Ketegangan Iran-AS Memanas, Infrastruktur Energi Kawasan Jadi Target
— Iran memperingatkan akan menyerang fasilitas energi di kawasan Timur Tengah jika Amerika Serikat (AS) dan Israel melanjutkan rencana serangan terhadap pembangkit listriknya.
Ancaman ini menambah ketidakpastian di pasar energi global di tengah eskalasi konflik yang telah berlangsung selama beberapa pekan terakhir.
Peringatan tersebut muncul setelah Presiden AS Donald Trump mengeluarkan ultimatum agar Iran membuka penuh jalur pelayaran di Selat Hormuz, atau menghadapi potensi serangan terhadap infrastruktur listriknya.
Baca juga: Proyeksi Harga Minyak 2026 Naik, Goldman Sachs Soroti Risiko Pasokan
Pemerintah Teheran menyatakan akan merespons secara setimpal apabila ancaman itu direalisasikan.
Ilustrasi Selat Hormuz.
Ancaman serangan balasan terhadap fasilitas energi
Dalam pernyataan resmi yang dikutip dari Reuters, Senin (23/3/2026), Korps Garda Revolusi Iran menegaskan pihaknya siap menargetkan pembangkit listrik Israel serta fasilitas yang memasok energi bagi pangkalan militer AS di kawasan.
Pernyataan itu menekankan strategi penangkalan timbal balik dengan pesan bahwa “jika Anda menyerang listrik, kami menyerang listrik.”
Iran juga sebelumnya memperingatkan kemungkinan serangan terhadap infrastruktur energi dan air di negara-negara Teluk jika pembangkit listriknya menjadi target serangan.
Baca juga: Tren Harga Minyak Dunia di Atas 100 Dollar AS Diprediksi Bisa Berlangsung hingga 2027
Kekhawatiran muncul karena banyak negara di kawasan sangat bergantung pada fasilitas desalinasi untuk pasokan air bersih.
Ketegangan meningkat setelah Trump menetapkan tenggat sekitar 48 jam bagi Iran untuk memastikan Selat Hormuz tetap terbuka sepenuhnya bagi pelayaran internasional.
Ultimatum tersebut memperdalam kekhawatiran pasar energi terkait potensi gangguan distribusi minyak global.
Ilustrasi Selat Hormuz.
Selat Hormuz dan risiko guncangan pasar energi
Selat Hormuz merupakan jalur strategis bagi perdagangan energi dunia, dengan sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair global melewati perairan tersebut.
Baca juga: AS-Iran Saling Ancam, Krisis Selat Hormuz Picu Lonjakan Harga Minyak Dunia
Gangguan di jalur ini berpotensi memicu lonjakan harga energi dan volatilitas pasar yang lebih luas.
Iran menyatakan, jalur tersebut tetap terbuka bagi kapal yang tidak terkait dengan negara yang dianggap sebagai “musuh”, namun menegaskan bahwa pelayaran harus berkoordinasi dengan otoritas Teheran demi keselamatan.
Dalam perkembangan terbaru, ancaman Iran untuk menutup jalur pelayaran strategis itu disebut sebagai bagian dari respons terhadap potensi serangan terhadap infrastruktur listrik domestiknya.
Eskalasi konflik dan dampaknya pada stabilitas kawasan
Konflik antara Iran, AS, dan Israel telah memasuki pekan keempat, dengan intensitas serangan yang meningkat dan memicu kekhawatiran terhadap perluasan perang di kawasan.
Baca juga: Harga Minyak Dunia Diperkirakan “Menggila” Awal Pekan Ini
Dikutip dari The Guardian, Iran sebelumnya menyatakan siap “menghancurkan secara permanen” infrastruktur vital di Timur Tengah jika pembangkit listriknya diserang.
Ketegangan militer juga memicu ketidakstabilan di pasar energi global.
Prospek serangan timbal balik terhadap fasilitas sipil dinilai dapat memperparah gangguan pasokan energi, sekaligus meningkatkan risiko krisis kemanusiaan akibat terganggunya akses air dan listrik di sejumlah negara.
Selain itu, serangan udara dan peluncuran rudal yang terjadi dalam beberapa hari terakhir menunjukkan bahwa meski mengalami tekanan militer, Iran masih memiliki kemampuan untuk melakukan serangan balasan di berbagai titik strategis di kawasan.
Baca juga: IEA Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Minyak dan Beban Konsumen Global
Kementerian Pertahanan Arab Saudi mengungkapkan pihaknya berhasil mencegat dua drone yang berupaya menyerang kilang minyak Ras Tanura pada Senin (2/3/2026).
Infrastruktur energi sebagai sasaran strategis
Fasilitas energi, termasuk pembangkit listrik dan instalasi minyak serta gas, menjadi target strategis dalam konflik yang berkembang.
Serangan terhadap infrastruktur semacam itu berpotensi menimbulkan efek berantai terhadap ekonomi regional maupun global, mengingat ketergantungan tinggi terhadap pasokan energi dari Timur Tengah.
Pernyataan pejabat Iran juga menegaskan bahwa setiap serangan terhadap jaringan listrik domestik akan direspons dengan tindakan serupa terhadap infrastruktur energi negara lain di kawasan.
Di tengah meningkatnya ketegangan, sejumlah pihak internasional menyerukan deeskalasi guna mencegah konflik meluas dan meminimalkan dampak terhadap stabilitas energi global.
Baca juga: AS Buka Keran Minyak Iran Sebulan, Pasokan Belum Tentu Mengalir
Namun, hingga kini belum ada indikasi kuat bahwa semua pihak akan segera menahan diri dari tindakan militer lebih lanjut.
Prospek serangan timbal balik terhadap fasilitas energi tetap menjadi salah satu risiko utama yang diperhatikan pelaku pasar dan pemerintah di berbagai negara, terutama terkait potensi gangguan distribusi minyak dan gas dunia.
Tag: #ketegangan #iran #memanas #infrastruktur #energi #kawasan #jadi #target