Laba Arkora Hydro (ARKO) 2025 Melonjak, Proyek Baru Jadi Penopang Pertumbuhan
– Kinerja keuangan PT Arkora Hydro Tbk (ARKO) melonjak pada 2025, ditopang ekspansi proyek dan kontrak jangka panjang yang menjadi fondasi pertumbuhan berkelanjutan.
Dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang digelar di Jakarta, Rabu (8/4/2026), perseroan menyetujui laporan keuangan tahun buku 2025 sekaligus merombak susunan manajemen untuk memperkuat arah bisnis ke depan.
Komisaris Utama Arya Pradana Setiadharma menyampaikan, ARKO mencatatkan pendapatan sebesar Rp 343,3 miliar sepanjang 2025, tumbuh 43,7 persen secara tahunan.
“Tidak hanya fokus pada pengembangan bisnis, lebih dari itu, Perseroan juga berkontribusi bagi Indonesia dengan melakukan pengurangan gas rumah kaca melalui proyek pembangkit listrik yang bersumber dari energi terbarukan,” ujar Arya, melalui keterangan pers, dikutip Sabtu (11/4/2026).
Baca juga: Produksi Listrik Naik 56 Persen, Laba Arkora Hydro Tembus Rp 63,9 Miliar
Ia menambahkan, sejak 2017 hingga 2025, perseroan telah mencatatkan reduksi emisi sekitar ±277.241 ton CO?eq.
“Setelah Proyek Tomoni dan Proyek Pongbembe mulai beroperasi, kami memperkirakan total reduksi emisi akan bertambah ±181.503 ton CO?eq per tahun. Dengan demikian, target Net Zero Emission pada 2060 dapat semakin cepat kita raih,” lanjutnya.
Dari sisi operasional, produksi listrik ARKO mencapai 151,8 MWh pada 2025 atau tumbuh 56,1 persen secara tahunan, seiring beroperasinya Proyek Yaentu dan upaya menjaga kesinambungan pasokan listrik.
Kinerja ini mendorong laba bersih naik 52,9 persen menjadi Rp 63,9 miliar, dengan margin laba bersih meningkat menjadi 18,6 persen.
Baca juga: Ada Proyek PLTA Baru, Arkora Hydro Targetkan Produksi Energinya Naik 29,9 Persen pada 2024
Proyek baru jadi kunci ekspansi
Dalam RUPST tersebut, manajemen juga menyoroti keberhasilan memperoleh Perjanjian Jual Beli Listrik (Power Purchase Agreement/PPA) untuk Proyek Pongbembe berkapasitas 20 MW.
Proyek ini menjadi pembangkit listrik keenam sekaligus terbesar yang dimiliki perseroan, dengan masa kontrak selama 30 tahun sejak mulai beroperasi dan ditargetkan mulai beroperasi pada 2030.
Produksi listrik dari proyek tersebut diperkirakan mencapai 97.218 MWh per tahun dan seluruhnya akan diserap oleh PLN. Keberadaan kontrak jangka panjang ini menjadi penopang kepastian pendapatan di masa mendatang.
Baca juga: Arkora Hydro Rombak Susunan Direksi dan Komisaris
Perubahan manajemen dan arah bisnis
RUPST juga menyetujui perubahan susunan Dewan Komisaris dan Direksi. Perseroan menerima pengunduran diri Iwan Hadiantoro dan Boy Gemino Kalauserang, seiring penugasan baru keduanya di Grup Astra.
Sebagai pengganti, Chinthya Theresa diangkat sebagai komisaris dan Terry Tando sebagai direktur.
Direktur Utama Aldo Artoko menyampaikan apresiasi atas kontribusi jajaran sebelumnya.
“Kami mengucapkan terima kasih atas dedikasi dan kontribusi Iwan Hadiantoro serta Boy Gemino Kalauserang selama masa jabatannya,” ujar Aldo.
Ia berharap jajaran baru dapat memperkuat fungsi pengawasan dan tata kelola perusahaan.
“Kami berharap dapat mendorong pertumbuhan dan keberlanjutan kinerja Perseroan ke depan,” lanjutnya.
Adapun susunan terbaru manajemen perseroan adalah sebagai berikut:
Dewan Komisaris:
Komisaris Utama: Arya Pradana Setiadharma
Komisaris: Chinthya Theresa
Komisaris: Indarto
Direksi:
Direktur Utama: Aldo Artoko
Direktur: Ricky Hartono
Direktur: Ismu Nugroho
Direktur: Terry Tando
Sebagai informasi, ARKO merupakan perusahaan pembangkit listrik berbasis energi baru terbarukan yang berdiri sejak 2010 dan melantai di Bursa Efek Indonesia pada Juli 2022.
Saat ini, kapasitas pembangkit listrik tenaga air yang dimiliki mencapai 62,8 MW, dengan pipeline proyek lebih dari 300 MW.
Tag: #laba #arkora #hydro #arko #2025 #melonjak #proyek #baru #jadi #penopang #pertumbuhan