Pidato AI Tak Sesuai Realita, Wisudawan Resah dan Ejek Para Bos Teknologi
Ilustrasi Wisuda.(Dokumentasi Petra Christian University Surabaya)
10:45
4 Juni 2026

Pidato AI Tak Sesuai Realita, Wisudawan Resah dan Ejek Para Bos Teknologi

 - Belakangan ini, wisudawan di kampus-kampus Amerika Serikat (AS) kompak mengejek para bos perusahaan teknologi dan bidang lainnya saat mereka berpidato soal Artificial Intelligence (AI).

Pasalnya, pidato soal AI dari para petinggi perusahaan itu seakan tidak mencerminkan realita hari ini, terutama pada masalah pasar tenaga kerja yang menjadi keresahan wisudawan.

Baca juga: Ongkos Bikin AI Mahal, Banyak Perusahaan Pilih PHK Karyawan

Para wisudawan yang bakal mencari kerja ini resah karena menghadapi kondisi pasar tenaga kerja, yang mana banyak perusahaan membenarkan aksi pemutusan hubungan kerja (PHK) massal atas dasar efisiensi akibat AI.

Gelombang ejekan ke para petinggi perusahaan

Keresahan soal ketidakpastian masa depan pekerjaan akibat AI yang dirasakan banyak wisudawan ini memicu gelombang ejekan yang dilayangkan ke para petinggi perusahaan saat berpidato di kampus dalam upacara kelulusan.

Ejekan buat petinggi Tavistock Development Company

Pada 8 Mei lalu, Gloria Caulfield, Wakil Presiden Kerjasama Strategis Tavistock Development Company, perusahaan pengembang Real Estate di Orlando, AS, mendapatkan ejekan saat ia berpidato di hadapan wisudawan Universitas Central Florida.

Dalam momen tersebut, Gloria mengatakan, “kemunculan AI adalah Revolusi Industri berikutnya”. Selepas mengatakan itu, Gloria mendapatkan sorakan dan boo dari wisudawan.

Meski disoraki, ia tetap optimis dengan AI sembari menceritakan kisah orang sukses seperti Jeff Bezos, yang bisa beradaptasi dengan disrupsi teknologi.

Pidato soal AI dan disrupsi teknologi dari Gloria itu dinilai menghina upaya para wisudawan untuk mengubah keadaan dan tidak memiliki kepekaan, menurut seorang wisudawan School of Communication and Media, Houda Eletr.

“Berdiri di depan kelas lulusan yang terdiri dari seniman dan komunikator, lalu membahas Jeff Bezos dan Howard Schultz, sama saja dengan menghina upaya kita untuk mengubah keadaan,” kata Houda Eletr, sebagaimana dilansir The New York Post, Rabu (3/6/2026).

“Saya malu harus menanggung wisuda yang paling memalukan, tak terhindarkan, tidak peka, dan seperti iklan. Boo buat AI dan boo agenda Anda,” imbuh Eletr.

Cemoohan untuk bos Big Machine

Ejekan serupa juga didapat oleh CEO perusahaan rekaman Big Machine, Scott Borchetta saat memberikan pidato soal AI di hadapan wisudawan Universitas Middle Tennessee State pada 10 Mei lalu. Ia mengagungkan kekuatan AI yang mendorong transformasi industri.

“Industri ini akan berubah dalam sekejap mata. Industri ini telah berubah lebih banyak dalam 10 tahun terakhir daripada dalam 50 tahun sebelumnya. AI sedang menulis ulang produksi saat kita duduk di sini,” kata Borchetta, dikutip dari The Guardians, Rabu (3/6/2026).

Pidato Borchetta itu lantas mendapat cemoohan dari para mahasiswa. Setelah dicemooh, Borchetta lanjut menegaskan, “terimalah kenyataan ini”. Saat ejekan makin kencang, tapi Borchetta malah membuat pernyataan yang seakan menantang wisudawan.

“Anda bisa mendengarkan saya sekarang atau Anda bisa membayar saya nanti. Lalu lakukan sesuatu tentang itu. Ini adalah alat. Manfaatkanlah untuk Anda,” kata Borchetta.

“Hal-hal yang Anda pelajari di tahun pertama Anda di sini mungkin sudah usang,” imbuhnya.

Menurut seorang wisudawan dari Universitas Middle Tennessee State, Jacob Pagel, pidato Borchetta tentang AI semacam itu tidak peka dan relatif meremehkan keresahan para lulusan baru yang hendak mencari kerja.

“Sepanjang hidup kami, kami selalu didorong untuk mendapatkan ijazah. Lalu Anda tiba-tiba mencabut sesuatu hal yang penting dari kami, dan berkata: ‘Oh, empat tahun yang Anda habiskan untuk belajar melakukan hal-hal yang sangat spesifik itu, Anda tidak perlu melakukannya lagi. Kita bisa mendapatkan komputer untuk melakukannya dengan harga dua pertiga lebih murah’,” kata Pagel.

