MSCI Bekukan Rebalancing Saham RI, BBCA dan BBNI Dinilai Tetap Stabil
- Keputusan Morgan Stanley Capital International membekukan rebalancing saham Indonesia pada Mei 2026 belum memberi tekanan besar ke saham perbankan.
Saham PT Bank Central Asia Tbk dan PT Bank Negara Indonesia Tbk masih relatif stabil di tengah sentimen tersebut.
Pergerakan saham bank besar menunjukkan pola beragam. BBCA melemah tipis ke level 6.450 atau turun 0,39 persen pada sesi kedua perdagangan Selasa. Pergerakan intraday berada di rentang 6.425 hingga 6.525.
BBNI bergerak berbeda. Saham ini menguat ke 3.710 atau naik 1,09 persen. Kenaikan berlangsung bertahap sejak awal sesi dari area 3.670 hingga sempat menyentuh 3.720.
Tekanan lebih dalam terjadi pada PT Bank Rakyat Indonesia Tbk. BBRI terkoreksi 4,94 persen ke level 3.270. Saham ini sempat dibuka di area 3.440, lalu turun tajam dan bergerak di kisaran 3.250 hingga 3.280.
Baca juga: BNI (BBNI) Tunjuk Dirjen Kemenkeu Febrio Kacaribu sebagai Komisaris
Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menilai dampak kebijakan MSCI tidak merata.
Ia melihat tekanan lebih besar pada saham seperti PT Dian Swastatika Sentosa Tbk dan PT Barito Renewables Energy Tbk. Keduanya berpotensi keluar dari indeks MSCI.
Kedua emiten tersebut masuk kategori kepemilikan saham terkonsentrasi tinggi atau high shareholding concentration.
“Kalau perbankan menarik, mix. Untuk BBRI melemah itu wajar karena faktor ex-date (dividen). Tapi BBCA dan BBNI masih tetap stabil, tidak terlalu terdampak signifikan,” ujar Nafan saat dihubungi Kompas.com, Selasa.
Nafan menilai tingkat free float menjadi faktor penting. Emiten dengan free float di bawah 15 persen lebih rentan terhadap tekanan.
Free float yang baik mencerminkan likuiditas dan transparansi. Kondisi ini membuat saham lebih menarik bagi investor global.
“Bisa jadi hanya berdampak signifikan pada kelemahannya ketika free float-nya masih di bawah 15 persen. Seperti itulah, jadi kalau sama kualitas free float emiten bagus, naik, Itu nanti salamnya akan lebih,,” tukasnya.
“Karena memang saham-saham yang benar-benar tersedia bagi publik, bukan dikendalikan oleh pihak-pihak yang terafiliasi yang memang sifatnya agak kompleks,” lanjut Nafan.
Baca juga: Saham Kandidat MSCI Melemah, Investor Ritel Disarankan Tenang dan Tak Panic Selling
Aliran dana asing masih menunjukkan tren keluar sejak awal tahun. Nafan mencatat posisi net foreign masih defisit.
“Year-to-date, net foreign kita masih defisit, di kisaran Rp 30 triliun lebih seingat saya, kalau investor global, memang masih prudent,” katanya.
Pembekuan rebalancing berpotensi menahan minat investor asing. Reformasi pasar dinilai tetap perlu dilanjutkan untuk memperbaiki persepsi global.
Disclaimer: Artikel ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Seluruh rekomendasi berasal dari analis sekuritas. Keputusan investasi menjadi tanggung jawab investor. Pastikan melakukan riset mandiri sebelum menentukan pilihan.
Tag: #msci #bekukan #rebalancing #saham #bbca #bbni #dinilai #tetap #stabil