Legenda KA Sangkuriang, Asal-usul Gunung Tangkuban Parahu
Di balik nama legendaris kereta api (KA) Sangkuriang, tersimpan kisah rakyat yang begitu lekat dengan budaya Sunda.
Cerita tentang Sangkuriang yang konon menjadi asal-usul Gunung Tangkuban Parahu tak hanya hidup dalam legenda, tapi juga menginspirasi penamaan layanan transportasi umum kereta api.
- Rute Baru KA Sangkuriang Bandung-Banyuwangi, Ada Diskon Tiket 50 Persen
- KA Rajabasa, Kereta dengan Rute Terpanjang di Sumatera, Tarifnya Rp 32.000
Adapun KA Sangkuriang relasi Bandung-Banyuwangi bakal segera beroperasi dalam waktu dekat. KA Sangkuriang 7044A dijadwalkan berangkat perdana dari Stasiun Bandung di Jawa Barat menuju Stasiun Ketapang di Banyuwangi pada awal Mei 2026, tepatnya Jumat (1/5/2026).
Sebaliknya, KA Sangkuriang 7043A rute Ketapang-Bandung mulai beroperasi pada Sabtu (2/5/2026).
Lantas, bagaimana kisah legenda Sangkuriang yang menjadi awal mula Gunung Tangkuban Parahu di Jawa Barat?
Legenda Sangkuriang
Berawal dari cerita Dayang Sumbi
Obyek wisata Gunung Tangkuban Parahu masih beroperasi meskinada penungkatan altivitas vulkanik sejak beberapa hari terakhir, Selasa (3/6/2025).
Legenda Sangkuriang bermula dari khayangan, saat sepasang dewa dan dewi yang dihukum menjadi hewan dan menjalani masa hukumannya di bumi, seperti dilansir Kompas.com, Kamis (23/4/2026).
Sang Dewa menjelma menjadi seekor anjing jantan bernama Si Tumang, sedangkan sang Dewi menjadi babi hutan betina bernama Celeng Wayung Hyang.
Suatu saat, seorang raja bernama Sungging Perbangkara pergi berburu. Di tengah hutan, raja ingin buang air dan ditampungnya air kencingnya di batok kelapa.
Baca juga: 8 Fakta Gunung Tangkuban Parahu, dari Sangkuriang hingga Erupsi Purba
Setelah itu, datang Celeng Wayung Hyang yang kehausan dan meminumnya. Seketika, babi hutan betina itu hamil dan melahirkan seorang putri.
Raja Sungging Perbangkara yang menemukan bayi itu lantas membawanya pulang ke keraton. Putri itu kemudian diberi nama Dayang Sumbi atau Rarasati.
Dayang Sumbi tumbuh menjadi gadis yang cantik jelita sehingga banyak raja yang menginginkan untuk menjadi suaminya. Namun, semua lamaran ditolak Dayang Sumbi, hingga membuat para raja berperang karenanya.
Dayang Sumbi kemudian memilih untuk mengasingkan diri dan hidup di hutan dengan ditemani anjing Si Tumang.
Suatu hari, saat sedang asyik menenun, tempat kainnya jatuh dan ia malas untuk mengambilnya.
Dayang Sumbi lalu menjanjikan siapa pun yang mengambil tempat kainnya itu, jika laki-laki akan dijadikan suami dan jika perempuan akan dijadikan saudara.
Ternyata, Si Tumang yang mengambilkan tempat kain itu. Dayang Sumbi pun memenuhi sumpahnya dan menjadikan anjing itu sebagai suaminya.
- Gunung Tangkuban Parahu: Harga Tiket, Jam Buka, dan Aktivitas
- KA Sangkuriang Banyuwangi-Bandung Tanpa Transit, Beroperasi 2 Mei 2026
Sangkuriang lahir
Dayang Sumbi melahirkan anak laki-laki yang diberi nama Sangkuriang dari pernikahannya dengan Si Tumang.
Sangkuriang pergi dari rumah. Seiring berjalannya waktu, Sangkuriang yang telah beranjak remaja mendapatkan tugas dari ibunya untuk berburu rusa.
