Menurunkan Angka Kematian Ibu Lewat Perbaikan Sistem Rujukan dan Peran Komunitas
Prof Rinawati mewakili Indonesia dalam forum internasional ?Measuring What Matters, Doing What Works: PHC & Community Entry Points to Accelerate Maternal Health? di Genewa, Swiss (18/5/2026).(Dok pribadi)
07:30
22 Mei 2026

Menurunkan Angka Kematian Ibu Lewat Perbaikan Sistem Rujukan dan Peran Komunitas

Meski investasi kesehatan global terus meningkat, angka kematian ibu dan bayi di banyak negara berkembang masih sulit ditekan, termasuk di Indonesia. 

Dari laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) diperkirakan ada 287.000 kematian ibu pada 2020 yang setara dengan satu kematian setiap 2 menit. 

Dalam studi terbaru yang dirilis oleh WHO di jurnal Lancet pada 7 Maret 2025 disebutkan, penyebab kematian ibu yang paling umum adalah perdarahan (27 persen), kematian obstetrik tidak langsung atau penyakit yang tidak terkait kehamilan (23 persen), serta preeklamsia termasuk hipertensi dalam kehamilan (16 persen).

Dalam sebuah forum kesehatan global, dokter spesialis neonatal Prof. Rinawati Rohsiswatmo, menyampaikan tantangan tersebut menjadi semakin kompleks di negara kepulauan seperti Indonesia dengan kondisi geografis dan kesenjangan layanan kesehatan yang berbeda antar wilayah. Karena itu, pendekatan kesehatan ibu tidak bisa dibuat seragam. 

Baca juga: 80 Tahun Indonesia Merdeka, Angka Kematian Ibu dan Bayi Masih Tinggi

“Program harus disesuaikan dengan kondisi tiap daerah. Yang paling penting adalah bagaimana komunitas ikut bergerak dan menjadi bagian dari kekuatan sistem kesehatan,” ujarnya.

Ia menyampaikan hal tersebut dalam forum internasional “Measuring What Matters, Doing What Works: PHC & Community Entry Points to Accelerate Maternal Health” yang digelar Business Council for International Understanding (BCIU) Senin 18 Mei 2026 di Geneva, Swiss, pada rangkaian World Health Assembly ke-79.

Dalam forum itu para ahli menyoroti bahwa tingginya angka kematian ibu tidak hanya disebabkan keterbatasan fasilitas kesehatan, tetapi juga lemahnya layanan kesehatan primer, sistem rujukan, serta kurang terhubungnya layanan kesehatan dengan komunitas di tingkat akar rumput.

Pandangan tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan menurunkan angka kematian ibu tidak cukup hanya dengan menambah jumlah rumah sakit atau fasilitas kesehatan. Yang lebih penting adalah memastikan adanya kesinambungan pelayanan, mulai dari deteksi dini di masyarakat, proses rujukan yang cepat dan tepat, hingga penanganan neonatal di rumah sakit. 

Baca juga: Tekan Angka Kematian Ibu, POGI Luncurkan Gerakan SPRIN

“Kesinambungan program dari rumah sakit sampai masyarakat menjadi kunci. Setiap daerah memiliki tantangan inequity yang berbeda sehingga pendekatan harus kontekstual,” ungkap Prof. Rinawati yang sempat menjadi Ketua UKK Perinatologi IDAI ini.

Pendekatan ini sejalan dengan arah baru diskursus kesehatan global yang mulai bergeser dari layanan berbasis rumah sakit semata menuju healthcare berbasis komunitas yang lebih dekat dengan masyarakat.

Indonesia menjadi contoh

Kehadiran Indonesia dalam forum internasional tersebut juga memperlihatkan bahwa pengalaman negara berkembang kini semakin relevan dalam percakapan kesehatan global. 

Indonesia dinilai memiliki pengalaman nyata dalam membangun jejaring maternal-neonatal berbasis komunitas. Dari Posyandu, Puskesmas, hingga rumah sakit rujukan, Indonesia dinilai memiliki pelajaran penting dalam membangun continuity of care di tengah tantangan geografis dan ketimpangan sosial.

Forum yang sangat strategis ini juga menghadirkan Dr Geoff Ibbotson dari Global Surgery Foundation, Dr Maureen Momanyi dari UNICEF, dan Julius Mbeya dari Lwala Community, Kenya sebagai perwakilan Afrika.

Baca juga: Persalinan Terencana Tingkatkan Keselamatan Bayi dengan Penyakit Jantung Bawaan

Tag:  #menurunkan #angka #kematian #lewat #perbaikan #sistem #rujukan #peran #komunitas

KOMENTAR