Iran Tegaskan Tak Akan Tunduk setelah Trump Tolak Proposal Damai
Presiden Amerika Serikat Donald Trump saat berbicara dalam konferensi pers di Brady Briefing Room, Gedung Putih, Washington DC, sesaat setelah insiden penembakan makan malam pada 25 April 2026.(AFP/MANDEL NGAN)
12:52
11 Mei 2026

Iran Tegaskan Tak Akan Tunduk setelah Trump Tolak Proposal Damai

– Konflik di Timur Tengah kembali memanas setelah Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump menolak proposal balasan Iran untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung selama 10 pekan.

Trump menyebut tawaran dari Teheran itu “sepenuhnya tidak dapat diterima” dan menegaskan sikap keras Washington terhadap Iran.

“Saya baru saja membaca respons dari apa yang disebut sebagai ‘Perwakilan’ Iran. Saya tidak menyukainya — SAMA SEKALI TIDAK DAPAT DITERIMA!” tulis Trump melalui Truth Social, Minggu (10/5/2026).

Baca juga: AS dan Iran Gagal Damai, Saling Tolak Tuntutan Akhiri Perang

Dikutip dari CNBC, Senin (11/5/2026), penolakan tersebut memperpanjang kebuntuan antara kedua negara yang telah mengganggu jalur pelayaran Selat Hormuz dan mengguncang pasar energi global.

Media pemerintah Iran menggambarkan respons Teheran sebagai penolakan atas proposal AS yang dianggap sebagai tuntutan “menyerah”.

Dalam proposal balasannya, Iran meminta kompensasi perang, kedaulatan penuh atas Selat Hormuz, pencabutan sanksi, serta pembebasan aset-aset Iran yang dibekukan.

Presiden Iran, Masoud Pezeshkian menegaskan negaranya tidak akan tunduk pada tekanan musuh.

“Kami tidak akan pernah menundukkan kepala di hadapan musuh. Jika ada pembicaraan mengenai dialog atau negosiasi, itu bukan berarti menyerah atau mundur,” tulis Pezeshkian di platform X.

Baca juga: Trump Murka soal Respons Iran atas Proposal Damai, Apa yang Dituntut Teheran?

Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan perang belum berakhir karena masih ada “pekerjaan yang harus diselesaikan”.

Dalam wawancara dengan program “60 Minutes” CBS News, Netanyahu menyebut Iran belum menyerahkan uranium yang diperkaya maupun membongkar fasilitas pengayaan nuklirnya.

Ia juga menuding Iran masih mendukung kelompok proksi di kawasan dan terus mengembangkan program rudal balistik.

Kapal penarik Basim berbendera Iran berlayar dekat kapal yang berlabuh di Selat Hormuz. Foto ini dipotret dari Bandar Abbas, Iran selatan, 4 Mei 2026 ketika perang Iran masih berkecamuk.ISNA/AMIRHOSSEIN KHORGOOEI via AFP Kapal penarik Basim berbendera Iran berlayar dekat kapal yang berlabuh di Selat Hormuz. Foto ini dipotret dari Bandar Abbas, Iran selatan, 4 Mei 2026 ketika perang Iran masih berkecamuk.

Kebuntuan Nuklir dan Selat Hormuz

Laporan The Wall Street Journal menyebut Iran menolak tuntutan AS terkait program nuklir dan stok uranium yang diperkaya tinggi.

Sebagai gantinya, Teheran mengusulkan negosiasi terpisah serta menawarkan pengenceran sebagian uranium yang diperkaya tinggi dan pemindahan sisanya ke negara ketiga.

Namun, Iran meminta uranium tersebut dikembalikan apabila Washington keluar dari kesepakatan di masa depan.

AS menginginkan jaminan bahwa Iran menghentikan program nuklirnya sebagai bagian dari perjanjian damai. Iran dilaporkan bersedia menghentikan pengayaan uranium, tetapi dengan jangka waktu lebih singkat dibanding moratorium 20 tahun yang diusulkan AS.

Baca juga: Macron Tegaskan Tak Pernah Berencana Kirim Pasukan untuk Buka Selat Hormuz

Teheran juga menolak pembongkaran fasilitas nuklirnya.

Selain itu, Iran meminta AS menghentikan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran sebagai syarat pembukaan kembali Selat Hormuz.

Pada Minggu, sebuah kapal tanker LNG asal Qatar melintasi Selat Hormuz untuk pertama kalinya sejak perang dimulai. Langkah itu disebut disetujui Iran untuk membangun kepercayaan dengan Qatar dan Pakistan.

Meski demikian, pasar energi global masih diliputi kekhawatiran.

“Pasar minyak tetap sangat sensitif terhadap perkembangan terbaru. Investor berada di antara harapan deeskalasi dan risiko bentrokan sporadis yang terus mempertahankan premi risiko energi,” kata analis mata uang OCBC Bank, Christopher Wong.

Harga minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juni naik 4,96 persen menjadi 100,3 dollar AS per barrel. Sementara minyak Brent untuk pengiriman Juli menguat 4,92 persen menjadi 105,76 dollar AS per barrel.

Baca juga: Harga Minyak Dunia Melonjak 4 Persen Usai Trump Tolak Proposal Iran

Serangan Drone Berlanjut

Iran juga melanjutkan serangan drone terhadap negara-negara Teluk selama akhir pekan.

Uni Emirat Arab (UEA) menyatakan berhasil mencegat dua drone yang berasal dari Iran.

Qatar mengecam serangan drone yang menghantam kapal kargo di wilayah perairannya, sedangkan Kuwait menyebut sistem pertahanan udaranya menghadapi drone bermusuhan yang memasuki wilayah udara negara itu.

Juru bicara Angkatan Darat Iran Brigadir Jenderal Mohammad Akraminia memperingatkan adanya “opsi mengejutkan” jika lawan kembali melakukan “salah perhitungan”.

Ia mengatakan setiap agresi baru akan membawa konflik ke wilayah yang “tidak pernah diperkirakan musuh”.

Pemimpin tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, yang belum pernah tampil di publik sejak perang dimulai, juga dilaporkan mengeluarkan “instruksi baru dan tegas” terkait operasi militer Iran.

Baca juga: Trump Bertemu Xi Jinping Pekan Ini, CEO Apple dan Nvidia Ikut Mendampingi?

Bayangi Pertemuan Trump dan Xi Jinping

Ketegangan Iran-AS juga membayangi rencana pertemuan Trump dengan Presiden China Xi Jinping di Beijing pekan ini.

Washington disebut berupaya mendorong Beijing menekan Teheran agar membuka kembali Selat Hormuz. Namun, belum jelas sejauh mana China bersedia mengambil peran tersebut.

Managing Director Fed Watch Advisors Ben Emons memperkirakan hasil pertemuan kemungkinan hanya menghasilkan kesepakatan deeskalasi yang terbatas.

Menurut dia, China memiliki kepentingan yang sama dengan AS untuk menjaga stabilitas Selat Hormuz, tetapi Beijing juga tidak ingin merusak hubungan strategisnya dengan Iran.

Pekan lalu, China menjamu Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi di Beijing. Dalam pertemuan itu, diplomat senior China Wang Yi kembali menegaskan “kemitraan strategis” kedua negara sekaligus mendorong penyelesaian diplomatik atas konflik kawasan.

Tag:  #iran #tegaskan #akan #tunduk #setelah #trump #tolak #proposal #damai

KOMENTAR