Prospek Emas hingga 2026: Tinjauan Inflasi AS dan Kebijakan Bank Sentral
- Harga emas dunia berangsur kembali menguat di tengah tingginya permintaan aset aman atau safe haven.
Menguatnya harga emas terjadi setelah rentetan pelemahan beberapa waktu belakangan karena muncul kekhawatiran meningkatnya inflasi dan suku bunga acuan imbas konflik di Timur Tengah.
Dalam membaca pergerakan harga emas ke depan, terdapat beberapa faktor yang dapat dicermati.
Baca juga: Harga Emas Pegadaian Hari Ini (31/3) Kompak Menguat, UBS-Galeri 24 Naik Rp 38.000
Ilustrasi emas.
Pengamat komoditas sekaligus Founder Traderindo.com Wahyu Tribowo Laksono mengatakan, salah satu faktor yang penting dalam membaca harga emas adalah data Inflasi AS.
Ia meminta masyarakat fokus pada Consumer Price Index (CPI) dan Personal Consumption Expenditures (PCE).
Pasalnya, data inflasi yang tinggi bisa menjegal peluang The Fed memangkas suku bunga acuan.
Suku bunga acuan yang tinggi akan membuat emas sebagai investasi yang tidak memiliki imbal hasil (non-yielding asset) jadi kurang menarik.
Baca juga: Harga Emas Dunia Naik, Dipicu Ketegangan AS-Iran
Selain itu, data tenaga kerja dan pengangguran AS juga penting.
"Pelemahan data tenaga kerja bisa menjadi pertimbangan The Fed untuk melakukan pelonggaran moneter," kata dia kepada Kompas.com, Selasa (31/3/2026).
Masyarakat juga dapat memerhatikan imbal hasil obligasi atau treasury yield.
Wahyu menuturkan, ketika imbal hasil obligasi AS turun, daya tarik emas akan meningkat.
Ilustrasi emas batangan, harga emas hari ini.
Baca juga: Update Harga Emas Antam Hari Ini (31/3) Turun Lagi Rp 10.000 per Gram, Cek Daftarnya
Tak hanya itu, harga emas juga dipengaruhi oleh kebijakan Bank Sentral China (PBOC).
"Pembelian emas oleh bank sentral dunia, terutama China, merupakan pendukung fundamental harga yang sangat kuat dalam beberapa tahun terakhir," ucap dia.
Mengutip Reuters, sejumlah data ekonomi AS pun dijadwalkan rilis pekan ini, termasuk data lowongan pekerjaan, penjualan ritel, laporan tenaga kerja ADP, serta nonfarm payrolls.
Data-data ini menjadi perhatian investor untuk mengetahui arah kebijakan suku bunga ke depannya.
Baca juga: Harga Emas Turun Saat Dunia Bergejolak: Ada Apa Sebenarnya?
Di samping itu, harga emas di pasar spot hari ini Selasa (31/3/2026) naik 0,6 persen menjadi 4.518,57 dollar AS per ons, setelah sempat menyentuh level terendah sejak November 2025 pada awal pekan lalu.
Sementara itu, kontrak emas berjangka AS ditutup menguat 0,7 persen ke posisi 4.557,50 dollar AS per ons.
Sedikit catatan, harga emas tercatat telah turun lebih dari 14 persen sepanjang Maret 2026.
Penurunan ini menempatkan emas pada jalur kinerja bulanan terburuk sejak 2008.
Baca juga: Harga Emas Diproyeksi Menguat hingga Akhir 2026, Apa Alasannya?
Harga emas dunia diprediksi menguat pada kuartal II-2026
Secara umum, pengamat meramal harga emas dapat berangsur menguat di sepanjang sisa 2026.
Namun demikian, penguatan harga emas sangat dipengaruhi kondisi ekonomi dunia terutama dari perkembangan konflik di Timur Tengah dan kebijakan bank sentral Amerika Serikat Federal Reserve (The Fed).
