Para CEO Energi Dunia Peringatkan Krisis Global Akibat Perang Iran
Ilustrasi harga minyak dunia.(GETTY IMAGES via BBC INDONESIA)
18:04
29 Maret 2026

Para CEO Energi Dunia Peringatkan Krisis Global Akibat Perang Iran

- Sejumlah perusahaan raksasa energi dunia memperingatkan ancaman serius terhadap ekonomi global, seiring perang Iran yang mulai mengganggu pasokan minyak dan gas dalam skala besar, bahkan disebut sebagai krisis terburuk sejak embargo minyak 1973.

Mengutip CNBC, Minggu (29/3/2026), para CEO perusahaan minyak dan gas paling berpengaruh di dunia menyampaikan peringatan keras dalam konferensi energi CERAWeek di Houston, Texas, yang digelar oleh S&P Global.

Mereka menilai pasar saat ini belum sepenuhnya mencerminkan besarnya gangguan pasokan energi akibat konflik yang terus memanas.

Asia dan Eropa akan menghadapi kelangkaan bahan bakar jika perang berlarut-larut, kata para eksekutif. Harga minyak kemungkinan tetap tinggi bahkan jika konflik berakhir, karena negara-negara akan mengisi kembali cadangan yang telah terkuras.

Konflik yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat, serta serangan terhadap fasilitas energi di kawasan tersebut, berpotensi menurunkan produksi minyak secara signifikan. Bahkan, pengurangan produksi di Timur Tengah disebut mencapai hingga 10 juta barrel per hari.

Baca juga: Energi Nasional Aman, Warga Diminta Hindari Pembelian Berlebihan

CEO ConocoPhillips, Ryan Lance, menyebut pasar energi global tidak mungkin tetap stabil ketika terjadi gangguan pasokan dalam skala besar. Kehilangan 8-10 juta barrel minyak per hari bukanlah angka kecil, karena jumlah tersebut merepresentasikan porsi yang besar dari suplai global.

“Anda tidak bisa begitu saja menghilangkan 8 hingga 10 juta barrel minyak per hari dan sekitar 20 persen pasar gas alam cair (LNG) dari panggung dunia tanpa menimbulkan dampak signifikan,” kata CEO ConocoPhillips, Ryan Lance, kepada peserta CERAWeek.

Iran pada dasarnya telah memberlakukan blokade ekonomi terhadap produsen minyak di Timur Tengah dengan menutup Selat Hormuz, kata CEO Kuwait Petroleum Corporation, Sheikh Nawaf al-Sabah. Selat tersebut merupakan jalur vital yang menghubungkan ekspor minyak negara-negara Teluk Arab ke pasar global.

“Ini bukan hanya serangan terhadap kawasan Teluk, tetapi juga serangan yang menyandera ekonomi dunia,” kata al-Sabah dalam konferensi tersebut.

Ia memperingatkan bahwa perang ini akan menimbulkan efek domino terhadap ekonomi global. “Biaya dari perang ini tidak berhenti pada batas geografis kawasan ini,” ujar al-Sabah.

“Dampaknya meluas ke seluruh rantai pasok,” paparnya.

Analis independen dari Sankey Research, Paul Sankey, menyebut guncangan minyak ini sebagai yang terburuk sejak embargo minyak Arab terhadap Amerika Serikat dan negara barat lainnya pada perang Timur Tengah tahun 1973.

“Ini yang terburuk yang pernah saya lihat,” kata Sankey, yang memulai kariernya di Badan Energi Internasional pada 1990. “Kita belum pernah melihat situasi seperti ini, mungkin sejak 1973. Kita belum pernah melihat Selat Hormuz ditutup,” tukasnya.

Komentar para eksekutif tersebut bertolak belakang dengan upaya pemerintahan Presiden Donald Trump untuk menenangkan industri dan pasar minyak yang bergejolak.

Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan kepada CNBC bahwa pasar hanya menghadapi gangguan jangka pendek. Menurutnya, harga yang harus dibayar sepadan untuk mencapai manfaat jangka panjang dalam melemahkan Iran.

Namun, biaya tersebut sangat besar bagi industri minyak dan gas yang asetnya kini rentan terhadap serangan. ConocoPhillips bahkan “memohon” kepada pemerintah AS untuk memberikan perlindungan militer terhadap aset milik AS di Qatar yang bernilai ratusan juta dollar AS, kata Lance.

Iran telah memaksa penutupan pusat LNG terbesar di dunia di Qatar melalui serangan drone. ConocoPhillips merupakan salah satu investor utama di fasilitas tersebut.

“Kami harus mengevakuasi sejumlah staf, terutama staf non-esensial,” ucap Lance. “Itu menjadi pekerjaan berat dalam beberapa pekan terakhir,” lanjutnya.

Baca juga: Australia Alami Krisis BBM, Pesan Pasokan Darurat dari AS

Harga minyak tetap tinggi

Harga minyak bergerak volatil sepanjang pekan ini, turun ketika harapan akan penyelesaian damai meningkat, dan naik kembali saat ketegangan memanas. Pada Senin, Presiden Donald Trump membatalkan ancamannya untuk menyerang pembangkit listrik Iran. Sepanjang pekan, ia juga menyatakan Iran ingin mencapai kesepakatan untuk mengakhiri konflik.

