Mengenal Metode 70/20/10 untuk Kelola Gaji dengan Efektif
Mengatur keuangan pribadi menjadi salah satu langkah penting untuk menjaga stabilitas finansial, terutama di tengah meningkatnya biaya hidup.
Salah satu metode pengelolaan keuangan yang cukup sederhana dan banyak digunakan adalah aturan 70/20/10.
Metode ini menawarkan pendekatan praktis dalam membagi pendapatan bulanan ke dalam tiga pos utama, yaitu pengeluaran, tabungan atau investasi, serta pembayaran utang atau donasi.
Baca juga: 6 Cara Mengatur Keuangan Setelah Lebaran agar Dompet Cepat Pulih
Ilustrasi gaji. Pemerintah menanggung PPh Pasal 21 bagi pekerja bergaji hingga Rp 10 juta per bulan sepanjang 2026. Insentif ini berlaku untuk pegawai di lima sektor usaha tertentu dengan sejumlah syarat.
Dengan struktur yang mudah dipahami, aturan ini kerap menjadi pilihan bagi individu yang baru mulai belajar mengatur keuangan.
Apa itu aturan 70/20/10?
Mengacu pada Business Insider, Sabtu (28/3/2026), aturan 70/20/10 merupakan panduan penganggaran yang membagi pendapatan setelah pajak ke dalam tiga kategori utama.
Sebanyak 70 persen dialokasikan untuk pengeluaran, baik kebutuhan pokok maupun keinginan, 20 persen untuk tabungan dan investasi, serta 10 persen untuk pembayaran utang tambahan atau donasi.
Pendekatan ini mirip dengan metode anggaran lain seperti 50/30/20, namun dengan pembagian yang lebih sederhana karena tidak memisahkan secara rinci antara kebutuhan dan keinginan dalam pos pengeluaran.
Baca juga: 5 Cara Mengatur Keuangan di Tengah Kondisi Ekonomi Tak Menentu
Alokasi 70 persen untuk pengeluaran
Dalam aturan ini, porsi terbesar yakni 70 persen digunakan untuk seluruh pengeluaran, termasuk biaya hidup sehari-hari dan kebutuhan non-esensial.
Pengeluaran tersebut mencakup kebutuhan tetap seperti sewa atau cicilan rumah, listrik, transportasi, hingga belanja makanan.
Ilustrasi mengatur keuangan.
Di sisi lain, pengeluaran fleksibel seperti hiburan, makan di luar, atau belanja juga masuk dalam kategori yang sama.
Berbeda dengan metode lain yang memisahkan kebutuhan dan keinginan, aturan 70/20/10 menggabungkan keduanya.
Baca juga: 8 Cara Mengatur Keuangan Rumah Tangga agar Tidak Boros
Hal ini membuat perencanaan lebih sederhana, namun menuntut kedisiplinan dalam mengontrol pengeluaran.
Dalam praktiknya, Anda disarankan untuk tetap mengetahui berapa proporsi pengeluaran tetap dan berapa yang bersifat fleksibel agar anggaran tetap terkendali.
Alokasi 20 persen untuk tabungan dan investasi
Sebesar 20 persen dari pendapatan dialokasikan untuk tabungan atau investasi. Pos ini berfungsi sebagai fondasi untuk mencapai tujuan keuangan jangka pendek maupun panjang.
Dana tersebut dapat digunakan untuk membangun dana darurat, menabung untuk uang muka rumah, hingga investasi untuk pensiun.
Baca juga: 5 Tips Mengatur Keuangan Jelang Lebaran dengan Bijak
Selain itu, sebagian orang mungkin sudah memiliki tabungan otomatis melalui program pensiun di tempat kerja.
Dalam kondisi tersebut, alokasi dari pendapatan yang diterima bisa disesuaikan dengan kebutuhan.
Metode ini juga mendorong kebiasaan menyisihkan uang secara konsisten. Salah satu strategi yang disarankan adalah mengotomatiskan tabungan, sehingga dana langsung dialihkan begitu menerima gaji.
Alokasi 10 persen untuk utang atau donasi
Sisa 10 persen dari pendapatan digunakan untuk pembayaran utang tambahan atau donasi. Dalam konteks utang, alokasi ini ditujukan untuk pembayaran di luar kewajiban minimum.
Baca juga: Tips Mengatur Keuangan Saat Ramadhan agar Tidak Boncos ala OJK
Ilustrasi mengatur keuangan, mengelola keuangan.
Sebagai contoh, cicilan minimum kartu kredit atau pinjaman biasanya sudah masuk dalam kategori pengeluaran bulanan. Sementara itu, tambahan pembayaran untuk mempercepat pelunasan utang masuk dalam porsi 10 persen ini.
Selain untuk utang, porsi ini juga dapat digunakan untuk kegiatan sosial seperti donasi ke lembaga amal, tempat ibadah, atau membantu keluarga.
Keberadaan pos donasi menjadi salah satu pembeda utama metode 70/20/10 dibandingkan metode anggaran lainnya.
Keunggulan metode 70/20/10
Salah satu kelebihan utama metode ini adalah kesederhanaannya. Dengan hanya tiga kategori utama, individu tidak perlu melakukan pencatatan yang terlalu rinci.
