China Mulai Berburu ''Emas'' Baru di Bulan, Sumber Daya Penentu Kehidupan
China menyiapkan misi bernama Chang'e-7 yang dijadwalkan meluncur pada 2026. Misi ini akan menjadi upaya langsung pertama China untuk mencari sumber air di permukaan Bulan. (Gremlin/Getty Images)
06:00
11 Juni 2026

China Mulai Berburu ''Emas'' Baru di Bulan, Sumber Daya Penentu Kehidupan

- Persaingan Amerika Serikat dan China tidak hanya terjadi di bidang ekonomi, teknologi, atau kecerdasan buatan (AI). Kedua negara tersebut juga mulai berlomba mencari sumber air di Bulan.

Jika Badan Penerbangan dan Antariksa AS (NASA) lewat program Artemis berencana mengirim astronaut ke kutub selatan Bulan dalam beberapa tahun ke depan (target 2028), China kini juga menyiapkan misi serupa bernama Chang'e-7 yang dijadwalkan meluncur pada 2026.

Misi ini akan menjadi upaya langsung pertama China untuk mencari sumber air di permukaan Bulan.

Sama seperti NASA, China mengincar wilayah kutub selatan Bulan karena diyakini menyimpan cadangan es air dalam jumlah besar di kawah-kawah yang tidak pernah terkena sinar Matahari.

Misi Chang'e-7 diperkirakan akan diluncurkan lebih dulu dibanding misi VIPER milik NASA yang memiliki tujuan serupa. robot penjelajah NASA ini ditargetkan diluncurkan ke Bulan pada akhir 2027.

Jika berhasil, China berpotensi memperoleh keunggulan awal dalam perlombaan mencari sumber daya paling berharga di Bulan.

Baca juga: Ada Bengkel Ketok Magic iPhone di China, HP Penyok Jadi Mulus Lagi

"Emas baru" penentu kehidupan di Bulan

Misi Chang'e-7 menjadi langkah lanjutan setelah keberhasilan Chang'e-6 tahun lalu. Saat itu,Chang'e-6 sukses mendarat dan mengambil sampel dari sisi jauh Bulan, wilayah yang tidak pernah menghadap Bumi.

Misi Chang'e-7 sebenarnya bukan untuk membuktikan apakah Bulan memiliki air atau tidak. Para ilmuwan sudah cukup yakin bahwa es air memang ada di permukaan Bulan.

Berbagai penelitian sebelumnya, termasuk pengamatan teleskop luar angkasa dan misi-misi Bulan terdahulu, telah menemukan indikasi kuat keberadaan es di wilayah kutub.

Tantangan terbesarnya sekarang adalah menemukan lokasi yang benar-benar bisa dimanfaatkan manusia.

Cadangan es air akan jadi penentu kehidupan. Pasalnya jika ditemukan dalam jumlah cukup besar, air tersebut nantinya dapat diolah menjadi air minum, oksigen untuk bernapas, hingga hidrogen yang bisa dipakai sebagai bahan bakar roket.

Dengan begitu, astronaut tidak perlu lagi membawa seluruh kebutuhan air dari Bumi yang biayanya sangat mahal.

Karena alasan itulah, banyak pihak menyebut air sebagai "emas baru" di Bulan. Keberadaan sumber air lokal dapat menentukan apakah manusia mampu tinggal lebih lama di Bulan atau tidak.

NASA sendiri memiliki ambisi membangun pangkalan permanen di Bulan pada masa depan. Badan antariksa AS itu bahkan sedang mengembangkan konsep reaktor nuklir yang suatu hari bisa ditempatkan di permukaan Bulan untuk memasok energi.

Semua rencana tersebut akan jauh lebih mudah diwujudkan jika sumber air tersedia di lokasi.

Baca juga: BERITA FOTO: Penampakan Langka Bumi dan Bulan yang Dipotret Kru Artemis II NASA

Cara China berburu air di Bulan

Chang'e-7 akan membawa berbagai instrumen ilmiah canggih. Perangkat tersebut mencakup kamera pemetaan resolusi tinggi, sensor inframerah spektrum lebar, serta kamera hyperspectral yang mampu menganalisis kandungan material di permukaan Bulan.

Peepo/Getty Images Chang'e-7 akan membawa berbagai instrumen ilmiah canggih. Perangkat tersebut mencakup kamera pemetaan resolusi tinggi, sensor inframerah spektrum lebar, serta kamera hyperspectral yang mampu menganalisis kandungan material di permukaan Bulan.

Untuk menjalankan misinya, Chang'e-7 akan membawa berbagai instrumen ilmiah canggih.

Perangkat tersebut mencakup kamera pemetaan resolusi tinggi, sensor inframerah spektrum lebar, serta kamera hyperspectral yang mampu menganalisis kandungan material di permukaan Bulan.

Semua instrumen ini akan digunakan untuk mendeteksi kemungkinan keberadaan es air di kawah-kawah gelap kutub selatan Bulan.

Selain itu, Chang'e-7 juga dibekali seismograf untuk mendeteksi gempa Bulan (moonquake) serta kamera topografi untuk memetakan kondisi medan di sekitar lokasi pendaratan.

Menurut sejumlah laporan, lokasi pendaratan kemungkinan berada di sekitar Kawah Shackleton.

Lokasi ini adalah satu kawah besar di kutub selatan Bulan yang selama ini dianggap sebagai kandidat kuat penyimpan es air. Namun China belum mengonfirmasi lokasi tersebut secara resmi.

Yang membuat Chang'e-7 unik adalah kemampuannya berpindah lokasi untuk mencari sinar Matahari.

Karena wilayah kutub selatan Bulan sebagian besar selalu berada dalam kondisi gelap, wahana bertenaga surya ini dirancang agar bisa bergerak ke lokasi lain yang masih mendapatkan cahaya.

Dengan cara itu, sistem tetap memperoleh energi untuk menjalankan instrumen ilmiahnya.

Setelah menemukan lokasi yang sesuai, Chang'e-7 akan mengebor permukaan Bulan dan menganalisis sampel tanah untuk mencari jejak es air, sebagaimana dihimpun KompasTekno dari BGR.

Misi ini juga membawa tantangan teknis yang tidak sederhana. China menargetkan akurasi pendaratan hingga sekitar 100 meter dari titik yang ditentukan, sebuah target yang cukup sulit mengingat medan kutub selatan Bulan dipenuhi kawah dan bebatuan.

Tag:  #china #mulai #berburu #emas #baru #bulan #sumber #daya #penentu #kehidupan

KOMENTAR