Sehat Keuangan di Tengah Gempuran Sosialita Zaman Kini
DI LINIMASA media sosial, kehidupan tampak selalu meriah. Undangan makan bersama, selebrasi kecil di kafe estetik, hingga liburan singkat seolah menjadi ritme hidup yang wajar.
Gaya hidup sosialita, yang dulu identik dengan segelintir kalangan, kini merasuk ke kelas menengah perkotaan dan generasi produktif.
Namun, di balik keramaian sosial itu, ada pertanyaan yang jarang diajukan secara jujur: sejauh mana keuangan kita benar-benar sanggup menanggungnya?
Pertanyaan ini menjadi relevan ketika indikator utang konsumtif menunjukkan tren yang mengkhawatirkan.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, hingga Februari 2026, outstanding pinjaman online menembus Rp 100 triliun, tumbuh lebih dari 25 persen secara tahunan.
Bersamaan dengan itu, kredit buy now pay later (BNPL) dan kartu kredit juga meningkat pesat, terutama di wilayah perkotaan.
Artinya, konsumsi kian sering disokong utang, bukan oleh kapasitas pendapatan yang seimbang.
Antara Relasi dan Representasi
Tidak adil jika gaya hidup sosialita dipahami sekadar perilaku konsumtif. Kehidupan sosial memiliki fungsi penting: membangun jejaring dan menjaga kesehatan mental.
Masalah muncul ketika relasi sosial bergeser menjadi ruang representasi. Kehadiran tidak lagi sekadar berjumpa, tetapi juga menunjukkan posisi sosial.
Media sosial mempercepat pergeseran itu. Realitas finansial kerap disunting rapi. Yang tampak adalah gaya hidup.
Baca juga: China Menang, Amerika Mulai Dibuang
Sementara cicilan, bunga kartu kredit, atau tunggakan paylater tak pernah masuk bingkai. Ilusi kemapanan ini menciptakan tekanan sosial yang diam-diam menggerus rasionalitas finansial.
Ekonom INDEF, Tauhid Ahmad, mengingatkan bahwa utang konsumtif merupakan pintu masuk lingkaran masalah.
“Bahaya pinjaman online karena sebagian besar digunakan untuk konsumsi, bukan kegiatan produktif. Akhirnya, orang terjebak dalam siklus: gajian untuk bayar utang, lalu berutang lagi,” ujarnya dalam wawancara dengan media pada Oktober 2025.
Di sinilah konsep sehat keuangan menemukan urgensinya.
Sehat keuangan bukan soal menumpuk aset semata, melainkan kecakapan mengelola pilihan hidup—termasuk dalam bersosialisasi. Ia menuntut kemampuan menetapkan batas dan berani berbeda dari arus.
Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan OJK, Agusman, berulang kali menekankan bahwa literasi keuangan berkaitan langsung dengan perilaku.
“Literasi keuangan memengaruhi sikap dan perilaku seseorang dalam mengambil keputusan, termasuk dalam berutang. Tanpa pemahaman yang memadai, risiko terjebak produk keuangan konsumtif akan semakin besar,” demikian penjelasan OJK dalam berbagai forum edukasi keuangan.
Indonesia memang relatif memiliki rasio utang rumah tangga yang moderat—sekitar 15 persen terhadap PDB. Namun, persoalannya terletak pada komposisi utang.
Pertumbuhan tercepat justru berasal dari utang jangka pendek dengan bunga tinggi dan peruntukan konsumtif.
Inilah titik rapuh yang mudah memicu tekanan psikologis dan instabilitas rumah tangga.
Menimbang Ulang Makna “Cukup”
Dalam masyarakat konsumtif, tantangan terbesar adalah mendefinisikan ulang makna “cukup”.
Standar kecukupan kini lebih sering ditentukan oleh linimasa, bukan oleh rencana hidup. Padahal, kedewasaan finansial justru tercermin dari kemampuan menunda dan berkata tidak.
Direktur Eksekutif CELIOS, Bhima Yudhistira, mengingatkan bahwa tekanan gaya hidup dan utang bisa membuat kelas menengah kehilangan pijakan.
“Kelas menengah rentan jatuh miskin ketika biaya hidup naik, pendapatan tidak bergerak, dan utang konsumtif terus menumpuk. Jika dibiarkan, ini bisa memicu fenomena shrinking middle class,” ujarnya pada media di tahun 2024.
Peringatan ini relevan dengan realitas hari ini. Banyak yang secara visual tampak mapan, tetapi rapuh menghadapi guncangan kecil—kehilangan pekerjaan, sakit, atau kenaikan biaya hidup.
Ketahanan finansial, yang sesungguhnya lebih menentukan kualitas hidup jangka panjang, justru jarang menjadi tolok ukur status.
Fenomena ini tidak bisa sepenuhnya dibebankan pada individu. Ada dimensi kolektif yang kuat.
Media, influencer, dan figur publik berperan besar membentuk norma gaya hidup. Ketika kesuksesan terus direpresentasikan lewat konsumsi, tekanan sosial akan terus direproduksi.
Karena itu, narasi alternatif perlu lebih sering dihadirkan. Gaya hidup yang bersosial namun sadar batas harus dinormalisasi.
Baca juga: Mutu Sekolah Bukan Sekadar Angka
Percakapan tentang anggaran, utang, dan perencanaan hidup semestinya tidak dianggap tabu atau kurang keren, melainkan bagian dari kecakapan hidup modern.
Gaya hidup sosialita adalah bagian dari realitas masyarakat urban masa kini. Ia tidak harus dinegasikan.
Namun, meningkatnya utang konsumtif menjadi sinyal bahwa keseimbangan perlu segera dipulihkan.
Sehat keuangan bukan ajakan untuk menarik diri dari kehidupan sosial, melainkan hadir dengan kesadaran dan kendali.
Pada akhirnya, mungkin pertanyaan terpenting bukan seberapa sering kita terlihat bersenang-senang, melainkan seberapa siap kita menghadapi hari esok—tanpa harus dibayangi beban yang kita ciptakan sendiri hari ini.
Tag: #sehat #keuangan #tengah #gempuran #sosialita #zaman #kini