Guru Besar Unair Beberkan Strategi Realistis Jaga APBN Saat Harga Minyak Tinggi
- Pemerintah dinilai perlu mengubah strategi fiskal jika konflik geopolitik berlangsung lama dan harga minyak tetap tinggi. Pendekatan jangka pendek dinilai tidak lagi cukup.
Guru Besar Universitas Airlangga Rahma Gafmi menilai tekanan lebih dari enam bulan akan menguji ketahanan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Instrumen sementara seperti bantalan kas tidak lagi memadai.
“Menghadapi risiko konflik yang berkepanjangan lebih dari 6 bulan dengan harga minyak yang stabil tinggi, pemerintah tidak bisa lagi hanya mengandalkan instrumen temporer. Strategi bertahan harus berubah menjadi strategi adaptasi,” kata Rahma kepada Kompas.com pada Senin (13/4/2026).
Baca juga: Tekan Defisit APBN, Ekonom CORE: Bisa Realokasi Anggaran Program Prioritas
Rahma mengusulkan pengaktifan kembali kebijakan pencadangan anggaran atau automatic adjustment. Kementerian dan lembaga diminta memblokir sebagian anggaran nonprioritas sebagai cadangan darurat.
Langkah ini menjaga ruang fiskal tanpa menambah utang. Dana yang diblokir dapat dialihkan saat subsidi energi meningkat.
“Dana ini menjadi cadangan darurat di dalam pagu yang sudah ada, sehingga jika subsidi energi membengkak, pemerintah tidak perlu menambah utang baru, melainkan cukup mengalihkan dana yang sudah diblokir tadi,” jelasnya.
Pengendalian konsumsi bahan bakar minyak (BBM) dinilai lebih efektif dibandingkan kenaikan harga. Rahma mendorong pengetatan regulasi penggunaan BBM subsidi.
Pembatasan diarahkan pada kendaraan tertentu agar konsumsi tetap sesuai kuota APBN.
“Secara teknis, ini lebih efektif menjaga fiskal daripada sekadar mengandalkan subsidi harga,” katanya.
Baca juga: Ekonom Ingatkan Ilusi Fiskal: Ketergantungan Dana Sitaan Bisa Gerus Kredibilitas APBN
Kenaikan harga komoditas lain dinilai dapat menjadi penyeimbang. Batu bara dan minyak sawit mentah dapat dimanfaatkan melalui penyesuaian pungutan ekspor.
Kebijakan ini berfungsi sebagai lindung nilai alami untuk menutup beban impor minyak yang meningkat.
Rahma juga menyoroti strategi pembiayaan. Pemerintah didorong lebih selektif di tengah suku bunga global yang tinggi.
Porsi penerbitan surat berharga negara ritel perlu ditingkatkan. Pinjaman dari lembaga multilateral dinilai lebih murah dan berjangka panjang.
Langkah ini menekan beban bunga utang agar tidak mengurangi belanja produktif.
Rahma menegaskan disiplin konsumsi energi dan belanja menjadi kunci utama. Defisit anggaran bergantung pada dua faktor tersebut.
“Langkah paling realistis saat ini berharap harga minyak turun bukan prioritas utama, melainkan mendisiplinkan volume konsumsi dalam negeri dan memperketat ikat pinggang di belanja birokrasi. Tanpa pembatasan volume BBM yang kredibel, SAL sebesar apa pun akan bocor dalam hitungan bulan,” ucapnya.
Tag: #guru #besar #unair #beberkan #strategi #realistis #jaga #apbn #saat #harga #minyak #tinggi