Harga Minyak Naik-Turun Tajam di Tengah Ketegangan AS-Iran
Ilustrasi harga minyak(SHUTTERSTOCK/MASSIMO VERNICESOLE)
09:08
21 April 2026

Harga Minyak Naik-Turun Tajam di Tengah Ketegangan AS-Iran

– Harga minyak dunia mengalami volatilitas tinggi di tengah ketidakpastian kelanjutan putaran kedua perundingan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Fluktuasi harga ini terjadi setelah sebelumnya harga minyak melonjak tajam akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya terkait gangguan di Selat Hormuz.

Adapun harga minyak dunia mengalami penurunan pada perdagangan Selasa (21/4/2026) waktu Asia. Dikutip dari CNBC, kontrak berjangka minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei 2026 turun 1,51 persen ke level 88,26 dollar AS per barrel.

Baca juga: Harga Minyak Dunia Naik 5 Persen ke 95,46 Dollar AS, Pasar Khawatir Gencatan Senjata AS-Iran Gagal

Ilustrasi harga minyak dunia.GETTY IMAGES via BBC INDONESIA Ilustrasi harga minyak dunia.

Sementara itu, kontrak berjangka minyak mentah Brent untuk pengiriman Juni 2026 melemah 0,68 persen menjadi 94,87 dollar AS per barrel.

Koreksi ini terjadi setelah sehari sebelumnya kedua acuan tersebut ditutup melonjak masing-masing sekitar 7 persen dan 5 persen.

Penurunan harga terjadi di tengah laporan bahwa Wakil Presiden AS JD Vance akan memimpin delegasi Amerika Serikat ke Pakistan dalam rangka pembicaraan terkait Iran.

Namun, sinyal dari pihak Iran menunjukkan bahwa negara tersebut belum siap untuk melanjutkan negosiasi.

Baca juga: Harga Emas Dunia Turun 0,4 Persen ke Level Terendah Sepekan, Ditekan Dollar AS dan Lonjakan Minyak

Ketua parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menegaskan sikap negaranya melalui pernyataan di platform X.

“Kami tidak menerima negosiasi di bawah bayang-bayang ancaman, dan dalam dua minggu terakhir, kami telah bersiap untuk mengungkapkan kartu baru di medan pertempuran,” ujarnya.

Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump kembali mengeluarkan ancaman tindakan militer terhadap Iran.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump saat menyampaikan pidato kenegaraan mengenai konflik Timur Tengah di Cross Hall, Gedung Putih, Washington DC, 1 April 2026.AFP/POOL/ALEX BRANDON Presiden Amerika Serikat Donald Trump saat menyampaikan pidato kenegaraan mengenai konflik Timur Tengah di Cross Hall, Gedung Putih, Washington DC, 1 April 2026.

Ia memperingatkan "banyak bom akan mulai meledak" jika tidak ada kesepakatan sebelum gencatan senjata yang rapuh berakhir pada Selasa malam.

Baca juga: Bahlil Sebut Harga Pertamax Berpotensi Naik jika Harga Minyak Dunia Terus Melambung

Retorika memanas dan dampak ke pasar energi

Dalam beberapa hari terakhir, Trump mengubah pendekatan komunikasinya menjadi lebih agresif, bergantian antara eskalasi ancaman dan pernyataan terkait kemungkinan negosiasi.

Ketegangan meningkat setelah pasukan AS menyita kapal Iran pada Minggu (19/4/2026), seiring kebijakan blokade terhadap pelabuhan Iran yang tetap dipertahankan.

Perubahan retorika ini berdampak langsung terhadap volatilitas pasar minyak global.

Menurut pelaku pasar, pergerakan harga yang tajam dalam beberapa pekan terakhir sebagian besar dipicu oleh dinamika komunikasi politik dari Washington.

