Iran menggunakan Gemini lebih intens dibanding kelompok peretas yang berasal dari Korea Utara, Rusia, atau China.

APT42 disebut pernah menggunakan Gemini untuk mencari informasi terkait cara mengganggu sistem pesawat tempur F-35 milik Amerika Serikat.

Perusahaan keamanan siber asal Israel, Check Point, juga menilai kelompok peretas Iran kini memanfaatkan AI untuk mempercepat hampir seluruh aktivitas operasional mereka.

"Semua ini dilakukan secara otomatis. Mereka menggunakan semua alat yang tersedia untuk mempercepat operasi melalui AI," kata Gil Messing, eksekutif Check Point.

Baca juga: Hacker Iran Serang Infrastruktur Penting AS, Operasional Terganggu dan Rugi Finansial

OpenAI: Kami terus blokir akun terkait Iran

Celah keamanan pada ChatGPT yang berpotensi bocorkan data pengguna.Freepik Celah keamanan pada ChatGPT yang berpotensi bocorkan data pengguna.

Meski demikian, perusahaan AI Barat menegaskan mereka terus berupaya mencegah penyalahgunaan layanan mereka.

OpenAI mengatakan secara rutin mendeteksi dan menutup akun yang terafiliasi dengan Iran jika terbukti menyalahgunakan layanan AI untuk tujuan berbahaya.

"Ketika kami mengidentifikasi aktivitas berbahaya, kami mengambil tindakan, termasuk menonaktifkan akun, menghentikan akses, atau membatasi kemampuan yang disalahgunakan," kata OpenAI dalam sebuah pernyataan.

OpenAI menambahkan bahwa aktor yang terafiliasi dengan Iran umumnya menggunakan model AI untuk penelitian, penerjemahan, debugging, dan bantuan scripting.

Perusahaan juga menegaskan model AI mereka tidak memberikan kemampuan siber baru yang sebelumnya tidak dimiliki pelaku.

Sementara itu, Google menolak memberikan komentar terkait laporan terbaru tersebut.

Pemanfaatan AI oleh Iran ternyata tidak hanya terbatas pada operasi siber. Analisis Financial Times terhadap sekitar 300 jurnal militer Iran yang diterbitkan dalam lima tahun terakhir menunjukkan AI mulai dipelajari untuk berbagai kebutuhan pertahanan.

Mulai dari perang elektromagnetik, sistem komando medan perang, navigasi drone, hingga penargetan bawah laut.

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) bahkan mengeklaim telah mengintegrasikan AI ke dalam sistem pemandu rudal jelajah dan drone militer mereka.

Meski demikian, para analis menilai masih belum jelas sejauh mana teknologi tersebut benar-benar sudah digunakan dalam operasi tempur nyata.

Yang pasti, menurut sejumlah peneliti keamanan siber, apa yang saat ini terlihat kemungkinan baru sebagian kecil dari penggunaan AI oleh Iran.

"Apa yang terlihat saat ini mungkin hanya puncak gunung es," kata salah satu analis keamanan siber, sebagaimana dihimpun KompasTekno dari Financial Times.

Tag:  #model #barat #dituding #bantu #iran #gencarkan #serangan #siber

KOMENTAR