Plastik Mahal, Produsen Terapkan “Survival Mode”
Sekjen Asosiasi Industri Olefin, Aromatik dan Plastik Indonesia (Inaplas), Fajar Budiono di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta. (KOMPAS.com/YOGA SUKMANA)
09:08
3 April 2026

Plastik Mahal, Produsen Terapkan “Survival Mode”

- Asosiasi Industri Olefin Aromatik Plastik (Inaplas) menyebut, kelangkaan bahan baku yang mengakibatkan harga plastik mahal membuat produsen menerapkan “survival mode”.

Sekretaris Jenderal (Sekjen) Inaplas Fajar Budiono, bahan baku plastik, nafta, sulit didapat karena Selat Hormuz ditutup imbas perang Israel dan Amerika Serikat (AS) melawan Iran.

Negara-negara Teluk yang mensuplai 70 persen pasokan nafta di dunia kini tidak bisa mengirimkan produk petrokimia tersebut.

“Sekarang kita jaga di survival mode. Artinya di minimum kapasitas (produksi) secara ekonomi masih masuk,” kata Fajar saat dihubungi Kompas.com, Kamis (3/4/2026).

Baca juga: Harga Plastik Naik, Ini Penyebab dan Dampaknya ke Pasar

Agar tetap bisa berproduksi, industri plastik tanah air tengah mencari pasokan bahan baku nafta dari negara lain seperti Amerika Serikat (AS), Asia Tengah, dan Afrika.

Pelaku industri plastik tanah air menurutnya tidak mempersoalkan harga bahan baku maupun biaya logistik yang lebih mahal.

Untuk diketahui, pengiriman nafta dari Asia Barat (Timur Tengah) melalui Selat Hormuz biasanya hanya membutuhkan waktu 15 hari sementara dari ketiga negara itu bisa memakan waktu 50 hari.

“Kita enggak bicara harga sekarang. Kita bicara barang ada dulu,” ujar Fajar.

“Harga itu sekarang udah nomor kesekian, yang penting ada barang dulu sekarang,” lanjutnya.

Fajar mewanti-wanti industri plastik tanah air jangan sampai masuk dalam standby mode.

Kondisi tersebut berarti perusahaan tidak lagi bisa memproduksi plastik dan memenuhi pasar.

“Kalau standby mode itu udah kita harus mesin hidup tapi nggak jalan. Nah kita masih di survival mode sekarang,” kata Fajar.

Selain mencari pasokan alternatif, produsen plastik juga bisa menggunakan bahan baku selain nafta.

Salah satu bahan baku yang bisa digunakan adalah propana pada Liquefied Petroleum Gas (LPG).

Harga bahan baku dari minyak bumi itu dinilai cocok untuk industri pada Juni, Juli, dan Agustus.

Harga plastik di Pasar Bukit Duri, Jakarta Selatan, mengalami kenaikan. Harga plastik. Harga plastik naik.KOMPAS.com/ SHINTA DWI AYU Harga plastik di Pasar Bukit Duri, Jakarta Selatan, mengalami kenaikan. Harga plastik. Harga plastik naik.

Namun, pasokan bahan baku dari luar negeri ini masih dihadapkan pada pungutan bea masuk.

“Ini kita minta bantuan pemerintah agar dikaji lagi untuk propan atau LPG ini bahan anu bea masuknya sebagai feedstock petrokimia bisa dilakukan kajian,” tutur Fajar.

Alternatif lainnya, plastik diproduksi dari kondensat yang tersedia di dalam negeri. 

Namun, pelaku industri perlu membicarakan stok kondensat dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dan Kementerian Perindustrian.

“Di-mapping lagi kira-kira volume kondensat mana yang bisa digunakan sebagai DMO (domestic market obligation) sebagai substitusi alternatif bahan baku tadi,” kata dia.

Sebagaimana diketahui, banyak pedagang mengeluhkan kenaikan harga plastik.

Pedagang bumbu di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Gemi, misalnya menyebut harga plastik melonjak hingga Rp 6.000 per pack.

Kondisi itu membuat belanja modalnya membengkak dan margin keuntungan berdagang bumbu semakin terjepit.

“Ini biasa Rp 17 (ribu) jadi Rp 23 (ribu). Sama itu, sama semua pokoknya plastik per pack Rp 6 ribu,” kata Gemi, Sabtu (28/3/2026).

Tag:  #plastik #mahal #produsen #terapkan #survival #mode

KOMENTAR