Sorakan buat mantan CEO Google

Mantan CEO Google, Eric Schmidt, turut mendapatkan ejekan dari para wisudawan. Ejekan itu diberikan ke Schmidt saat dia menyampaikan pidato kelulusan di Universitas Arizona pada 16 Mei 2026.

Dalam pidatonya, Schmidt mengatakan AI akan memengaruhi hampir semua bidang pekerjaan di masa depan. Pernyataan itu langsung disambut sorakan dan boo dari sebagian mahasiswa yang hadir.

Meski begitu, Schmidt tetap mendorong para lulusan untuk ikut membentuk perkembangan AI, bukan sekadar takut terhadap teknologi tersebut.

“Ketika seseorang menawarkan kursi di roket, jangan tanya kursi yang mana. Naik saja,” ujar Schmidt, yang kembali memicu reaksi negatif dari sebagian hadirin.

Salah seorang hadirin yang juga mahasiswa Teknik Kimia Universitas Arizona, Arian Chavez mengatakan, pidato Schmidt soal AI hanya mengutamakan kepentingan sebagian kelompok daripada umat manusia secara keseluruhan.

Chavez sangat berharap bahwa perusahaan akan menggunakan AI untuk membantu kehidupan para pekerja, bukan untuk mendapatkan keuntungan yang lebih besar atau menggantikan mereka.

Baca juga: Atas Nama AI, Puluhan Ribu Karyawan Dipecat Perusahaan-perusahaan Ini

PHK massal atas nama AI

Gelombang ejekan dari para wisudawan itu tak lepas dari kondisi AI hari ini yang meresahkan. Para wisudawan ini menghadapi pasar tenaga kerja yang tengah mengalami efisiensi akibat AI.

Dalam catatan kami, ada banyak perusahaan teknologi global yang memilih memecat karyawannya karena AI. Jumlah karyawan yang terdampak PHK ini mencapai puluhan ribu sepanjang tahun 2026.

Misalnya, Meta memecat 8.000 karyawan, Oracle merumahkan 30.000 karyawan, Amazon PHK 16.000 karyawan, dan masih banyak lagi.

Tujuan utama aksi PHK karyawan ini adalah efisiensi. Namun, ada dua tipe efisiensi yang diharapkan perusahaan dari AI dengan memecat karyawan.

Pertama, perusahaan memecat karyawan dan menggantikan perannya secara langsung dengan AI sehingga bisa menekan biaya produksi. Kedua, PHK dilakukan untuk membantu biaya pengembangan AI perusahaan.

Hingga saat ini, kemampuan AI sejatinya belum bisa menggantikan peran manusia secara total. Aksi PHK massal yang terjadi belakangan juga tidak ditujukan langsung buat menggantikan manusia, tetapi restrukturisasi organisasi.

Akan tetapi, dari tren PHK massal itu, AI setidaknya sudah dipakai perusahaan untuk membenarkan tindakan yang mengorbankan pekerja.

Realita ketidakpastian pekerjaan akibat AI itu yang rasanya tidak tercermin dalam pidato para bos perusahaan di hadapan wisudawan.

Para bos yang tidak peka situasi

Sarah Kreps, seorang profesor Universitas Cornell yang telah mempelajari respons masyarakat terhadap teknologi baru, mengatakan bahwa para bos teknologi yang berpidato itu tidak peka terhadap situasi.

“Para eksekutif teknologi ini tidak memahami situasi. Anak-anak ini telah menghabiskan ratusan ribu dolar untuk gelar yang mereka tidak tahu akan bermanfaat bagi mereka,” kata Kreps.

Sementara itu, pendiri perusahaan humas teknologi Crackle PR, Parry Headrick mengatakan, pidato kelulusan yang disampaikan para CEO tentang AI telah menjadi masalah komunikasi yang sebenarnya dapat dicegah.

Menurut Headrick, para bos itu seharusnya mengakui dan meyakinkan kekhawatiran para mahasiswa, sekaligus menasihati mereka untuk beradaptasi, bukan memerintah mereka untuk bersiap dan melakukan sesuatu.

Headrick menekankan bahwa pidato tentang AI yang disampaikan para bos teknologi itu kurang sesuai dengan kondisi mahasiswa.

“Lalu apa yang harus dilakukan oleh siapa pun yang masih muda dan bersekolah ketika para eksekutif teknologi ini membual tentang Revolusi Industri lanjutan, sedangkan mereka tidak mampu membeli bahan makanan atau membayar sewa?” kata Headrick.

Baca juga: Di Tengah PHK Massal, Paus Leo XIV Kritik Ambisi Perusahaan Mendominasi AI

Dapatkan update berita teknologi dan gadget pilihan setiap hari. Mari bergabung di Kanal WhatsApp KompasTekno. Caranya klik link https://whatsapp.com/channel/0029VaCVYKk89ine5YSjZh1a. Anda harus install aplikasi WhatsApp terlebih dulu di ponsel.

Tag:  #pidato #sesuai #realita #wisudawan #resah #ejek #para #teknologi

KOMENTAR