Baca juga: Tak Hanya RI, Malaysia Juga Lirik Minyak Rusia di Tengah Krisis Energi

Ketua dan CEO Gunvor Group Gary Pedersen menyebut kondisi pasar minyak saat ini sangat dipengaruhi oleh faktor tersebut.

Dalam wawancara dengan Financial Times, ia menyatakan, pergerakan harga minyak merupakan “masterclass” dalam pesan politik Trump.

Harga minyak sempat turun tajam beberapa kali dalam beberapa pekan terakhir setelah pernyataan Trump yang menyebut kesepakatan dengan Iran hampir tercapai atau perang hampir berakhir.

Namun, menurut Pedersen, pasar belum sepenuhnya memperhitungkan gangguan besar terhadap pasokan fisik akibat penutupan Selat Hormuz.

Baca juga: Harga Minyak Melonjak Lebih dari 7 Persen Imbas Selat Hormuz Ditutup Lagi

Gangguan Selat Hormuz dan dampak pasokan global

Gangguan di Selat Hormuz menjadi faktor kunci dalam lonjakan dan volatilitas harga minyak.

Personel Angkatan Laut Iran saat melakukan latihan militer Velayat-90 di Selat Hormuz pada 1 Januari 2012.JAMEJAMONLINE/EBRAHIM NOROOZI via AFP Personel Angkatan Laut Iran saat melakukan latihan militer Velayat-90 di Selat Hormuz pada 1 Januari 2012.

Jalur strategis ini merupakan salah satu titik distribusi energi terpenting di dunia, sehingga gangguan sekecil apa pun dapat berdampak signifikan terhadap rantai pasok global.

Rystad Energy dalam catatannya menyebut gangguan di Hormuz telah mendorong revisi signifikan terhadap proyeksi harga minyak tahun 2026.

Jika harga minyak menembus dan bertahan di atas 100 dollar AS per barrel, kondisi ini berpotensi membuka tambahan pasokan hingga 2,1 juta barrel per hari (bph) dari Amerika Selatan.

Baca juga: Ketegangan AS-Iran Kembali Memanas, Harga Minyak Dunia Hari Ini Tembus 95 Dollar AS

“Amerika Selatan kini berada di posisi sebagai sumber pasokan tambahan yang paling signifikan di dunia,” kata Senior Vice President Rystad Energy Radhika Bansal.

Ia menambahkan, konflik di Timur Tengah tidak hanya memicu lonjakan harga minyak, tetapi juga mengungkap kerentanan struktur pasokan global yang sangat bergantung pada satu jalur sempit.

“Konflik di Timur Tengah telah melakukan lebih dari sekadar menaikkan harga minyak. Konflik ini telah mengungkap betapa berbahayanya konsentrasi rantai pasokan global di sekitar Selat Hormuz,” tutur Bansal.

Pasokan fisik ketat, pembeli berebut minyak

Di tengah ketidakpastian geopolitik, pasokan minyak fisik dilaporkan tetap sangat ketat.

Baca juga: Iran Tutup Selat Hormuz Lagi, Pasokan Minyak Dunia Terancam?

Para pembeli global kini berlomba mencari alternatif pasokan untuk menggantikan minyak dari Timur Tengah yang terganggu.

Pedersen menyebut, kondisi ini menciptakan tekanan tambahan di pasar fisik, meskipun harga berjangka belum sepenuhnya mencerminkan situasi tersebut.

“Pasokan minyak mentah fisik tetap sangat terbatas karena para pembeli di seluruh dunia berebut pengganti minyak dari Timur Tengah,” sebutnya.

Sebagai indikasi meningkatnya permintaan terhadap pasokan alternatif, kapal tanker kosong dari Asia dilaporkan berlayar menuju Amerika Serikat melalui Tanjung Harapan, Afrika Selatan.

Baca juga: Harga Minyak Menguat, Sekutu AS Ragu: Beijing Melihat Peluang Baru

Ilustrasi kapal tanker. SHUTTERSTOCK/SVEN HANSCHE Ilustrasi kapal tanker.

