Defisit Tertekan, Guru Besar Unair Sarankan Kombinasi SAL dan Efisiensi Belanja
Guru Besar Universitas Airlangga Rahma Gafmi menilai pemerintah perlu mengombinasikan penggunaan Saldo Anggaran Lebih (SAL) dengan efisiensi belanja untuk menjaga keberlanjutan APBN 2026 di tengah tekanan harga energi global.
Ia menyebut pilihan antara SAL dan efisiensi belanja sebagai dilema klasik antara stabilitas jangka pendek dan keberlanjutan jangka panjang.
“Pilihan antara menggunakan Saldo Anggaran Lebih (SAL) atau melakukan efisiensi belanja (spending cut) adalah perdebatan klasik antara stabilitas jangka pendek vs. keberlanjutan jangka panjang,” ujar Rahma kepada Kompas.com pada Senin (13/4/2026).
Baca juga: Lonjakan Harga Minyak Tekan APBN 2026, Pemerintah Perlu Jaga Subsidi dan Kurs
Penggunaan SAL dinilai sebagai langkah kontra-siklus saat harga minyak melonjak. Instrumen ini dapat meredam dampak langsung ke masyarakat.
SAL juga dapat digunakan cepat tanpa revisi APBN yang kompleks. Kebijakan ini membantu menjaga daya beli dengan menahan kenaikan harga bahan bakar.
Rahma mengingatkan keterbatasan SAL. Dana ini tidak dapat digunakan terus-menerus.
“Jika konflik AS-Iran berlarut-larut lebih dari satu tahun, maka SAL akan terkuras habis. Sedangkan dari opportunity cost maka uang yang dipakai untuk ‘membakar’ subsidi hilang begitu saja, tidak menjadi aset produktif,” jelasnya.
Efisiensi belanja dinilai lebih berkelanjutan. Kebijakan ini memperbaiki struktur fiskal dalam jangka panjang.
Baca juga: APBN Jamin Proyek Whoosh, Potensi Celah Pengawasan Muncul
Pemerintah dapat memangkas pos non-prioritas. Contohnya perjalanan dinas dan proyek non-strategis.
Langkah ini juga memperkuat kredibilitas fiskal. Disiplin anggaran berpotensi menjaga peringkat utang Indonesia.
Risiko tetap ada. Pemangkasan belanja yang terlalu dalam dapat menekan pertumbuhan ekonomi.
“Jika belanja pemerintah melambat terlalu drastis, pertumbuhan ekonomi bisa ikut terseret turun di bawah 5 persen,” ujarnya.
Rahma menyarankan pendekatan hibrida. Kombinasi SAL dan efisiensi belanja dinilai paling realistis untuk menjaga defisit dan stabilitas ekonomi.
Kebijakan subsidi juga perlu disesuaikan. Target penyaluran harus lebih tepat sasaran saat harga minyak tinggi berlangsung lama.
Ia menilai efisiensi belanja dan reformasi subsidi menjadi kunci jangka panjang. SAL berfungsi sebagai penyangga sementara.
“SAL hanyalah ‘napas tambahan’ agar pemerintah tidak pingsan saat berlari menanjak, tapi efisiensi belanja adalah cara pemerintah memperkuat ‘jantung’ fiskalnya agar bisa lari lebih jauh,” tegasnya.
Tekanan terhadap APBN meningkat setelah perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran gagal. Negosiasi berlangsung di Pakistan pada Sabtu (11/4/2026).
Laporan South China Morning Post menyebut Presiden AS Donald Trump menghadapi pilihan sulit. Opsi melanjutkan serangan militer atau menahan diri sama-sama berisiko.
Eskalasi militer berpotensi memicu penolakan domestik. Situasi ini sensitif menjelang pemilu paruh waktu.
Sebaliknya, tanpa langkah lanjutan, kebuntuan dengan Iran berlanjut. Akses ke Selat Hormuz tetap menjadi isu krusial bagi pasokan minyak global.
Perundingan selama 21 jam di Islamabad membahas program nuklir Iran dan akses ke Selat Hormuz. Kedua isu tidak mencapai titik temu.
Pejabat Iran menilai AS mengajukan “tuntutan berlebihan”. Kondisi ini membuat masa depan gencatan senjata dua pekan menjadi tidak pasti.
Tag: #defisit #tertekan #guru #besar #unair #sarankan #kombinasi #efisiensi #belanja