Daya Saing Mebel RI Diuji: Biaya Tinggi dan Serbuan Impor
Pameran furnitur dan mebel IFEX. (Dyandra)
10:04
14 April 2026

Daya Saing Mebel RI Diuji: Biaya Tinggi dan Serbuan Impor

- Industri mebel dan kerajinan Indonesia menghadapi tekanan dari berbagai sisi. Biaya produksi tinggi. Regulasi dinilai kompleks. Persaingan dengan produk impor murah semakin ketat.

Ketua Umum Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) Abdul Sobur menilai kondisi ini perlu pembenahan agar industri tetap kompetitif di pasar global.

Sobur menyebut banyaknya regulasi menjadi salah satu beban utama pelaku usaha. Aturan dinilai belum efisien dan menambah biaya.

“Kalau kita jujur, regulasi kita itu banyak sekali. Katanya sudah dimudahkan, tapi faktanya tidak semudah itu. Bahkan biaya tinggi yang kita tanggung itu sebagian besar karena regulasi,” ujar Sobur kepada Kompas.com, di Jakarta, Jumat (10/4/2026).

Baca juga: Tekanan Berlapis Industri Mebel RI: Biaya Produksi Naik dan Banjir Impor Murah, Ekspor Jadi Harapan

Kewajiban sertifikasi ekspor menjadi contoh. Produk yang masuk ke pasar Amerika Serikat harus memenuhi standar Forest Stewardship Council (FSC). Di dalam negeri, pelaku usaha juga wajib memenuhi Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK) atau Sistem Penelusuran Legalitas Kayu (SPLK).

“Di negara lain seperti Cina, Vietnam, atau Malaysia cukup FSC. Kita harus dua. Ini membuat kita lebih mahal dan kurang kompetitif,” katanya.

Proses administrasi lain turut menambah beban. Karantina dan potensi penundaan restitusi pajak ikut memengaruhi biaya usaha.Ketua Umum Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI), Abdul SoburKOMPAS.COM /KIKI SAFITRI Ketua Umum Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI), Abdul Sobur

Sobur juga menyoroti koordinasi antar kementerian. Kebijakan dinilai belum selaras.

“Kementerian Perdagangan dan Perindustrian bisa setuju, tapi Kementerian Kehutanan belum tentu. Akhirnya koordinasi tidak rapi, industri jadi korban,” jelasnya.

“Kalau kayu di hulu sudah legal dan bersertifikat, di hilir seharusnya tidak perlu diulang lagi. Ini malah jadi biaya berlapis,” tambahnya.

Baca juga: Peluang vs Tantangan: Industri Mebel dan Kerajinan RI di Persimpangan Jalan

HIMKI mencatat, beban dari sertifikasi dan administrasi bisa mencapai ratusan miliar rupiah per tahun.

Dari sisi daya saing, Indonesia tertinggal dari negara pesaing seperti China dan Vietnam. Selisih biaya produksi mencapai 20 persen hingga 25 persen lebih mahal.

“Cost structure mereka jauh lebih murah. Regulasi lebih ramping, logistik murah, dan skala produksi mereka sangat besar,” kata Sobur.

Ia menjelaskan, negara pesaing sudah berada pada tahap industrialisasi penuh. Indonesia masih berada di level semi-industri.

“Cina itu sudah efisiensi industri. Kita masih rajin, tapi belum efisien,” ujarnya.

Skala produksi besar membuat biaya logistik dan bahan baku di negara pesaing lebih rendah. Kondisi ini membuat persaingan harga sulit dimenangkan.

“Kalau melawan China dan Vietnam di harga, kita tidak akan menang. Harus beda strategi,” tegasnya.

Sobur mengusulkan pendekatan berbeda dalam pengembangan industri. Strategi tidak diseragamkan. Industri perlu dibagi ke dalam segmen yang lebih fokus.

“Kita punya craftmanship yang tinggi. Itu harus diangkat, dikombinasikan dengan teknologi dan branding,” katanya.

Ia mencontohkan Italia. Negara tersebut tetap kuat karena mengandalkan nilai produk dan branding.

“Italia tetap kuat karena craftmanship tinggi dan branding yang kuat. Mereka tidak ikut perang harga,” jelasnya.

Nilai produk ditentukan oleh posisi dan narasi merek. Produk serupa bisa memiliki harga berbeda.

“Seperti kopi. Sama-sama arabika, tapi ada yang harganya ratusan dolar per kilo karena branding dan positioning,” ujarnya.

HIMKI mendorong industri mebel nasional fokus ke pasar bernilai tinggi atau niche market. Strategi ini dinilai lebih relevan dibanding mengejar volume.

“Indonesia harus punya positioning. Kita berbeda. Kita punya value added yang lebih tinggi,” kata Sobur.

Ia menilai industri tetap memiliki peluang tumbuh jika strategi tepat dijalankan.

“Kita bisa. Tapi harus jelas arahnya: bukan melawan harga, tapi membangun nilai,” pungkasnya.

Tag:  #daya #saing #mebel #diuji #biaya #tinggi #serbuan #impor

KOMENTAR