Sejarah Sarinah Jakarta, Mal Pertama di Indonesia Gagasan Soekarno
Sebagai salah satu landmark ikonik di Tanah Air, Sarinah termasuk spot wisata ibu kota yang wajib dikunjungi.
Pusat perbelanjaan ini berlokasi strategis di jantung kota, tepatnya di kawasan Jalan M.H. Thamrin, Jakarta Pusat, sehingga mudah diakses menggunakan transportasi umum, sekaligus dekat dengan spot wisata lain di Jakarta.
Sarinah tidak hanya mengundang daya tarik dari arsitektur dan beragam tenant di dalamnya.
Mal ini juga menyimpan perjalanan panjang sejak awal kemerdekaan Indonesia, ketika presiden pertama Republik Indonesia (RI), Soekarno, menggagas konsep pusat perbelanjaan modern.
Baca juga: 8 Wisata Dekat Tugu Tani Jakarta, Ada Monas dan Sarinah
Sejarah Sarinah, mal pertama di Indonesia
Asal-usul nama Sarinah
Sarinah termasuk proyek mercusuar kebanggan Bung Karno, selain Monumen Nasional (Monas) yang ramai pengunjung hingga saat ini.
Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak di bidang ritel ini didirikan berdasarkan Akta Nomor 33 tanggal 17 Agustus 1962 dengan nama PT Department Store Indonesia.
Peresmian Gedung Sarinah dilakukan pada 15 Agustus 1966 yang menandai kehadirannya sebagai pusat perbelanjaan pertama di Indonesia, seperti dikutip situs resminya, Senin (20/4/2026).
Nama PT Department Store Indonesia kemudian secara resmi berganti menjadi PT Sarinah (Persero) pada 10 April 1979.
Nama Sarinah diambil dari nama salah satu pengasuh Soekarno di masa kecil. Kesan mendalam tentang kebesaran jiwa sang pengasuh menginspirasi penyematan nama tersebut.
Baca juga: Umbul Pacinan: Wisata Air, Sejarah, dan Mitos di Geopark Gunung Sewu
Renovasi Sarinah
Suasana di dalam Mal Sarinah, Jakarta Pusat, dipotret di tengah perjalanan Casual Walking Tour BerKemana (bersama Kompas.com kemana) pada Sabtu (18/4/2026).
Renovasi gedung Sarinah Jakarta dilakukan pertama kali pada 1990-an. Keputusan ini diambil sebagai upaya untuk menari tenant baru, sekaligus memperkuat reputasi Sarinah sebagai pusat perbelanjaan terkemuka di Tanah Air.
Gedung pusat perbelanjaan ini kembali direnovasi pada era pandemi Covid-19, yakni pertengah 2020 dan baru dibuka lagi dua tahun setelahnya.
Sejak 2022, Sarinah muncul dengan tampilan baru, tanpa mengubah banyak bentuk bangunan dengan pilihan tenant fesyen sampai kuliner khas Tanah Air yang beragam.
Baca juga: Ide Liburan di Bandung, Mampir ke Tempat Wisata Sejarah
Dibangun dari dana pemerintah Jepang
Saat pertama kali didirikan, biaya pembangunan gedung Sarinah berasal dari dana pampasan perang atau kompensasi oleh pemerintah Jepang.
Dana tersebut diberikan sebagai konsekuensi Jepang atas penjajahannya di Indonesia setelah kalah dalam Perang Dunia II melawan sekutu. Gim
"Dana inilah yang digunakan oleh Soekarno untuk membangun proyek-proyek besarnya. Salah satunya adalah Sarinah," ujar pemandu wisata sekaligus co-founder Jalur Medina, Nurdita Afifah, dalam program Casual Walking Tour BerKemana (bersama Kompas.com kemana), Sabtu (18/4/2026).
Adapun saat direnovasi besar-besaran pada 2020 silam, Sarinah menelan anggaran Rp 700 miliar dan melibatkan sejumlah perusahaan BUMN lainnya, seperti dikutip Kompas.com.
Baca juga: 10 Wisata Sejarah di Malang, Ada Museum dan Masjid Tertua
Apa saja isi Sarinah?
Akhir pekan, warga ramai kunjungi Mal Sarinah. Pasalnya terdapat titik-titik menarik yang dapat dijadikan spot foto-foto bagi pengunjung.
Pusat perbelanjaan setinggi 74 meter dengan memiliki 15 lantai tersebut menghadirkan beragam tenant yang menawarkan pengalaman belanja, sekaligus wisata dalam satu tempat.
Mulai dari produk UMKM lokal, kerajinan khas Indonesia, hingga brand modern dan area kuliner yang menyajikan berbagai pilihan makanan.
Sarinah juga kerap menghadirkan ruang pameran, area publik, dan event budaya yang menampilkan karya seni dan kreativitas anak bangsa.
Baca juga: Hai Gen Z! Ada Tantangan Nih dari Fadli Zon Buat Hidupkan Situs Sejarah
Tag: #sejarah #sarinah #jakarta #pertama #indonesia #gagasan #soekarno