Dampak Perang Iran: Asia Jadi Korban Utama Krisis Energi Global
Kementerian Pertahanan Arab Saudi mengungkapkan pihaknya berhasil mencegat dua drone yang berupaya menyerang kilang minyak Ras Tanura pada Senin (2/3/2026).(Saudi Gazette)
17:20
16 April 2026

Dampak Perang Iran: Asia Jadi Korban Utama Krisis Energi Global

Krisis energi global yang dipicu konflik di Timur Tengah mulai menunjukkan dampak paling nyata di kawasan Asia.

Gangguan pasokan minyak dan produk turunannya tidak hanya menekan sektor industri, tetapi juga merambat ke konsumsi rumah tangga dan stabilitas ekonomi di negara berkembang.

Laporan Oil Market Report edisi 14 April 2026 dari International Energy Agency (IEA) mencatat, gangguan distribusi energi global telah memukul keras negara-negara di Asia yang sangat bergantung pada impor energi, khususnya dari kawasan Teluk.

Baca juga: IEA Ungkap Dampak Perang Iran: Pasokan Minyak Terganggu, Permintaan Menyusut

Selat Hormuz saat dilihat dari Satelit Terra milik NASA pada 5 Februari 2025.NASA EARTH OBSERVATORY via AFP Selat Hormuz saat dilihat dari Satelit Terra milik NASA pada 5 Februari 2025.

“Blokade Selat Hormuz telah mengacaukan rantai pasok ke Asia,” tulis IEA dalam laporannya, dikutip pada Kamis (16/4/2026).

Lembaga tersebut menambahkan, pasokan minyak, gas cair (LPG), dan bahan baku petrokimia mengalami gangguan signifikan.

Industri petrokimia terpukul

Salah satu sektor yang paling terdampak adalah industri petrokimia, yang menjadi tulang punggung manufaktur di banyak negara Asia.

Ketergantungan tinggi pada bahan baku seperti naphtha, LPG, dan etana membuat industri ini sangat rentan terhadap gangguan pasokan.

Baca juga: Blokade Selat Hormuz Tekan Pasokan, Harga Minyak Bertahan di Atas 90 Dollar AS

IEA mencatat, permintaan global untuk bahan baku petrokimia turun tajam, dengan penurunan mencapai 1,5 juta barrel per hari (bph) pada kuartal II 2026 dibandingkan proyeksi sebelumnya.

Dampak paling terasa terjadi di Asia, di mana banyak pabrik harus mengurangi kapasitas produksi.

Ilustrasi pupuk NPK. SHUTTERSTOCK/CRINIGER OLIO Ilustrasi pupuk NPK.

“Pemangkasan produksi dilaporkan mencapai antara 10 persen hingga 30 persen kapasitas di berbagai fasilitas petrokimia di Asia,” tulis IEA dalam laporannya.

Penurunan ini dipicu oleh lonjakan biaya bahan baku serta keterbatasan pasokan akibat terhambatnya distribusi dari Timur Tengah.

Baca juga: Ekspor Minyak Norwegia Pecahkan Rekor di Tengah Konflik Timur Tengah

Bahkan, beberapa negara mengalami penurunan konsumsi naphtha hingga 450.000 barrel per hari (bph) dan LPG/etana sebesar 320.000 bph dibandingkan kondisi sebelum konflik.

Kondisi ini berdampak langsung pada sektor hilir seperti manufaktur, tekstil, konstruksi, hingga industri kemasan.

IEA memperingatkan, penipisan stok polimer di sejumlah pasar dapat memicu gangguan produksi yang lebih luas.

“Persediaan polimer di beberapa pasar mulai menipis, mengancam sektor manufaktur, tekstil, konstruksi, dan kemasan,” jelas IEA.

Baca juga: Harga Minyak Dunia Naik Tipis, Pasar Pantau Negosiasi AS-Iran

Konsumsi energi rumah tangga ikut tertekan

Tidak hanya sektor industri, dampak krisis energi juga dirasakan oleh rumah tangga di Asia, terutama yang bergantung pada LPG sebagai bahan bakar utama.

IEA mencatat, gangguan pasokan LPG dari kawasan Teluk berdampak langsung pada konsumsi domestik di negara-negara Asia dan Afrika.

Dalam periode Maret hingga Mei 2026, konsumsi LPG dan etana di negara non-OECD diperkirakan turun hingga 990.000 bph secara tahunan.

“Gangguan aliran LPG memiliki dampak langsung karena banyak negara di Asia sangat bergantung pada pasokan dari Teluk untuk kebutuhan memasak dan penggunaan domestik lainnya,” tulis IEA.

Baca juga: Wakil Ketua MPR Nilai Indonesia di Zona Aman Ketahanan Energi Imbas Pasokan Minyak Rusia

Ilustrasi minyak bumi.
Freepik Ilustrasi minyak bumi.

India menjadi salah satu contoh negara yang terdampak.

