OJK: Perbankan Perlu Siapkan Skenario Terburuk Konflik Timur Tengah
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae ketika ditemui usai Pengucapan Sumpah Jabatan Anggota Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan, Rabu (25/3/2026).(KOMPAS.com/ AGUSTINUS RANGGA RESPATI)
13:32
26 Maret 2026

OJK: Perbankan Perlu Siapkan Skenario Terburuk Konflik Timur Tengah

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah meminta perbankan dan pengawas industri melihat konflik Timur Tengah sebagai sebuah peringatan untuk mempersiapkan kemungkinan terburuk.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengatakan, pihaknya tengah mempersiapkan diri dalam menghadapi volatilitas global ini.

"Kita harus siap-siap dalam pengertian bahwa yang bisa dikatakan kalau situasinya memang semakin memburuk, kita harus melakukan langkah tertentu ya untuk me-review ulang berbagai kebijakan kita," kata dia ketika ditemui usai Pengucapan Sumpah Jabatan Anggota Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan, Rabu (25/3/2026).

Baca juga: OJK Gandeng Polisi Tangkap Tersangka Tindak Pidana Perbankan PT BPR DCN

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae menyampaikan strategi penurunan bunga kredit di Jakarta, Kamis (26/2/2026).ANTARA/Rizka Khaerunnisa Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae menyampaikan strategi penurunan bunga kredit di Jakarta, Kamis (26/2/2026).

Ia menambahkan, tinjauan ulang tersebut terutama perlu dilakukan terutama untuk hal-hal yang berkaitan dengan eksposur impor dan ekspor.

"Ya tentu akan ada gangguan di beberapa sektor tertentu yang terutama sangat internasional exposed, misalnya ekspor impor," imbuh dia.

Dian menilai, sejauh ini dampak dari konflik ini terhadap stabilitas finansial tidak terlalu serius.

Ia membandingkan dengan situasi yang lebih berat seperti pada masa pandemi Covid-19.

Baca juga: OJK: Universal Banking Jadi Strategi Penguatan Industri Perbankan RI

Sektor perbankan disebut terus waspada terutama ketika situasinya semakin memburuk.

Kendati demikian, perkembangan yang terjadi dinilai menuju pada keputusan damai.

Pasalnya, perang ini tidak lagi urusan menyerang satu negara tetapi telah menghajar ekonomi seluruh dunia.

Dengan demikian, perang ini secara umum tidak dikehendaki oleh masyarakat seluruh dunia.

Baca juga: Kredit Perbankan Melambat ke 9,37 Persen pada Februari 2026, BI Tetap Optimistis

"Oleh karena itu, mungkin pressure untuk mengakhiri kalau menurut saya akan lebih cepat. Untuk supaya jangan sampai krisis perekonomian kena, masyarakat kena," ungkap Dian.

Sebagai pengimpor gas dan minyak bumi, Indonesia jelas terdampak dengan konflik yang terjadi antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran tersebut.

"Dan buat kita ini juga sudah cukup kritikal karena kita kan banyak mengimpor gas dan minyak gitu kan," tutup dia.

Tag:  #perbankan #perlu #siapkan #skenario #terburuk #konflik #timur #tengah

KOMENTAR