Krisis Energi Picu Gejolak di Chili, Popularitas Presiden Turun
Presiden Chili José Antonio Kast.(FLIKR EQUIPO KAST)
07:12
27 Maret 2026

Krisis Energi Picu Gejolak di Chili, Popularitas Presiden Turun

— Kenaikan tajam harga bahan bakar memicu keresahan di Chili. Antrean panjang muncul di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), sementara sebagian lokasi kehabisan stok.

Pemerintah mulai memberlakukan harga baru pada Kamis. Kebijakan ini menyesuaikan harga domestik dengan lonjakan minyak global akibat konflik Timur Tengah.

Pemerintahan Presiden Jose Antonio Kast, yang dilantik pada 11 Maret, mengaktifkan mekanisme stabilisasi bahan bakar untuk mempercepat penyesuaian harga.

Pemerintah menyebut ruang fiskal tidak cukup untuk menahan lonjakan biaya energi. Kenaikan harga langsung diterapkan di seluruh SPBU.

Harga bensin oktan 93 naik sekitar 30 persen. Harga solar melonjak hingga 60 persen.

Baca juga: Filipina Umumkan Darurat Energi, Bangladesh Krisis BBM, Korsel Aktifkan Mode Siaga

Antrean panjang dan protes pecah

Warga menyerbu SPBU sebelum kebijakan berlaku. Premium sempat habis setelah antrean panjang pada malam sebelumnya.

"Saya datang untuk membeli 'emas'," kata pengemudi Valentina Ortega.

"Jujur saja, saya merasa ini mengerikan. Baru beberapa hari dan dia sudah melakukan hal-hal yang memengaruhi seluruh kelas menengah dan kelas bawah - tetapi tidak ada yang diketahui tentang apa yang akan dia lakukan terhadap kelas atas," ujarnya.

Kenaikan harga memicu demonstrasi di pusat kota Santiago. Mahasiswa turun ke jalan membawa spanduk bertuliskan "menentang kemunduran".

Aksi sempat diwarnai bentrokan dengan polisi. Beberapa stasiun kereta bawah tanah ditutup sementara.

Kast membela kebijakan tersebut.

"Meskipun ini adalah langkah yang kompleks dan sulit... ada pemahaman bahwa situasi global memengaruhi kita," kata Kast.

Ia juga mengkritik aksi yang mengganggu transportasi publik.

Baca juga: Antisipasi Krisis Energi, Malaysia Kurangi Jatah BBM Subsidi

Dampak kebijakan mulai terlihat pada tingkat kepercayaan publik. Survei Cadem menunjukkan tingkat persetujuan Kast turun empat poin menjadi 47 persen.

Sebanyak 59 persen responden menilai kenaikan harga bisa dihindari. Sebanyak 54 persen memperkirakan harga bahan bakar akan terus naik.

"Tidak ada seorang pun di negara mana pun yang senang ketika harga bensin naik. Hal itu langsung mengancam popularitasnya dalam jangka pendek dan menciptakan tantangan tata kelola tergantung pada berapa lama harga tetap tinggi," kata Cate Klemme dari Southern Pulse.

Risiko inflasi dan dampak luas

Kenaikan harga bahan bakar mulai menekan biaya hidup. Transportasi menjadi lebih mahal dan berdampak pada harga barang.

"Semuanya akan naik karena semua barang di Chili diangkut melalui darat. Jadi makanan, hasil pertanian, sayuran, semuanya akan menjadi lebih mahal," kata Francisca Alfaro, pengacara di Santiago.

Pemerintah menahan tarif transportasi umum hingga Desember untuk meredam dampak.

Namun analis JPMorgan menilai tekanan inflasi tetap tinggi. Bank sentral Chili memproyeksikan inflasi naik hingga sekitar 4 persen secara tahunan pada kuartal kedua.

Menteri Keuangan Jorge Quiroz menyebut penyesuaian harga berikutnya akan dilakukan bertahap. Penurunan harga minyak global akan diteruskan ke pasar domestik.

Risiko sosial dan politik jangka pendek

Kast menilai kondisi fiskal saat ini merupakan warisan pemerintahan sebelumnya. Ia menyalahkan mantan Presiden Gabriel Boric atas tekanan keuangan negara.

Ia menegaskan akan menjalankan "pemerintahan darurat" untuk memulihkan ekonomi.

Pengamat politik Universitas Valparaiso, Guillermo Holzmann, menilai kebijakan ini berisiko tinggi secara politik.

Kast "membayar biaya politik-sosial yang signifikan mengingat penolakan publik terhadap langkah seperti ini, namun berharap untuk menuai, pada akhir krisis ini, posisi yang lebih baik di mata publik."

Analis melihat potensi protes lanjutan, termasuk dari sektor transportasi, jika harga energi tetap tinggi.

Tag:  #krisis #energi #picu #gejolak #chili #popularitas #presiden #turun

KOMENTAR