Laku Tapa Bisu, Tradisi Hening pada Kirab Pusaka Dalem Mangkunegaran
Kirab Pusaka dalem Pura Mangkunegaran dan Tapa Bisu pada Selasa (18/7/2023).(KOMPAS.com/ANGGARA WIKAN PRASETYA)
07:04
12 Juni 2026

Laku Tapa Bisu, Tradisi Hening pada Kirab Pusaka Dalem Mangkunegaran

Setiap malam 1 Suro, suasana Kota Solo berubah menjadi lebih khidmat. Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, tradisi Laku Tapa Bisu masih terus dijalankan sebagai bagian penting dari Kirab Pusaka Dalem Mangkunegaran.

Ritual ini bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan sarana perenungan dan pengendalian diri yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Laku Tapa Bisu menjadi inti dari prosesi Kirab Pusaka Dalem Mangkunegaran yang digelar untuk menyambut Tahun Baru Jawa (malam 1 Suro).

Baca juga: Waspada Penipuan Kirab Pusaka Dalem 1 Suro Mangkunegaran 2026

Dalam ritual ini, para peserta berjalan tanpa berbicara, tanpa alas kaki, dan tanpa melakukan aktivitas lain selama mengikuti kirab yang membawa pusaka-pusaka Istana Mangkunegaran.

Apa Itu Laku Tapa Bisu?

Istilah Tapa Bisu berasal dari bahasa Jawa. Kata "tapa" berarti bertapa atau menjalani laku spiritual, sedangkan "bisu" berarti diam. Namun, makna tradisi ini jauh lebih dalam daripada sekadar tidak berbicara.

Dilansir dari Kompas.com ( Laku Tapa Bisu merupakan bentuk latihan batin yang mengajak peserta untuk menundukkan ego, mengendalikan diri, serta melakukan introspeksi terhadap perjalanan hidup selama setahun terakhir.

Baca juga: 5 Beda Keraton Solo dan Pura Mangkunegaran, Jangan Sampai Keliru

Keheningan yang dijalani menjadi media untuk mendekatkan diri kepada Tuhan sekaligus merenungkan ucapan dan tindakan yang telah dilakukan.

Dalam filosofi budaya Jawa, diam bukanlah sikap pasif. Sebaliknya, diam dipandang sebagai bentuk kesadaran aktif yang mencerminkan kedisiplinan, kebijaksanaan, serta penghormatan terhadap alam dan warisan leluhur.

Bagian penting dari Kirab Pusaka Dalem

Laku Tapa Bisu selalu menjadi bagian utama dalam Kirab Pusaka Dalem Mangkunegaran setiap tahunnya.

Prosesi ini diawali dengan sejumlah rangkaian acara di dalam istana, termasuk Miyos Dalem Sampeyan Dalem Ingkang Jumeneng Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (SIJ KGPAA) Mangkunegara X dan penyerahan pusaka kepada Cucuk Lampah Kirab.

Setelah seluruh persiapan selesai, kirab diberangkatkan dari kawasan Pamedan Istana Mangkunegaran dengan membawa pusaka-pusaka keraton yang memiliki nilai sejarah dan spiritual bagi keluarga Mangkunegaran.

Jadwal Kirab Pusaka Dalem Mangkunegaran 2026

Masyarakat umum dapat menyaksikan langsung prosesi Kirab Pusaka Dalem Mangkunegaran dari sepanjang rute yang dilalui peserta kirab.

Berdasarkan rilis resmi Istana Mangkunegaran, jadwal pelaksanaan kirab adalah sebagai berikut:

  • Tanggal: Malam 1 Sura, 16 Juni 2026
  • Waktu pemberangkatan: 21.00 WIB
  • Lokasi awal: Pamedan Istana Mangkunegaran, Solo

Baca juga: Refleksi Bulan Suro Mangkunegaran Solo di Tengah Ramainya Sarinah Jakarta

Karena tingginya antusiasme masyarakat, pengunjung disarankan datang lebih awal agar mendapatkan posisi yang nyaman untuk menyaksikan prosesi.

Masyarakat bisa menyaksikan dari pinggir jalan

Meski tidak semua orang dapat menjadi peserta resmi kirab, masyarakat tetap bisa ikut merasakan suasana sakral Laku Tapa Bisu dengan menyaksikan prosesi dari pinggir jalan.

Peserta Kirab Pusakadalem Pura Mangkunegaran, Minggu (7/7/2024).KOMPAS.com/ANGGARA WIKAN PRASETYA Peserta Kirab Pusakadalem Pura Mangkunegaran, Minggu (7/7/2024).

Selama kirab berlangsung, penonton diharapkan menjaga ketenangan dan menghormati kekhidmatan acara.

Sikap tersebut menjadi bagian dari penghormatan terhadap tradisi yang telah berlangsung selama puluhan tahun.

Aturan berpakaian dan etika selama Kirab Pusaka Dalem Mangkunegaran

Panitia juga menerapkan sejumlah aturan untuk menjaga kesakralan Kirab Pusaka Dalem Mangkunegaran. Pengunjung diimbau tidak menggunakan lampu kilat atau flash saat memotret prosesi.

Sementara itu, peserta resmi diwajibkan mengenakan pakaian adat khas Mangkunegaran. Untuk pria, busana yang dikenakan berupa beskap, blangkon, dan keris. Sedangkan perempuan mengenakan kebaya hitam lengkap dengan sanggul.

Baca juga: Kirab Pusaka Malam 1 Suro Mangkunegaran, Saat Ratusan Orang Berjalan dalam Keheningan

Adapun ketentuan pakaian yang berlaku meliputi penggunaan busana hitam dan jarik sogan, serta larangan mengenakan kain berbahan beludru maupun jarik bermotif keraton seperti parang atau lereng.

Melalui Laku Tapa Bisu, masyarakat tidak hanya menyaksikan sebuah tradisi budaya, tetapi juga diajak memahami nilai-nilai luhur tentang kesederhanaan, pengendalian diri, dan refleksi batin.

Di tengah dunia yang semakin bising, ritual diam ini menjadi pengingat bahwa keheningan juga memiliki makna yang mendalam.

Tag:  #laku #tapa #bisu #tradisi #hening #pada #kirab #pusaka #dalem #mangkunegaran

KOMENTAR