Pemerintah resmi mengenakan bea keluar untuk ekspor emas. Kebijakan ini dinilai bisa menekan margin emiten tambang, meski harga sahamnya masih bergerak positif.
Wahyu memproyeksikan pada kuartal II-2026 harga emas tetap cenderung rebound konsolidatif.
"Faktor pendorong utama adalah antisipasi meredanya ketegangan Timur Tengah dan ancaman pelambatan ekonomi global dan potensi The Fed akan bertahan," ucap dia.
Baca juga: Harga Emas Antam Hari Ini (31/3), Wajib Tahu Sebelum Beli
Ia menambahkan, sulit mempertahankan outlook pengetatan moneter karena sifatnya jangka pendek dan bisa kembali longgar.
Dalam skenario positif, harga emas diproyeksikan dapat mencapai level resistance di rentang 5.000 hingga 5.600 dollar AS per ounce.
Sementara level support harga emas sepanjang kuartal II-2026 diproyeksikan berada di rentang 3.880 sampai 3.000 dollar AS per ounce.
"Faktor musiman dan persiapan pasar menghadapi potensi pemangkasan suku bunga di pertengahan tahun menjadi penyangga utama harga," ucap Wahyu.
Baca juga: Harga Emas Antam Hari Ini (31/3), Wajib Tahu Sebelum Beli
Proyeksi harga emas di semester II 2026
Lebih jauh, Wahyu memprediksi pada semester II-2026 hingga akhir tahun, prospek emas tetap cenderung bullish atau menguat.
"Faktor pendorong utama adalah antisipasi poros kebijakan moneter (pivot) dari Federal Reserve," imbuh dia.
Menurut dia, pada masa tersebut pasar mulai memperhitungkan pemangkasan suku bunga yang biasanya menjadi bahan bakar utama bagi kenaikan harga emas karena menurunnya biaya peluang (opportunity cost) memegang aset tanpa bunga.
Hal tersebut akan sangat dipengaruhi oleh sentimen utama yakni ancaman pelambatan ekonomi global akibat tingginya inflasi yang dipicu kenaikan harga minyak dunia akibat ketegangan geopolitik Timur Tengah.
Baca juga: Harga Emas Terus Tertekan Penguatan Dollar AS
Pada akhirnya ekonomi global sulit menerima tingginya harga minyak dunia.
Ilustrasi emas
Apalagi jika ketegangan Timur Tengah mereda, maka kecenderungan moneter global kembali melonggar terutama The Fed.
"Ditambah lagi konsistensi aksi beli emas oleh bank-bank sentral dunia terutama China akan memberikan lantai harga yang kuat bagi emas," ungkap Wahyu.
Pada paruh kedua tahun ini, harga emas diproyeksikan dapat mencapai level resistance di rentang 5.000 hingga 6.000 dollar AS per ounce.
Baca juga: Tips Jual Emas agar Cuan Maksimal, Ini Hal yang Wajib Diperhatikan
Sementara level support harga emas sepanjang semester II-2026 diproyeksikan berada di rentang 4.000 hingga 3.000 dollar AS per ounce.
Wahyu berpandangan, dalam jangka panjang emas tetap dalam tren bullish dan ada peluang akan ditutup akhir tahun dalam kondisi menguat.
Hal tersebut didukung oleh ancaman resesi global dan peluang pelonggaran moneter terutama jika dampak perang Timur Tengah mereda dan harga minyak melemah kembali.
Harga emas melemah di tengah konflik geopolitik
Meskipun tensi geopolitik di Timur Tengah melibatkan Israel, AS, dan Iran berjalan sangat panas, emas justru mengalami tekanan jual yang cukup signifikan.
Baca juga: Update Harga Emas Hari Ini di Pegadaian, Galeri 24 dan UBS Turun
Wahyu menjelaskan, harga emas yang sempat menurun ke level 4.100 dollar AS per troy ons belakangan ini bukan disebabkan oleh hilangnya risiko perang.
