Harga Minyak Dekati Level 100 Dolar: Selat Hormuz Mencekam di Tengah ''Drama'' Trump-Iran
Harga minyak mentah dunia terpantau merangkak naik pada perdagangan Jumat (10/4), menyusul ketegangan yang kian mendalam di Selat Hormuz.
Meskipun kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran sudah diteken, jalur pelayaran paling vital di dunia tersebut nyatanya masih lumpuh dan tertutup bagi sebagian besar kapal tangker.
Kenaikan harga ini mencerminkan kecemasan investor yang melihat bahwa "janji damai" di atas kertas belum berwujud nyata di lapangan.
Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei naik 0,55% ke level US$ 98,33 per barel. Sementara itu, patokan internasional Brent untuk pengiriman Juni melonjak lebih dari 1% hingga menyentuh US$ 96,91 per barel.
Harga Minyak Mentah 10/4/2026 [trading Economics]Dikutip via CNBC, Presiden AS Donald Trump tidak tinggal diam melihat kemacetan di Selat Hormuz.
Melalui platform Truth Social, Trump melontarkan peringatan keras kepada Teheran agar segera menghentikan praktik yang menghambat jalur perdagangan tersebut.
Isu yang beredar menyebutkan bahwa Iran diduga mulai menarik pungutan bagi tangker yang ingin melintasi selat sebagai bentuk perlawanan terhadap serangan AS-Israel yang belakangan terus menyerang Iran.
Israel sendiri justru melakukan penyerangan total ke wilayah Lebanon dengan ratusan orang menjadi korban. Sementara, iran menegaskan perdamaian Lebanon sebagai syarat gencatan senjata.
Dalam unggahannya yang tajam, Trump menulis, "Iran melakukan pekerjaan yang sangat buruk, bahkan bisa dibilang tidak terhormat, dalam mengizinkan minyak melewati Selat Hormuz.." Ia juga memperingatkan Iran untuk “stop now” jika tidak ingin menghadapi konsekuensi lebih lanjut.
Kekhawatiran Trump bukan tanpa alasan. Selat Hormuz adalah urat nadi ekonomi dunia yang menangani sekitar 20% pasokan minyak global sebelum konflik pecah.
Penasihat ekonomi utama Gedung Putih, Kevin Hassett, menegaskan betapa krusialnya jalur ini. Menurutnya, berhasil meloloskan satu tangker minyak saja melintasi selat tersebut akan memberikan “sebagian besar dari apa yang hilang” bagi stabilitas pasokan energi dunia saat ini.
Krisis tidak hanya terjadi di laut, tetapi juga merembet ke daratan. Kapasitas produksi minyak Arab Saudi dilaporkan ikut terpangkas setelah serangkaian serangan menghantam infrastruktur energi utama mereka.
Berdasarkan laporan Saudi Press Agency yang mengutip sumber Kementerian Energi, serangan ini telah memotong kapasitas output minyak sekitar 600.000 barel per hari.
Lebih parah lagi, serangan rudal Iran dilaporkan menghantam stasiun pompa di sepanjang pipa East-West Pipeline. Jalur pipa ini merupakan "jalur ninja" bagi Riyadh untuk mengangkut minyak mentah dari Teluk Persia menuju terminal ekspor di Laut Merah (Yanbu) guna menghindari Selat Hormuz yang berbahaya.
Akibat serangan tersebut, aliran minyak melalui pipa ini menyusut sekitar 700.000 barel per hari.
Selain pipa utama, lapangan minyak Manifa dan Khurais milik kerajaan Saudi juga tidak luput dari sasaran. Beberapa kilang minyak juga dilaporkan menjadi target serangan terbaru, yang semakin memperburuk gangguan pasokan di pasar global.
Bagi Riyadh, rusaknya infrastruktur ini adalah pukulan telak karena mereka sangat bergantung pada jalur darat setelah pengiriman melalui jalur laut menjadi tidak layak akibat ancaman serangan Iran.
Analisis Goldman Sachs: Dampak ke Kantong Konsumen
Meski AS dan Iran telah mencapai kesepakatan gencatan senjata pada Selasa lalu sebagai imbalan atas pembukaan selat, kenyataan di lapangan berkata lain.
CEO perusahaan minyak negara Uni Emirat Arab (UEA) mengonfirmasi pada Kamis bahwa jalur air tersebut sebagian besar masih tertutup bagi pelayaran komersial.
Data menunjukkan bahwa impor dari wilayah Teluk kini anjlok di bawah 2 juta barel per hari. Dengan waktu perjalanan laut yang membengkak hingga beberapa minggu akibat rute yang memutar, para analis dari Goldman Sachs memberikan proyeksi yang kurang menyenangkan bagi konsumen.
Mereka menilai pembeli minyak dunia mungkin harus mulai mengandalkan stok cadangan (stockpiles) dan mencari sumber pasokan alternatif setidaknya untuk satu bulan ke depan.
Kondisi ini diprediksi akan terus menekan harga bahan bakar di tingkat retail. Jika harga terus melambung, daya beli masyarakat di kota-kota besar bisa mulai tergerus, yang pada akhirnya akan mulai membebani pertumbuhan ekonomi global secara keseluruhan.
Pasar kini hanya bisa menunggu: apakah diplomasi akan benar-benar membuka Selat Hormuz, ataukah harga minyak akan terus membara melewati angka US$ 100 per barel?
Tag: #harga #minyak #dekati #level #dolar #selat #hormuz #mencekam #tengah #drama #trump #iran