Sangkuriang pun pergi ke hutan ditemani Si Tumang, ayahnya. Setelah lama menunggu, ia melihat seekor babi hutan yang gemuk.
Sangkuriang segera menyuruh Si Tumang untuk mengejar babi hutan tersebut, yang ternyata adalah Celeng Wayung Hyang alias nenek Sangkuriang.
Si Tumang pun enggan menjalankan perintah sang anak sehingga membuat Sangkuriang kesal dan mengancam dengan anak panahnya.
Sangkuriang yang konon jadi asal-usul Gunung Tangkuban Parahu tak hanya hidup dalam legenda, tapi juga menginspirasi penamaan kereta api.
Secara tidak sengaja, anak panah itu lepas dan membunuh Si Tumang. Karena bingung, Sangkuriang kemudian menyembelih peliharaannya untuk diambil hatinya
Setelah itu, Sangkuriang kembali pulang dan menyerahkan hati tersebut ke ibunya. Mengira bahwa yang diterimanya adalah hati rusa, Dayang Sumbi pun memasak dan memakannya.
Namun, setelah mengetahui yang ia makan adalah hati Si Tumang, Dayang Sumbi pun marah besar kepada Sangkuriang.
Dayang Sumbi kemudian memukul kepala putranya itu dengan centong atau sendok nasi yang terbuat dari kayu hingga kepala Sangkuriang terluka.
Sangkuriang akhirnya meninggalkan rumah dan mengembara meninggalkan Dayang Sumbi karena takut akan ibunya.
Baca juga: 5 Hotel Sekitar Tangkuban Parahu Ciater, mulai Rp 200.000-an
Sangkuriang ingin menikahi Dayang Sumbi
Kawah Ratu di Gunung Tangkuban Parahu, Bandung. Sangkuriang yang konon jadi asal-usul Gunung Tangkuban Parahu tak hanya hidup dalam legenda, tapi juga menginspirasi penamaan kereta api.
Lama tak bertemu dengan sang ibu setelah pergi dari rumah, Sangkuriang tumbuh menjadi laki-laki dewasa yang kuat dan sakti.
Suatu ketika, ia mengembara hingga tidak menyadari berjalan sampai ke tempat Dayang Sumbi berada. Sangkuriang pun jatuh hati terhadap kecantikan Dayang Sumbi dan tidak mengetahui bahwa perempuan yang dicintainya itu adalah ibunya sendiri.
Saat Sangkuriang berniat menikahinya, Dayang Sumbi menolak karena telah mengetahui bahwa pria yang hendak meminangnya itu adalah putranya.
Dayang Sumbi lantas memberikan syarat yang mustahil dilakukan kepada Sangkuriang apabila ingin menjadi suaminya.
Dayang Sumbi meminta dibuatkan perahu dan telaga yang harus jadi dalam semalam dengan membendung aliran Sungai Citarum. Syarat itu ternyata disanggupi oleh Sangkuriang.
Mengetahui hal itu, Dayang Sumbi takut dan memohon kepada Sang Hayang Tunggal agar menggagalkan usaha Sangkuriang. Ia juga memukulkan alu ke lesung, seolah-olah sedang menumbuk padi dan menjadi pertanda bahwa fajar telah tiba.
Usai gagal memenuhi persyaratan Dayang Sumbi, Sangkuriang pun mengamuk dan menendang perahu yang dibuatnya ke arah utara.
Dalam sekejap, perahu yang jatuh menelungkup itu berubah menjadi Gunung Tangkuban Parahu.
Hingga saat ini, kisah Sangkuriang menjadi bagian penting dari identitas Jawa Barat, menarik wisatawan untuk mengunjungi Gunung Tangkuban Parahu, sekaligus menggali sejarah dan budaya yang melekat di baliknya.
Baca juga: Dulu Kereta Api Melintas sampai Bantul, Ini Peninggalannya hingga Sekarang
Tag: #legenda #sangkuriang #asal #usul #gunung #tangkuban #parahu