Bahan Baku Plastik Sulit, Produsen Campur Material Daur Ulang-Bahan Murni
- Asosiasi Industri Olefin Aromatik Plastik (Inaplas) menyebut, produsen plastik kini mulai memberanikan diri menggunakan campuran bahan baku daur ulang dengan material murni.
Sekretaris Jenderal (Sekjen) Inaplas Fajar Budiono, mengatakan pencampuran itu dilakukan karena bahan baku plastik yang semakin terbatas sementara permintaan masih tinggi.
“Sudah mulai berani menggunakan campuran recycle material dengan virgin material atau bahan baku plastik murni,” kata Fajar saat dihubungi Kompas.com, Kamis (2/4/2026).
Baca juga: Plastik Mahal, Produsen Terapkan “Survival Mode”
Fajar mengatakan, perang di Asia Barat (Timur Tengah) yang menutup Selat Hormuz mengakibatkan 70 persen suplai bahan baku utama plastik, nafta terhenti.
Kilang minyak yang mengolah minyak bumi di negara-negara Teluk juga tak luput dari sasaran sehingga bahan baku semakin sedikit.
Adapun nafta merupakan senyawa turunan minyak bumi. Senyawa hidrokarbon ini diperleh dari proses petrokimia.
“Ini kalau tidak kita campur dengan recycle plastik nanti akan ada akan ada apa itu perbedaan harga yang akhirnya harga tidak bisa dijangkau,” ujar Fajar.
Pencampuran material murni dengan bahan daur ulang merupakan salah satu siasat pabrik plastik tanah air tetap bisa berproduksi di tengah keterbatasan bahan baku.
Produsen juga harus mencari bahan lain yang menjadi substitusi. Misalnya, plastik dicampur kertas, logam, dan lainnya.
Upaya lainnya adalah mengubah berat maupun dimensi plastik tanpa mengurangi fungsi kantong tersebut.
“Contoh kalau plastik kerupuk yang tadinya menggunakan ketebalan 100 mikron bisa dikurangi menjadi 80 atau 70 mikron tanpa mengurangi fungsi dari si kemasan itu sendiri,” kata dia.
“Untuk peralatan rumah tangga ya bisa menggunakan campuran lebih besar recycle plastiknya,” tambahnya.
Fajar menyebut, saat ini industri plastik tanah air sedang mencari pasokan nafta dari negara yang tidak terdampak perang seperti, Afrika, Amerika Serikat (AS), dan Asia Tengah.
Meski sudah mulai menemukan titik terang, pengiriman pasokan bahan baku tersebut membutuhkan waktu hingga 50 hari, jauh lebih lama dibandingkan rata-rata pengiriman dari Selat Hormuz yang berkisar 10-15 hari.
“Sumber pasokan baru ini kan di luar Middle East (Asia Barat) sehingga paling cepat mereka butuh waktu 50 hari,” tutur Fajar.
Sebagaimana diketahui, banyak pedagang mengeluhkan kenaikan harga plastik.
Pedagang bumbu di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Gemi, misalnya menyebut harga plastik melonjak hingga Rp 6.000 per pack.
Kondisi itu membuat belanja modalnya membengkak dan margin keuntungan berdagang bumbu semakin terjepit.
“Ini biasa Rp 17 (ribu) jadi Rp 23 (ribu). Sama itu, sama semua pokoknya plastik per pack Rp 6 ribu,” kata Gemi, Sabtu (28/3/2026).
Tag: #bahan #baku #plastik #sulit #produsen #campur #material #daur #ulang #bahan #murni