Harga Bitcoin Turun ke 69.200 Dollar AS, Ultimatum Trump ke Iran Picu Volatilitas
Ilustrasi bitcoin. (WIKIMEDIA COMMONS/JORGE FRANGANILLO)
14:04
22 Maret 2026

Harga Bitcoin Turun ke 69.200 Dollar AS, Ultimatum Trump ke Iran Picu Volatilitas

Pasar derivatif kripto menunjukkan tingkat kehati-hatian investor yang semakin tinggi seiring meningkatnya premi lindung nilai terhadap potensi penurunan harga Bitcoin (BTC).

Di saat yang sama, tekanan geopolitik global turut memicu volatilitas harga aset digital terbesar di dunia tersebut.

Dikutip dari CoinDesk, Minggu (22/3/2026), laporan terbaru perusahaan manajemen investasi VanEck menunjukkan pelaku pasar opsi Bitcoin kini membayar harga yang sangat tinggi untuk perlindungan dari risiko penurunan (downside protection), menandakan sentimen extreme fear di kalangan investor.

Baca juga: Harga Bitcoin Bertahan di 70.000 Dollar AS, Analis Soroti Sinyal Reset Siklus

Ilustrasi bitcoin. Harga Bitcoin bergerak sangat fluktuatif di tengah ketidakpastian pasar global akibat perang Iran. Meski sempat melonjak tajam, reli kripto terbesar di dunia itu mulai kehilangan momentum.UNSPLASH/ERLING LOKEN ANDERSEN Ilustrasi bitcoin. Harga Bitcoin bergerak sangat fluktuatif di tengah ketidakpastian pasar global akibat perang Iran. Meski sempat melonjak tajam, reli kripto terbesar di dunia itu mulai kehilangan momentum.

Menurut laporan VanEck bertajuk Bitcoin ChainCheck edisi pertengahan Maret 2026, premi opsi jual (put options) relatif terhadap volume perdagangan spot mencapai rekor tertinggi sepanjang data yang dihimpun perusahaan tersebut.

Permintaan lindung nilai melonjak

VanEck mencatat, investor kripto menggelontorkan sekitar 685 juta dollar AS untuk membeli opsi jual dalam 30 hari terakhir.

Sebaliknya, premi opsi beli (call options) justru turun sekitar 12 persen menjadi sekitar 562 juta dollar AS.

Baca juga: Bitcoin Melemah ke 70.000 Dollar AS, Investor Respons Kebijakan Ketat The Fed

Perusahaan tersebut menilai bahwa lonjakan permintaan perlindungan risiko ini mencerminkan sikap defensif investor meskipun harga spot Bitcoin mulai menunjukkan tanda stabilisasi.

“Dibandingkan dengan volume spot, premi put mencapai titik tertinggi sepanjang masa,” tulis analis senior VanEck dalam laporan tersebut.

Ilustrasi kripto. UNSPLASH/TRAXER Ilustrasi kripto.

Selain itu, rasio put/call open interest rata-rata tercatat sebesar 0,77 dan sempat mencapai puncak di level 0,84.

Level tersebut menjadi yang tertinggi sejak pertengahan 2021 ketika China memperketat kebijakan terhadap aktivitas penambangan Bitcoin.

Baca juga: Bitcoin Tembus 75.600 Dollar AS di Tengah Perang Timur Tengah, Kripto Jadi Safe Haven?

VanEck juga mencatat volatilitas realisasi Bitcoin menurun dari sekitar 80 menjadi sedikit di atas 50 dalam beberapa pekan terakhir.

Pada saat yang sama, tingkat pendanaan kontrak berjangka (futures funding rates) turun menjadi 2,7 persen dari sebelumnya 4,1 persen, yang menandakan berkurangnya spekulasi dengan leverage tinggi di pasar kripto.

Aktivitas on-chain masih lemah

Laporan tersebut turut menyoroti aktivitas transaksi di jaringan blockchain Bitcoin masih relatif lemah. Namun demikian, tekanan jual dari penambang (miners) dinilai masih terkendali.

VanEck menemukan, dalam enam tahun terakhir, periode ketika indikator opsi menunjukkan ketakutan ekstrem justru sering diikuti kenaikan harga Bitcoin.

Baca juga: Harga Minyak Tembus 110 Dollar AS, Bitcoin (BTC) Ikut Bergejolak

Rata-rata, harga Bitcoin meningkat sekitar 13 persen dalam 90 hari setelah indikator serupa muncul, serta sekitar 133 persen dalam horizon 360 hari.

Temuan tersebut menunjukkan lonjakan permintaan lindung nilai tidak selalu menandakan penurunan lanjutan, melainkan bisa mencerminkan fase akhir dari tekanan pasar.

Harga Bitcoin tertekan faktor geopolitik

Di sisi lain, dinamika harga Bitcoin dalam beberapa hari terakhir juga dipengaruhi ketegangan geopolitik global.

