Harga Bensin di AS Naik Tajam, Tertinggi sejak 2022
- Harga bensin di Amerika Serikat (AS) melonjak ke level tertinggi sejak 2022, seiring lonjakan harga minyak dunia yang menembus angka 100 dollar AS per barel di tengah eskalasi konflik di Timur Tengah.
Berdasarkan data AAA, rata-rata harga bensin nasional naik di atas 3,91 dollar AS per galon (setara 3,785 liter) pada Jumat (20/3/2026). Dalam sebulan terakhir, harga tersebut telah meningkat tajam hingga 0,98 dollar AS per galon.
Jika dikonversi dengan kurs Rp 16.971 per dollar AS, harga bensin tersebut setara sekitar Rp 66.356 per galon, dengan kenaikan bulanan sekitar Rp 16.631 per galon.
Baca juga: Pemerintah Kaji WFH 1 Hari Sepekan, Airlangga: Bisa Hemat Bensin Signifikan
Mengutip Yahoo Finance, Sabtu (21/3/2026), kenaikan ini terjadi secara bertahap dalam beberapa pekan terakhir dan diperkirakan masih berlanjut.
Dengan tren saat ini, harga bensin berpotensi menembus 4 dollar AS per galon dalam waktu dekat atau sekitar Rp 67.884 per galon.
Kepala analisis perminyakan di GasBuddy, Patrick De Haan, mengatakan peluang tersebut sangat terbuka. “Saat ini terlihat sangat mungkin,” ujarnya.
Lonjakan harga minyak menjadi faktor utama. Sejak perang Iran pecah, harga minyak telah naik lebih dari 40 persen. Selain itu, penggunaan campuran bahan bakar musim panas yang lebih mahal turut mendorong kenaikan harga di tingkat konsumen.
Baca juga: Dampak Perang Iran Sampai Filipina: Harga BBM Selangit, Sopir Jeepney Demo
Di sisi kebijakan, Presiden AS, Donald Trump pada Rabu (18/3/2026) mengumumkan pelonggaran sementara terhadap Jones Act, yang memungkinkan kapal non-AS mengangkut barang antarwilayah di dalam negeri.
Kebijakan ini dinilai hanya berdampak terbatas terhadap harga bahan bakar, tetapi membantu memperlancar distribusi energi di pasar domestik.
Sementara itu, harga solar di AS juga melonjak tajam. Dalam sebulan terakhir, harga solar naik sekitar 38 persen hingga melampaui 5 dollar AS per galon, setara sekitar Rp 84.855 per galon, level tertinggi dalam empat tahun terakhir.
Kenaikan harga bahan bakar, terutama untuk truk dan alat berat, menjadi perhatian karena sekitar 70 persen distribusi barang di AS bergantung pada transportasi darat.
Baca juga: Menkeu Purbaya Pastikan Harga BBM Subsidi Tak Naik hingga Akhir Tahun
Ketua The Fed, Jerome Powell, menegaskan bahwa lonjakan harga energi berisiko merembet ke inflasi. “Banyak sekali jalur bagaimana minyak dan turunannya masuk ke proses produksi dan distribusi berbagai barang,” ujarnya.
Harga minyak sendiri terus menguat. Minyak mentah acuan AS, West Texas Intermediate, naik di atas 95 dollar AS per barel (sekitar Rp 1,61 juta). Sementara minyak acuan global, Brent crude, telah menembus 103 dollar AS per barel (sekitar Rp 1,75 juta).
Kenaikan ini dipicu eskalasi konflik terbaru setelah serangan Israel yang merusak fasilitas pengolahan gas besar di barat daya Iran. Teheran kemudian membalas dengan menargetkan infrastruktur energi di kawasan tersebut.
Kondisi ini membuat pasar minyak bergerak cepat. Senior Vice President di BOK Financial, Dennis Kissler, menyebut situasi saat ini sebagai “fast market” yang sangat sensitif terhadap perkembangan geopolitik.
Baca juga: Harga Bensin Naik, Penjualan Mobil Listrik Bekas Terdongkrak
Pelaku pasar juga mencermati Selat Hormuz, jalur penting distribusi minyak global yang kini mengalami perlambatan signifikan. Jika konflik berlarut, gangguan pasokan bisa semakin parah.
Analis RBC Capital Markets memperkirakan harga minyak dunia berpotensi melampaui 128 dollar AS per barel (sekitar Rp 2,17 juta) jika konflik berlanjut tiga hingga empat pekan.
Jika berlangsung berbulan-bulan, harga minyak dunia bahkan bisa melampaui rekor 2008 di level 146 dollar AS per barel (sekitar Rp 2,47 juta).