Pasokan Dalam Negeri Surplus, Produksi Pupuk RI Diincar Negara Lain
Pasokan pupuk menjadi salah satu komoditas andalan Indonesia. Pasalnya, Indonesia saat ini mencatat volume surplus produksi hingga 1,5 juta ton.
Di sisi lain, pasokan pupuk di banyak negara dunia justru tengah terimbas konflik yang terjadi di Timur Tengah.
Indonesia dinilai mampu memastikan pasokan pupuk domestik tetap aman di tengah krisis geopolitik Timur Tengah.
Baca juga: Pupuk Kaltim Kerja Sama dengan Serikat Pekerja, Tingkatkan Kesejahteraan Karyawan
Ilustrasi Pupuk Indonesia
Pupuk merupakan salah satu dari tiga komoditas perdagangan di luar minyak dan gas yang terdampak konflik di jalur pelayaran sempit di Teluk Persia tersebut.
Sebagai gambaran, sekitar sepertiga perdagangan pupuk dunia melewati jalur tersebut, termasuk urea dan amonia yang menjadi komponen utama nutrisi tanaman.
PT Pupuk Indonesia (Persero) terus memperkuat fondasi bisnisnya di tengah tekanan rantai pasok pupuk global, dengan fokus utama menjaga pasokan dalam negeri sekaligus memanfaatkan peluang ekspor.
Strategi ini menjadi kunci perusahaan dalam menopang ketahanan pangan nasional sekaligus memperluas peran Indonesia di pasar global.
Baca juga: Krisis Selat Hormuz Tekan Pasokan Pupuk, Produksi Pangan Terancam
Daya tahan kapasitas produksi pupuk domestik
Indonesia diketahui memiliki kapasitas produksi mencapai 14,8 juta ton per tahun, termasuk 9,4 juta ton urea.
Pupuk Indonesia memiliki daya tahan yang relatif kuat terhadap gangguan pasokan global.
Ilustrasi pupuk urea.
Kapasitas produksi yang besar tersebut ditopang oleh transformasi menyeluruh yang dijalankan perusahaan, mulai dari perbaikan kebijakan subsidi hingga tata kelola distribusi dan pembiayaan.
Direktur Utama Pupuk Indonesia, Rahmad Pribadi, mengatakan, pemenuhan kebutuhan domestik tetap menjadi prioritas utama.
Baca juga: Dari Hormuz ke Sawah: Geopolitik Pupuk dan Ketahanan Pangan Dunia
"Setelah kebutuhan domestik terpenuhi, terdapat potensi ekspor sekitar 1,5 hingga 2 juta ton untuk mendukung stabilitas pasar global," ungkap dia dikutip dari Kontan.
Anggota Komisi IV DPR RI dari Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN) Herry Dermawan menilai kondisi pasokan pupuk nasional relatif kuat, salah satunya didukung oleh ketahanan bahan baku.
Hal tersebut tidak lepas dari peran Pupuk Indonesia dan pemerintah yang memastikan pasokan pupuk domestik tetap aman.
Berkat hal tersebut, di tengah terganggunya pasokan pupuk global, Indonesia justru mampu mempertahankan Harga Eceran Tertinggi (HET) pupuk subsidi yang telah diturunkan sebesar 20 persen pada 2025.
Baca juga: Strategi Keberlanjutan Pupuk Kaltim: Dari Biogas hingga PLTS
Sebagai catatan, penurunan Harga Eceran Tertinggi (HET) sebesar 20 persen pada 2025 turut mendorong peningkatan penyerapan pupuk subsidi hingga 31 persen pada kuartal I-2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
“Luar biasa berani menurunkan harga pupuk 20 persen dan tadi juga sudah dinyatakan, walaupun ada perang Israel-Amerika lawan Iran, Insya Allah pupuk kita aman karena bahan baku kita sudah tersedia,” kata dia dalam keterangan tertulis, Kamis (16/4/2026).
Senada, Anggota Komisi IV DPR dari Fraksi Gerindra, TA Khalid menyampaikan Indonesia patut bersyukur karena penutupan Selat Hormuz tidak sampai berdampak negatif pada pasokan pupuk nasional.
“Kita bangga bahwa problem konflik Timur Tengah tidak berefek pada kita. Padahal kita tahu, (penutupan) Selat Hormuz itu akan mengganggu pasokan pupuk dunia,” ujar Khalid.
Ilustrasi pupuk NPK
Baca juga: Demi B50, Pupuk Indonesia Mau Bangun Pabrik Metanol di Aceh dan Kaltim
Ia menambahkan, ketahanan pasokan ini tidak terlepas dari fondasi industri pupuk nasional yang telah dibangun sejak lama.