Harga Bitcoin dilaporkan turun di bawah 69.200 dollar AS setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengeluarkan ultimatum 48 jam kepada Iran terkait pembukaan kembali Selat Hormuz.

Mata uang kripto paling mahal di dunia, bitcoin (BTC). Harga Bitcoin anjlok ke Rp 1,84 miliar akibat memanasnya perang dagang AS?China.  UNSPLASH/KANCHANARA Mata uang kripto paling mahal di dunia, bitcoin (BTC). Harga Bitcoin anjlok ke Rp 1,84 miliar akibat memanasnya perang dagang AS?China.

Baca juga: Data Tenaga Kerja AS Negatif, Harga Bitcoin dan Kripto Kompak Melemah

Penurunan harga tersebut terjadi di tengah likuidasi posisi kripto senilai sekitar 299 juta dollar AS, yang memperlihatkan tekanan jual di pasar derivatif.

Dikutip dari Reuters, ultimatum tersebut menambah ketidakpastian pasar keuangan global.

Trump memperingatkan bahwa AS akan menyerang dan “menghancurkan” pembangkit listrik Iran jika negara tersebut tidak membuka kembali jalur pelayaran strategis tersebut dalam waktu 48 jam.

Selat Hormuz merupakan jalur vital bagi sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas dunia. Pembatasan lalu lintas di wilayah tersebut telah memicu lonjakan harga energi dan meningkatkan risiko guncangan ekonomi global.

Baca juga: Bitcoin Bertahan di Tengah Konflik Timur Tengah, Masih di Level 68.000–72.000 Dollar AS

Ketegangan militer antara Iran dan AS serta Israel, termasuk serangan misil dan potensi serangan balasan terhadap infrastruktur energi, juga memperburuk sentimen pasar.

Likuidasi memperbesar volatilitas

Penurunan harga Bitcoin di bawah level psikologis 70.000 dollar AS turut dipicu likuidasi besar-besaran di pasar derivatif.

Likuidasi terjadi ketika posisi dengan leverage tinggi dipaksa ditutup akibat pergerakan harga yang berlawanan, sehingga mempercepat tekanan jual.

Kondisi tersebut menambah volatilitas pasar kripto yang sejak awal tahun telah dipengaruhi kombinasi faktor makroekonomi, termasuk ketidakpastian suku bunga, fluktuasi harga energi, serta ketegangan geopolitik global.

Baca juga: Harga Bitcoin Naik Turun Tajam, Pasar Masih Dibayangi Perang Iran

Dalam konteks ini, pelaku pasar cenderung meningkatkan alokasi untuk strategi lindung nilai guna mengantisipasi risiko pergerakan harga ekstrem.

Ilustrasi bitcoin.UNSPLASH/KANCHANARA Ilustrasi bitcoin.

Sentimen investor masih rapuh

Data dari VanEck menunjukkan bahwa meskipun harga Bitcoin tidak mengalami penurunan tajam dalam beberapa pekan terakhir, sentimen investor tetap cenderung defensif.

Permintaan tinggi terhadap opsi perlindungan menandakan bahwa pelaku pasar masih mengantisipasi potensi guncangan baru, terutama yang dipicu faktor eksternal seperti konflik geopolitik dan perubahan kebijakan ekonomi global.

Selain itu, melemahnya spekulasi berbasis leverage serta menurunnya volatilitas realisasi juga mencerminkan fase konsolidasi di pasar kripto.

Baca juga: CEO Tokocrypto: Gejolak Geopolitik Tekan Bitcoin, Investor Tetap Buy the Dip

Di tengah kondisi tersebut, pasar derivatif Bitcoin menjadi indikator penting untuk membaca arah sentimen investor.

Lonjakan premi lindung nilai dapat mencerminkan kecenderungan pelaku pasar untuk mengurangi eksposur risiko sekaligus mempertahankan posisi investasi jangka panjang.

Ketidakpastian global terus membayangi

Perkembangan konflik di Timur Tengah menjadi salah satu faktor yang terus mempengaruhi pergerakan aset berisiko, termasuk kripto.

Ancaman gangguan pasokan energi global akibat pembatasan di Selat Hormuz telah meningkatkan kekhawatiran inflasi dan perlambatan ekonomi.

Baca juga: Bitcoin Melonjak Hampir 7 Persen, Harga Bertahan di Atas 72.000 Dollar AS

Dalam situasi tersebut, investor global cenderung menyesuaikan portofolio mereka dengan meningkatkan strategi lindung nilai atau mengurangi posisi spekulatif.

Dinamika ini tercermin di pasar opsi Bitcoin yang menunjukkan peningkatan signifikan permintaan terhadap proteksi downside, sekaligus menandakan tingkat kehati-hatian yang tinggi di kalangan pelaku pasar kripto.

Tag:  #harga #bitcoin #turun #69200 #dollar #ultimatum #trump #iran #picu #volatilitas

KOMENTAR