Meskipun permintaan energi secara keseluruhan masih tumbuh, konsumsi LPG dan naphtha di negara tersebut turun masing-masing 12,5 persen dan 14 persen secara tahunan pada Maret 2026.

Penurunan ini terjadi seiring langkah industri mengurangi produksi serta terbatasnya pasokan untuk kebutuhan rumah tangga.

Respons kebijakan: dari pembatasan hingga substitusi energi

Menghadapi tekanan tersebut, berbagai negara di Asia mulai menerapkan kebijakan untuk mengendalikan konsumsi energi sekaligus menjaga stabilitas ekonomi.

Baca juga: Harga Minyak Dunia Turun Tajam, Pasar Bertaruh pada Negosiasi AS-Iran

IEA mencatat, sejumlah negara telah mengeluarkan kebijakan penghematan energi yang mencakup pembatasan aktivitas ekonomi hingga perubahan pola kerja.

“Langkah-langkah yang diterapkan mencakup pembatasan perjalanan udara, penerapan kerja jarak jauh bagi pegawai pemerintah, hingga pengurangan aktivitas proyek konstruksi,” tulis laporan tersebut.

Selain itu, beberapa negara juga mendorong penggunaan energi alternatif. Di India, pemerintah menerapkan kebijakan rationing LPG, pengendalian penimbunan, serta mendorong penggunaan bahan bakar alternatif untuk mengurangi tekanan pada pasokan.

Sementara itu, negara lain seperti Pakistan dan Bangladesh mulai meningkatkan penggunaan bahan bakar minyak untuk pembangkit listrik sebagai pengganti gas yang pasokannya terganggu.

Baca juga: Bahlil Sebut RI Dapat Pasokan Minyak dan Elpiji dari Rusia

Di sisi industri, adaptasi juga mulai terlihat. China, misalnya, meningkatkan penggunaan batu bara sebagai bahan baku alternatif dalam produksi petrokimia.

Proses konversi batu bara menjadi bahan kimia dinilai mampu menjaga produksi tetap berjalan di tengah keterbatasan pasokan minyak.

Ilustrasi jenis-jenis batu bara.iStockphoto/small smiles Ilustrasi jenis-jenis batu bara.

“Proses berbasis batu bara di China menunjukkan peningkatan margin dan beroperasi pada tingkat tinggi,” tulis IEA.

Ketahanan energi diuji

Krisis ini sekaligus menguji ketahanan energi negara-negara Asia. Negara dengan diversifikasi energi yang lebih baik cenderung lebih mampu menahan guncangan.

Baca juga: RI Mau Beli Minyak dari Rusia, Pertamina: Akan Tindak Lanjuti Sesuai Arahan...

China, misalnya, dinilai relatif lebih tahan karena memiliki cadangan minyak yang besar serta bauran energi yang lebih beragam.

Selain itu, penggunaan kendaraan listrik dan truk berbahan bakar gas turut mengurangi ketergantungan pada minyak.

Sebaliknya, negara dengan ketergantungan tinggi pada impor energi dari Timur Tengah menghadapi tekanan yang lebih besar, baik dari sisi pasokan maupun harga.

IEA juga mencatat bahwa sejumlah negara mulai menggunakan cadangan energi strategis untuk menjaga stabilitas pasokan dalam jangka pendek.

Baca juga: Ekonom Sebut Ketergantungan Minyak RI ke Timur Tengah Hanya 20 Persen, Lebih Aman dari Negara Tetangga

Namun, langkah ini hanya bersifat sementara dan tidak dapat sepenuhnya menggantikan pasokan yang hilang dalam jangka panjang.

Risiko berlanjut

Ke depan, prospek pasar energi global masih sangat bergantung pada perkembangan geopolitik, khususnya terkait akses ke Selat Hormuz yang menjadi jalur utama distribusi energi dunia.

IEA menyebutkan bahwa pemulihan aliran energi melalui selat tersebut menjadi faktor kunci dalam meredakan tekanan pasar.

“Pemulihan aliran melalui Selat Hormuz tetap menjadi variabel paling penting untuk meredakan tekanan pada pasokan energi, harga, dan ekonomi global,” ungkap IEA.

Baca juga: Bahlil Dampingin Prabowo ke Rusia, Jaga Pasokan Minyak Domestik

Jika gangguan berlanjut, dampak terhadap Asia diperkirakan akan semakin dalam, tidak hanya pada sektor energi, tetapi juga terhadap pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.

Dalam skenario terburuk, IEA memperkirakan penurunan permintaan minyak global bisa mencapai hingga 5 juta bph akibat kombinasi harga tinggi dan perlambatan ekonomi.

Bagi Asia, kondisi ini menjadi pengingat kuat akan pentingnya diversifikasi energi dan penguatan ketahanan pasokan di tengah ketidakpastian geopolitik global.

Tag:  #dampak #perang #iran #asia #jadi #korban #utama #krisis #energi #global

KOMENTAR