Industri Mebel Terjepit, Ekspor Bergantung AS, Pasar Domestik Diserbu Impor
Pameran furnitur dan mebel IFEX. (Dyandra)
09:36
13 April 2026

Industri Mebel Terjepit, Ekspor Bergantung AS, Pasar Domestik Diserbu Impor

Industri mebel dan kerajinan nasional menghadapi tekanan dari dua sisi. Ketergantungan ekspor ke Amerika Serikat masih tinggi. Pasar domestik juga dibanjiri produk impor murah, terutama dari China.

Ketua Umum Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) Abdul Sobur mengakui dominasi pasar Amerika sangat besar. Porsi ekspor ke negara tersebut mencapai lebih dari separuh total ekspor nasional.

“Sekarang ini kita sudah sangat bergantung. Pasar terbesar kita memang Amerika, kontribusinya sudah di angka 54 sampai 56 persen, bahkan bisa naik ke 60 persen,” ujar Sobur saat ditemui Kompas.com, Jumat (10/4/2026).

Baca juga: Konflik Timur Tengah Mulai Ganggu Industri Mebel Tanah Air

Permintaan besar dan posisi Amerika sebagai hub perdagangan global mendorong kondisi ini. Produk yang masuk ke Amerika sering didistribusikan kembali ke negara lain.

Ketergantungan ini menyimpan risiko. Gangguan di pasar Amerika langsung menekan ekspor Indonesia.

“Begitu ada gangguan, misalnya kena tarif tinggi, kita langsung gelagapan. Target pertumbuhan yang tadinya ingin 8 persen bahkan 10 persen jadi terganggu,” kata Sobur.Ketua Umum Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI), Abdul SoburKOMPAS.COM /KIKI SAFITRI Ketua Umum Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI), Abdul Sobur

Nilai ekspor mebel Indonesia sempat mencapai sekitar 3,5 miliar dollar AS. Angka itu kemudian turun akibat tekanan di pasar Amerika. HIMKI menargetkan ekspor menembus 6 miliar dollar AS pada 2030.

“Artinya penetrasi ke Amerika justru harus terus didorong, karena memang pasarnya paling besar dan relatif paling aman saat ini,” tambahnya.

HIMKI mulai menggarap pasar baru. India, kawasan Teluk, Afrika, hingga negara BRICS masuk dalam target. Permintaan mulai muncul, namun kontribusinya masih terbatas.

“Pasar baru seperti India dan Afrika mulai kita garap. Sudah ada permintaan, tapi memang belum sebesar Amerika atau Eropa,” jelasnya.

Baca juga: IFEX 2026: HIMKI Perkuat Daya Saing Industri Mebel Global Indonesia

Tekanan juga datang dari pasar domestik. Produk impor murah dari China membanjiri pasar dan menekan industri lokal.

Sobur menilai perbaikan regulasi menjadi langkah awal. Kebijakan perlu berpihak pada industri dalam negeri.

“Regulasi harus dirapikan dulu, harus lebih memihak industri dalam negeri. Kalau itu sudah kuat, kita bisa menekan impor, terutama yang ilegal,” tegasnya.

Ia mengusulkan langkah teknis untuk menekan arus impor. Salah satunya memindahkan pelabuhan masuk barang impor ke luar Pulau Jawa.

“Kita tidak melarang impor, tapi pelabuhannya bisa dipindahkan ke luar Jawa, misalnya ke Sulawesi. Jadi ada tambahan biaya logistik bagi mereka, karena target utama pasar mereka kan Jawa,” ujarnya.

Dukungan insentif juga dinilai penting. Pemerintah menyiapkan skema pembiayaan melalui Lembaga Pengelola Investasi (LPI) dengan komitmen hingga Rp 2 triliun.

Penyerapan dana masih menghadapi kendala. Kesiapan industri dan proses verifikasi menjadi hambatan.

“Secara teori, menyerap Rp 2 triliun itu tidak sulit, cukup 200 perusahaan dengan masing-masing Rp 10 miliar. Tapi faktanya tidak semudah itu, karena faktor kelayakan dan kesiapan perusahaan,” jelasnya.

Pemerintah juga memberi subsidi bunga untuk investasi teknologi di industri padat karya. Program ini ditujukan untuk mendorong modernisasi.

Dari sisi produk, furnitur rumah tangga masih menjadi andalan ekspor. Sofa, meja makan, dan kitchen set mendominasi. Material kayu solid mencapai sekitar 65 persen.

“Produk living seperti sofa dan meja makan itu yang paling banyak diekspor. Kayu solid masih dominan, sekitar 65 persen,” ujarnya.

Sentra produksi tersebar di berbagai daerah. Jepara menjadi pusat mebel kayu. Cirebon dan wilayah Jawa Barat unggul pada rotan dan bambu.

Kontribusi pasar domestik masih lebih kecil dibanding ekspor. Proyek pemerintah juga belum memberi dampak besar.

Sobur menyebut proyek seperti pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) hanya menyumbang sekitar 10 persen terhadap industri.

“IKN sempat memberi dorongan positif, tapi belum menjadi game changer bagi industri secara nasional,” ujar dia.

“Belanja pemerintah itu ada dampaknya, tapi tidak lebih dari 10 persen. Meski kecil, sebenarnya bisa jadi penggerak kalau konsisten dan benar-benar menggunakan produk lokal,” tambahnya.

Ia juga menyoroti penggunaan produk impor dalam belanja pemerintah. Tingkat komponen dalam negeri dinilai masih rendah.

“Kalau TKDN-nya hanya 40 persen, berarti masih banyak komponen impor. Padahal industri kita mampu sampai 80 persen bahkan lebih,” ujarnya.

Tag:  #industri #mebel #terjepit #ekspor #bergantung #pasar #domestik #diserbu #impor

KOMENTAR