Pergerakan ini menciptakan salah satu antrean kapal terbesar yang pernah tercatat di laut, dengan tujuan mengangkut minyak mentah AS.

Fenomena ini mencerminkan perubahan arus perdagangan global yang dipicu oleh gangguan di Timur Tengah, sekaligus mempertegas peran Amerika Serikat sebagai pemasok alternatif utama dalam situasi krisis.

Volatilitas diperkirakan berlanjut

Selain faktor geopolitik, dinamika musiman juga turut memengaruhi pergerakan harga minyak.

Menjelang musim puncak berkendara musim panas, permintaan minyak biasanya meningkat. Namun, saat ini pasar justru berada dalam fase permintaan musiman yang relatif lebih rendah.

Baca juga: Harga Minyak Mentah RI Melonjak Jadi 102 Dollar AS Per Barrel Dipicu Konlik Timur Tengah

Pedersen mengingatkan, kombinasi antara permintaan yang melemah secara musiman dan ketidakpastian geopolitik dapat memperpanjang periode volatilitas harga minyak.

“Ini adalah periode yang sedikit lebih menantang dan lebih lunak yang perlu kita waspadai,” terang dia.

Ia juga menambahkan, pergerakan harga minyak dalam beberapa bulan ke depan berpotensi sangat fluktuatif.

“Sejujurnya, situasinya bisa sangat bergejolak,” katanya.

Baca juga: Harga Minyak Dunia Anjlok 10 Persen Usai Selat Hormuz Dibuka

Kondisi ini diperparah oleh belum adanya kejelasan mengenai arah kebijakan dan perkembangan konflik antara AS dan Iran. Ketidakpastian tersebut membuat pelaku pasar cenderung bereaksi cepat terhadap setiap pernyataan atau perkembangan baru.

Dinamika geopolitik dan arah pasar energi

Ketegangan antara AS dan Iran tidak hanya berdampak pada stabilitas kawasan, tetapi juga menciptakan tekanan struktural terhadap pasar energi global.

Dengan Selat Hormuz sebagai jalur utama distribusi minyak dunia, setiap eskalasi konflik berpotensi memicu gangguan yang lebih luas.

Selat Hormuz saat dilihat dari Satelit Terra milik NASA pada 5 Februari 2025.NASA EARTH OBSERVATORY via AFP Selat Hormuz saat dilihat dari Satelit Terra milik NASA pada 5 Februari 2025.

Di sisi lain, respons pasar menunjukkan faktor komunikasi politik memiliki pengaruh besar terhadap ekspektasi harga.

Baca juga: Strategi Iran “Akal-akalan” Ekspor Minyak di Tengah Blokade AS

Pernyataan yang saling bertentangan antara ancaman militer dan peluang negosiasi membuat pasar bergerak dalam rentang yang lebar dalam waktu singkat.

Situasi ini menciptakan ketidakpastian yang tinggi, baik bagi produsen maupun konsumen energi global.

Di satu sisi, potensi kenaikan harga membuka peluang bagi produsen baru, terutama di kawasan seperti Amerika Selatan. Namun, di sisi lain, ketidakstabilan harga menjadi tantangan bagi perencanaan dan investasi jangka panjang.

Dengan pasokan fisik yang ketat, gangguan distribusi, serta dinamika geopolitik yang terus berkembang, pasar minyak global saat ini berada dalam fase yang sangat sensitif terhadap perubahan situasi.

Baca juga: Bahlil Sebut Minyak Rusia Mulai Dikirim ke RI Bulan Ini

Setiap perkembangan baru, baik di meja perundingan maupun di lapangan, berpotensi memicu pergerakan harga yang signifikan dalam waktu singkat.

Tag:  #harga #minyak #naik #turun #tajam #tengah #ketegangan #iran

KOMENTAR