Purbaya Jelaskan “Survival Mode”: Bukan Tanda Krisis, Cara Jaga APBN dan Tutup Kebocoran
- Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa meluruskan istilah “survival mode” yang ia gunakan untuk menggambarkan arah kebijakan ekonomi. Ia menegaskan istilah itu bukan tanda Indonesia berada dalam kondisi krisis.
Purbaya menyebut pendekatan tersebut mencerminkan upaya pemerintah bekerja lebih disiplin di tengah tekanan global. Fokus utama diarahkan pada menjaga kekuatan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
“Artinya kita nggak boleh main-main lagi. Artinya kalau kita enggak ada ruang atau untuk bermain-main lagi segala kemewahan di mana ada peluang yang kita bisa buat,” kata Purbaya dalam media briefing di Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan (BPPK), Jakarta Selatan, Jumat (24/4/2026).
Baca juga: Purbaya Bidik Ekonomi Tumbuh 5,7 Persen, Fokus ke Pembiayaan Industri
Ia menjelaskan, pola kerja pemerintah tidak lagi bisa mengikuti kebiasaan lama. Persaingan global yang semakin ketat menuntut efisiensi dan ketepatan dalam setiap kebijakan.
Pemerintah kini menutup celah inefisiensi, menekan kebocoran penerimaan, serta memastikan program berjalan efektif. Langkah ini dinilai penting untuk menjaga daya saing ekonomi nasional.
“Kalau pajaknya main-main, hancur kita kira-kira gitu. Kalau programnya main-main, kita akan digiling bangsa lain. Jadi kita survival mode,” ujarnya.
Pendekatan tersebut juga diikuti dengan penguatan pengawasan. Pemerintah memperketat belanja negara, perpajakan, dan bea cukai. Presiden Prabowo Subianto juga membentuk satuan tugas percepatan pembangunan untuk mengawal pelaksanaan program.
Purbaya mengakui reformasi di sektor pajak dan bea cukai sudah berjalan. Namun, ia melihat masih ada ruang kebocoran yang perlu ditutup.
“Walaupun sudah maju ya, bea cukai dan pajak. Tapi kita masih ada lihat kebocoran, bahkan kebocoran ruang sana sini yang masih bisa ditutup. Jadi itu yang disebut survival mode,” kata dia.
Baca juga: Pemerintah Masuk Mode Survival, Ekonom: Bukan Krisis, tapi Waspada Tekanan Global
Ia juga menepis anggapan kondisi fiskal sedang tertekan. Menurut dia, APBN masih berada dalam kondisi kuat.
Pernyataan itu sekaligus menjawab isu yang menyebut kas negara tinggal Rp120 triliun. Purbaya menegaskan angka tersebut hanya bagian dari Saldo Anggaran Lebih (SAL).
Total SAL pemerintah mencapai Rp420 triliun. Sekitar Rp300 triliun ditempatkan di perbankan dalam bentuk deposito untuk menjaga likuiditas dan mendorong penyaluran kredit.
“Yang Rp 300 triliun kita masukkan ke perbankan supaya ada tambahan likuiditas dan kredit bisa berjalan. Itu yang saya sebut sebagai penguasaan kebijakan moneter,” ujarnya.
Purbaya menegaskan masyarakat tidak perlu khawatir terhadap kondisi fiskal negara.
“Tidak perlu takut dengan APBN pemerintah, masih cukup dan uang kita masih banyak,” katanya.
Ia menambahkan, pendekatan disiplin fiskal ini juga mendapat respons positif dari investor global. Pengalaman tersebut ia sampaikan setelah menghadiri pertemuan di Amerika Serikat.
“Jadi saya ingin menegaskan lagi, kondisi APBN baik. Bahkan, investor di sana kagum. Mereka sudah tidak lagi mempertanyakan soal defisit dan lain-lain,” pungkasnya.
Tag: #purbaya #jelaskan #survival #mode #bukan #tanda #krisis #cara #jaga #apbn #tutup #kebocoran