Namun, investor tetap waspada, dengan harga minyak ditutup pada level tertinggi dalam lebih dari tiga tahun pada Jumat. Harga minyak mentah AS melonjak 49 persen menjadi 99,64 dollar AS per barrel sejak AS dan Israel menyerang Iran pada 28 Februari.

Sementara itu, harga Brent sebagai acuan global naik lebih dari 55 persen menjadi 112,57 dollar AS per barrel.

“Saya mendengar dan membaca banyak pembicaraan tentang harga dan sejenisnya, itu menarik, tetapi yang penting adalah aliran fisik,” ungkap CEO Shell, Wael Sawan.

Senada, CEO Chevron, Mike Wirth, menilai pasokan minyak secara fisik jauh lebih ketat dibandingkan yang tercermin dalam harga di pasar berjangka.

“Ada dampak fisik nyata dari penutupan Selat Hormuz yang menyebar ke seluruh dunia dan sistem, yang menurut saya belum sepenuhnya tercermin dalam kurva harga minyak,” tutur Wirth.

Negara-negara Teluk membutuhkan waktu tiga hingga empat bulan untuk memulihkan produksi secara penuh karena penutupan sumur minyak akibat penutupan selat tersebut, kata al-Sabah.

“Batas bawah harga minyak kemungkinan harus naik,” kata Lance, yang menunjukkan bahwa harga tidak akan kembali ke level sebelum perang dalam waktu dekat meski ada upaya pemerintah AS menenangkan pasar.

Perusahaan eksportir LNG besar AS, Cheniere Energy, berupaya memenuhi permintaan dari negara-negara Asia yang sangat bergantung pada impor gas dari Qatar, kata CEO Jack Fusco. Namun, kapasitas produksi perusahaan tersebut sudah berada di tingkat maksimum.

“Kami akan mencoba mengirim sebanyak mungkin pasokan ke negara-negara Asia yang sangat membutuhkannya,” ucap Fusco. “Namun perjalanan dari Gulf Coast ke Asia memakan waktu 28 hari, sehingga tidak bisa terjadi secara instan,” lanjutnya.

Kelangkaan bahan bakar

Pasokan bahan bakar menghadapi gangguan yang lebih besar dibandingkan minyak, kata Sawan. Pasokan avtur sudah terdampak, disusul diesel, dan kemudian bensin.

Perang ini memicu efek berantai kelangkaan yang menyebar ke ekonomi utama di Asia dan diperkirakan mencapai Eropa pada April. Pemerintah di berbagai negara mulai menimbun dan melindungi pasokan domestik mereka.

“Kita harus memastikan bahwa kondisi ini tidak memperparah tekanan fisik yang sudah serius,” ujar Sawan.

Harga avtur dan diesel masing-masing melonjak hingga 200 dollar AS dan 160 dollar AS per barrel, kata CEO TotalEnergies, Patrick Pouyanné. China melarang ekspor produk minyak, sementara Thailand mulai melakukan penjatahan bensin.

“Krisis ini mulai benar-benar berdampak pada konsumen,” kata Pouyanné kepada CNBC. “Semua akan bergantung pada berapa lama konflik ini berlangsung. Saya berharap tidak terlalu lama.

Jika tidak, konsekuensinya akan sangat dramatis,” lanjutnya.

Eskalasi berpotensi terjadi

Perang ini diperkirakan tidak akan segera berakhir dan risiko eskalasi masih tinggi, kata pakar Iran dari Johns Hopkins University, Vali Nasr. Iran disebut tidak mencari gencatan senjata dengan Trump, melainkan kesepakatan besar yang mencakup kendali atas Selat Hormuz, kompensasi ekonomi, dan jaminan keamanan.

Mantan Menteri Pertahanan AS Jim Mattis mengatakan Iran menjalankan perang total, sementara AS melakukan kampanye terbatas dari udara. Ia menilai tujuan perubahan rezim di Teheran tidak realistis.

Konflik saat ini berada dalam kebuntuan, dengan kemungkinan salah satu pihak akan meningkatkan eskalasi. Angkatan Laut AS juga akan kesulitan melindungi jalur pelayaran dari Teluk Persia melalui Selat Hormuz hingga Teluk Oman.

Perang ini berpotensi merusak model ekonomi negara-negara Teluk. Irak, Qatar, Uni Emirat Arab, dan bahkan Arab Saudi berisiko mengalami penurunan produk domestik bruto hingga 30 persen, kata Sankey.

Mattis menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak dapat begitu saja mengakhiri keterlibatannya.

“Saya tidak berpikir kita bisa begitu saja pergi,” kata Mattis. “Kita berada dalam situasi yang sulit.”

Tag:  #para #energi #dunia #peringatkan #krisis #global #akibat #perang #iran

KOMENTAR