Menurut dia, konsistensi pemerintah dalam mengembangkan industri pupuk dari hulu hingga hilir menjadi kunci stabilitas pasokan saat ini.
“Pemerintah sejak Pak Presiden Soeharto sampai hari ini masih fokus bagaimana membangun industri pupuk,” kata dia.
Sebelumnya, dinamika konflik di kawasan Timur Tengah sempat menimbulkan kekhawatiran terhadap ketersediaan pupuk dunia.
Baca juga: Kekuatan Tersembunyi Pupuk Indonesia di Tengah Perang Iran
Namun, kondisi ini tidak berdampak signifikan bagi Indonesia karena kuatnya kapasitas produksi dalam negeri dan ketahanan rantai pasok bahan baku.
Padahal, penurunan drastis aktivitas pelayaran di Selat Hormuz menjadi pemicu utama terganggunya distribusi pupuk.
Indonesia punya surplus pupuk, Australia Impor
Berdasarkan catatan Kompas.com, Indonesia diketahui memiliki surplus sekitar 1,5 juta ton urea, yang membuka peluang ekspor ke berbagai negara.
Kapasitas produksi urea PT Pupuk Indonesia (Persero) mencapai 9,4 juta ton per tahun.
Baca juga: 3 Raksasa Pupuk ASEAN Bentuk Aliansi di Tengah Risiko Pasokan Global
Target produksi pada 2026 sebesar 7,8 juta ton.
Sebanyak 6,3 juta ton dialokasikan untuk kebutuhan pupuk subsidi dalam negeri.
Selisih antara produksi dan kebutuhan dalam negeri menghasilkan surplus.
Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono menyebut beberapa negara lain seperti India, Filipina, dan Brasil juga tertarik untuk mengimpor pupuk dari Indonesia.
Baca juga: Penutupan Selat Hormuz Bikin Harga Urea Global Melonjak, Dirut Pupuk Jamin RI Tetap Aman
Industri pupuk domestik yang solid juga dibuktikan dengan kerja sama yang dilakukan Indonesia dengan Australia.
Australia mengamankan pasokan pupuk dari Indonesia di tengah gangguan rantai pasok global akibat konflik Timur Tengah.
Kesepakatan ini mencakup pengiriman 250.000 ton pupuk untuk membantu petani Australia menghadapi musim tanam.
Pemerintah kedua negara menyebut langkah ini penting untuk menjaga produksi pangan dan stabilitas kawasan.
Baca juga: Harga Urea Global Naik, Pupuk Indonesia Jaga HET Rp 1.800 per Kg
Dilansir AFP, Australia akan mengimpor 250.000 ton pupuk urea dari Indonesia dalam beberapa bulan ke depan guna meredakan kekhawatiran kekurangan pasokan.
Pemerintah Australia mengungkapkan, langkah ini penting untuk menjaga produksi pangan, terutama saat petani tengah menanam tanaman musim dingin.
“Ini menjamin pasokan pupuk bagi petani Australia pada saat yang krusial,” ujar Menteri Pertanian Julie Collins pada Kamis (16/4/2026).
Sebagai gambaran, harga pupuk urea di Australia bahkan melonjak sekitar 60 persen sejak konflik pecah pada akhir Februari. Selain itu, kenaikan harga bahan bakar turut menambah beban biaya produksi petani.
Baca juga: Pasokan Urea Dunia Terganggu, Pupuk Indonesia Siap Ekspor 2 Juta Ton
Krisis ini juga dipicu oleh terganggunya jalur pelayaran di Selat Hormuz akibat situasi dengan Iran, yang berdampak langsung pada distribusi energi dan pupuk global.
Kesepakatan ini difasilitasi pemerintah Indonesia melalui kerja sama antara perusahaan pupuk Australia Incitec Pivot dan Pupuk Indonesia.
Perdana Menteri (PM) Australia Anthony Albanese menegaskan pentingnya kerja sama regional dalam menghadapi krisis pasokan.
“Kami memahami betapa pentingnya pupuk bagi petani Australia, bagi sistem produksi pangan kami dan ketahanan pangan kawasan,” kata dia.
Baca juga: Genjot Daya Saing Industri Pupuk, Petrokimia Gresik Fokus Proyek Strategis
Selain itu, Duta Besar India untuk Indonesia Sandeep Chakravorty menyatakan kesiapan untuk mengimpor urea dari Indonesia.
“Jika terdapat surplus, maka kami akan sangat senang untuk membelinya dari Indonesia melalui skema kerja sama antar pemerintah (G2G),” jelas dia.
Tag: #pasokan #dalam #negeri #surplus #produksi #pupuk #diincar #negara #lain