Salah Kaprah Kelola Dana Darurat: Bukan Cari Keuntungan, Tak Perlu Berlebihan
Dalam membangun dana darurat, masyarakat perlu memiliki persepsi untuk tidak mengejar keuntungan.
Selain itu, kepemilikan dana darurat yang besar atau melebihi rekomendasi para perencana keuangan juga tidak langsung mencerminkan pengaturan keuangan yang sehat.
Faculty Head Sequis Quality Empowerment (STAE) Sequis Life Yan Ardhianto Handoyo mengatakan, masyarakat sepatutnya tidak mencari keuntungan dalam penempatan dana darurat.
Sebalinya, dana darurat harus bersifat selalu siap sedia dapat digunakan kapan saja ketika ada kebutuhan.
"Jadi biasanya ditempatkan kalau nggak di tabungan biasa, karena pakai ATM pun bisa ditarik, atau di deposito," kata dia dalam acara Halal Bihalal Sequis Life Better Tomorrow Start Today, Selasa (31/3/2026).
Baca juga: BGN Terapkan Skema MBG 5 Hari, Ini Perbedaan Menu di Daerah 3T
Ia menambahkan, penempatan dana darurat harus memenuhi unsur kecepatan penarikan dan likuid.
Yan menekankan, penempatan dana darurat tidak perlu memikirkan pengembangan alokasi dana. Pasalnya, ketika tujuan utamanya adalah pengembangan dana, maka pengelolaan uang tersebut sudah masuk ke dalam ranah investasi.
Berbeda dengan dana darurat, investasi dapat ditempatkan ke instrumen yang menawarkan imbal hasil (yeild) seperti reksadana, surat utang (obligasi), saham, emas, hingga properti.
"Kalau dana darurat sendiri, kita tidak melihat itu sebagai yang akan dikembangkan, tapi kebutuhannya cepat" imbuh dia.
Baca juga: Peneliti Soroti Pentingnya Evaluasi SPPG untuk Jaga Kualitas MBG
Dana darurat tak perlu berlebihan
Mengingat sifatnya sebagai dana darurat, penempatan dana ini juga tidak perlu terlalu berlebihan.
Sedikit catatan, dana darurat untuk individu belum berkeluarga dapat dialokasikan sebesar 3-6 bulan dari biaya hidup bulanan.
Sedangkan untuk sebuah keluarga, dana darurat baiknya sebesar 6-12 kali dari pengeluaran bulanan dan disimpan dalam tabungan.
"Dana darurat itu juga bukan kemudian di-gede-in, sampai kemudian bisa, katakanlah lima tahun kebutuhan hidup, tidak," ujar dia.
Ketika masyarakat telah memenuhi syarat membangun dana darurat memilik uang lebih, penempatan investasi dapat dipertimbangkan.
Dana darurat melawan inflasi
Sebagai sebuah tabungan yang tidak memiliki imbal hasil, dana darurat tentu dapat tergerus oleh inflasi.
Inflasi merupakan kondisi ketika harga barang dan jasa mengalam kenaikan dalam jangka waktu tertentu.
Untuk mengatasi hal ini, Yan berujar, masyarakat perlu meninjau kembali jumlah pengeluaran atau biaya hidup sebuah keluarga.
Ketika terjadi inflasi, kebutuhan hidup keluarga biasanya juga mengalami kenaikan. Dengan demikian, secara otomatis kebutuhan dana darurat yang 3-6 atau 6-12 kali pengeluaran tentu perlu disesuaikan.
"Ini keperluannya meningkat ini, saya tidak bisa ke dana darurat seperti yang dulu, saya harus tambahkan, jadi manual," ucap dia.
Ia bialng, masyarakat juga dapat menghitung besarnya kenaikan dana darurat dengan data acuan inflasi nasional tahunan.
Generasi tua dan muda sulit menyiisihkan pendapatan
Yan menerangkan, dalam membangun sebuah perecanaan keuangan tidak terdapat perbedaan yang signifikan dengan anak muda saat ini dengan para orang tuanya.
"Sebenarnya hal itu menurut saya tidak terlalu jauh berbeda, karena kecenderungannya dari zaman dahulu, orang itu, satu suka untung dan biasanya susah untuk menysisihkan," terang dia.
Ia bilang, sejak zaman dahulu, orang cenderung terlebih dahulu memikirkan investasi dibandingkan dengan mengumpulkan dana darurat.
"Mereka jarang untuk memikirkan sesuatu yang sifatnya kalau sampai amit-amit pulang duluan misalnya gitu, atau sakit parah, karena orang berpikir positif saja," ucap dia.
Langkah mulai persiapkan dana darurat
Perencana keuangan di Oneshildt Lusiana Darmawan menekankan pentingnya memulai dari langkah sederhana, yakni memahami arus kas dan membedakan pengeluaran yang wajib serta yang bisa ditunda.
“Buat catatan pengeluaran rutin untuk identifikasi pengeluaran yang wajib versus yang bisa ditunda,” ujarnya.
Lusiana menambahkan pendekatan bertahap dalam menabung dana darurat.
"Jika belum memenuhi target, jangan menyerah dulu. Lebih baik mulai akumulasi sedikit demi sedikit," tutur dia.
Sementara itu, perencana keuangan Andy Nugroho menyoroti disiplin gaya hidup dan prioritas.
“Kendalikan gaya hidup, agar sesuai dengan penghasilan dan tujuan keuangan yang ingin Anda capai,” kata Andy.
Berangkat dari situ, dana darurat tidak berdiri sendiri. Dana darurat lahir dari kebiasaan mengelola arus kas.
Secara umum, banyak panduan perencanaan keuangan menggunakan pendekatan kelipatan pengeluaran bulanan.
Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menyebut untuk individu lajang tanpa tanggungan, besaran dana darurat berada di kisaran 3 sampai 6 bulan dari total biaya hidup.
Dalam praktiknya, pendekatan kelipatan pengeluaran biasanya dipadukan dengan profil risiko dan stabilitas pendapatan.
Pekerja dengan pendapatan tidak tetap atau yang menanggung anggota keluarga lebih banyak cenderung memilih bantalan lebih besar.
Kendati demikian, bagi banyak orang, tantangan terbesar bukan di rumusnya, melainkan di konsistensi menyisihkan dana.
Andy menekankan pentingnya memulai dana darurat meski kecil. Ia juga menyebut idealnya 10 persen, tetapi jika belum bisa, mulai saja dari yang ada.
“Segera, setelah Anda menerima penghasilan, sisihkan, meskipun sedikit,” tutup dia.
Tag: #salah #kaprah #kelola #dana #darurat #bukan #cari #keuntungan #perlu #berlebihan