Pelemahan harga emas dipengaruhi oleh pergeseran fokus pasar ke kebijakan moneter Amerika Serikat dan tekanan inflasi global.
"Namun, setelah anjlok tersebut emas rebound konsolidatif," ucap dia.
Wahyu menyebut, fluktuasi harga emas yang kita lihat belakangan ini memang cukup dinamis.
Baca juga: Wells Fargo Prediksi Harga Emas Tembus 6.300 Dollar AS pada 2026
Ilustrasi emas batangan.
Pergerakan ini mencerminkan tarik-ulur yang kuat antara kebijakan moneter AS dan tensi geopolitik global yang dipicu terutama oleh kebijakan Trump.
Dampak Penurunan harga emas spot ke emas domestik
Wahyu menjelaskan, harga emas di Indonesia seperti Antam atau Pegadaian dipengaruhi oleh dua variabel utama yakni harga emas global dan nilai tukar rupiah.
Di samping itu, harga emas global atau emas spot mengikuti fluktuasi dalam dollar AS.
"Jika harga emas global naik dan di saat yang sama rupiah melemah terhadap dollar AS, maka kenaikan harga emas domestik akan jauh lebih tajam," tutur dia.
Baca juga: Wells Fargo Prediksi Harga Emas Tembus 6.300 Dollar AS pada 2026
Sebaliknya, ia menyebut, penguatan rupiah bisa meredam kenaikan harga emas global di pasar lokal.
Ketika ketegangan Timur Tengah mereda dan emas dunia rebound, maka emas Antam akan cenderung ikut kembali menguat.
Harga emas tertekan penguatan dollar AS
Pengamat komoditas dan mata uang sekaligus Analis Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan, faktor yang menekan harga emas adalah penguatan dollar AS yang disebabkan oleh kenaikan harga minyak dunia.
"Menyebabkan kenaikan inflasi dan suku bunga," kata dia kepada Kompas.com, Senin (30/3/2026).
Baca juga: Geopolitik Timur Tengah Memanas, Harga Emas Berpotensi Terkoreksi Pekan Depan
Ia menambahkan, perkembangan terakhir ini telah menyebabkan prospek suku bunga acuan bank sentral AS The Fed yang sebelumnya diperkirakan akan memangkas suku bunga 2 hingga 3 kali tahun ini, berubah menjadi potensi kenaikan sekali.
Ilustrasi emas batangan
Lukman menjelaskan, komoditas emas adalah aset tanpa imbal hasil, dengan tingginya tingkat suku bunga akan menyebabkan "opportunity cost" kepemilikan meningkat.
"Harga emas diperkirakan masih susah naik, walau tekanan mungkin sudah mereda," imbuh dia.
Menurut Lukman, beberapa bulan ke depan data-data inflasi akan memicu kebijakan bank sentral untuk menaikkan suku bunga.
Baca juga: Harga Emas Dunia Rebound ke 4.500 Dollar AS, Dipicu Aksi Borong
"Walau demikian, emas diperkirakan bisa mulai kembali naik akhir tahun dan melanjutkan tren kenaikan jangka panjang," ungkap dia.
Sebagai informasi, harga emas diketahui mengalami tekanan di tengah kombinasi faktor makroekonomi, termasuk kebijakan suku bunga dan penguatan dollar AS.
Dikutip dari Mining.com, Senin (30/3/2026), dalam beberapa waktu terakhir, emas bahkan sempat turun sekitar 15 persen dalam satu bulan, mencerminkan meningkatnya volatilitas pasar.
Tekanan tersebut terjadi ketika pasar mempertimbangkan arah kebijakan moneter Amerika Serikat (AS) di tengah inflasi yang masih relatif tinggi.
Baca juga: Emas Anjlok, Bitcoin Ungguli 20 Persen, Tanda Rotasi Besar Aset Global?
Kondisi ini membuat daya tarik emas sebagai aset non-yielding menjadi berkurang.
Tag: #prospek #emas #hingga #2026 #tinjauan #inflasi #kebijakan #bank #sentral