Baca juga: Apa Itu Prinsip 40/30/20/10 dalam Mengatur Keuangan?
Menurut perencana keuangan Dani Pascarella, pendekatan sederhana ini sangat cocok bagi pemula yang belum terbiasa mengatur keuangan.
“Sebagian besar sekolah tidak mengajarkan keuangan pribadi. Jadi kebanyakan orang berada dalam situasi di mana mereka merasa bahwa semua orang di sekitar mereka tahu hal-hal ini,” ujar Pascarella.
Selain itu, metode ini membantu membangun kebiasaan menabung secara konsisten melalui alokasi 20 persen yang jelas.
Adanya porsi khusus untuk donasi juga menjadikan metode ini menarik bagi individu yang ingin tetap berbagi tanpa mengganggu stabilitas keuangan.
Baca juga: Bagaimana Cara Mengatur Keuangan agar Tidak Boros?
Tantangan dalam penerapan
Meski sederhana, metode 70/20/10 juga memiliki sejumlah keterbatasan. Salah satunya adalah tidak adanya pemisahan antara kebutuhan dan keinginan dalam kategori pengeluaran.
Hal ini dapat menyulitkan individu untuk mengidentifikasi apakah pengeluaran yang dilakukan sudah efisien atau masih bisa ditekan.
Selain itu, target menabung sebesar 20 persen bisa terasa cukup berat, terutama bagi mereka yang memiliki pendapatan terbatas atau tinggal di daerah dengan biaya hidup tinggi.
Ilustrasi mengatur keuangan, anak muda mengatur keuangan.
Pascarella menyebut, angka tersebut bisa menjadi target jangka panjang, bukan kewajiban yang harus langsung dipenuhi.
Baca juga: Apa Itu Prinsip 50/30/20 dalam Mengatur Keuangan?
“Ketahuilah bahwa Roma tidak dibangun dalam sehari, begitu pula anggaran dan rencana tabungan yang sempurna,” ujarnya.
Tantangan lain adalah keterbatasan dalam mengakomodasi kondisi keuangan yang kompleks, seperti utang dengan bunga tinggi.
Dalam beberapa kasus, alokasi 10 persen mungkin tidak cukup untuk mempercepat pelunasan utang.
Perbandingan dengan metode lain
Metode 70/20/10 sering dibandingkan dengan aturan 50/30/20 yang membagi pendapatan menjadi tiga kategori berbeda, yaitu kebutuhan, keinginan, dan tabungan.
Baca juga: 5 Tips Mengatur Keuangan Agar Bebas Hutang
Pada metode 50/30/20, sebanyak 50 persen dialokasikan untuk kebutuhan, 30 persen untuk keinginan, dan 20 persen untuk tabungan atau pelunasan utang.
Perbedaan utama terletak pada tingkat detail. Metode 50/30/20 memberikan batas yang lebih jelas antara kebutuhan dan keinginan, sementara 70/20/10 lebih sederhana karena menggabungkan keduanya.
Selain itu, metode lain seperti zero-based budgeting mengharuskan setiap rupiah memiliki tujuan tertentu, sehingga membutuhkan pencatatan yang lebih rinci dan disiplin tinggi.
Cara menerapkan aturan 70/20/10
Untuk mulai menggunakan metode ini, langkah pertama adalah menghitung pendapatan bersih bulanan setelah pajak.
Baca juga: Cara Mengatur Keuangan untuk Anda yang Terdampak PHK
Selanjutnya, pendapatan tersebut dibagi sesuai dengan proporsi 70 persen untuk pengeluaran, 20 persen untuk tabungan atau investasi, dan 10 persen untuk utang atau donasi.
Penting untuk memantau pengeluaran secara rutin agar tidak melebihi batas yang telah ditentukan.
Ilustrasi mengatur keuangan, membuat resolusi keuangan. Freelancer kerap berhadapan dengan penghasilan naik-turun. Lalu, bagaimana cara agar keuangan tetap stabil tanpa gaji tetap? Berikut tips dan triknya
Jika ditemukan ketidakseimbangan, penyesuaian dapat dilakukan pada bulan berikutnya.
Metode ini juga bersifat fleksibel. Persentase dapat diubah sesuai dengan kondisi keuangan masing-masing individu.
Baca juga: 5 Tips Mengatur Keuangan untuk Fresh Graduate agar Tak Menyesal
Sebagai contoh, seseorang yang memiliki utang besar dapat meningkatkan alokasi untuk pembayaran utang, sementara yang belum memiliki dana darurat dapat memprioritaskan tabungan.
Fleksibilitas sebagai kunci
Meskipun menawarkan panduan yang jelas, aturan 70/20/10 tidak bersifat kaku. Metode ini lebih tepat dipandang sebagai kerangka dasar yang dapat disesuaikan.
Dalam praktiknya, kondisi keuangan setiap individu berbeda, sehingga diperlukan penyesuaian agar anggaran tetap realistis dan dapat dijalankan secara konsisten.
Dengan pendekatan yang sederhana dan fleksibel, metode ini dapat menjadi langkah awal bagi masyarakat untuk membangun kebiasaan finansial yang lebih sehat.
Tag: #mengenal #metode #702010 #untuk #kelola #gaji #dengan #efektif