Harga Ayam Hidup Anjlok: Peternak Mandiri Tertekan, Suplai Berlebih Jadi Sebab
Ilustrasi ayam, peternakan ayam, ternak ayam.(PIXABAY/CINDY PARKS)
10:28
22 April 2026

Harga Ayam Hidup Anjlok: Peternak Mandiri Tertekan, Suplai Berlebih Jadi Sebab

– Harga ayam hidup (live bird/LB) di tingkat peternak mandiri belum menunjukkan tanda-tanda pemulihan.

Bahkan, dalam beberapa pekan terakhir, harga justru kembali mengalami penurunan, menambah tekanan bagi pelaku usaha unggas rakyat.

Peternak mandiri broiler asal Banten, Asep Saepudin, mengungkapkan bahwa kondisi harga saat ini masih jauh dari harapan.

Baca juga: Kementan Cari Cara Simpan Kelebihan Stok Pangan Nasional, Ada Beras, Jagung, dan Daging Ayam

Ilustrasi peternakan ayam.SHUTTERSTOCK/PHOTOARTE Ilustrasi peternakan ayam.

Ia menyebut, harga ayam hidup ukuran 2,0 kilogram kini hanya berada di kisaran Rp18.000 hingga Rp18.500 per kilogram.

“Sudah hampir dua bulan harga belum pulih, malah sekarang turun lagi. Harga live bird enggak naik-naik,” ujar Asep kepada Kompas.com, Selasa (21/4/2026).

Menurutnya, kondisi ini membuat peternak kesulitan menutup biaya produksi, terutama ketika harga pakan dan operasional masih relatif tinggi.

Ia berharap dalam jangka pendek harga bisa kembali naik setidaknya di atas harga pokok produksi (HPP) agar usaha peternak tetap berkelanjutan.

Baca juga: Harga Ayam Hidup Anjlok, Mentan Akan Cek dan Panggil Produsen Pakan

Dalam jangka panjang, Asep mendorong adanya penataan ulang struktur industri perunggasan, termasuk pembagian porsi produksi yang lebih adil antara peternak rakyat dan perusahaan integrator.

“Ke depan, porsi budidaya sebaiknya lebih banyak diberikan ke masyarakat, dengan pengaturan kekuatan pasar di tiap daerah. Peternak integrasi juga perlu dibatasi kuotanya dan fokus untuk kebutuhan rumah potong ayam (RPA) mereka,” jelasnya.

Ia menilai, tanpa pengaturan yang lebih seimbang, mekanisme pasar bebas saat ini cenderung merugikan peternak kecil.

Ilustrasi peternakan ayam, ayam broiler. FREEPIK/TAWATCHAI07 Ilustrasi peternakan ayam, ayam broiler.

“Kalau dibiarkan seperti sekarang, yang kuat akan terus menang. Harapannya harga bisa stabil, sehingga baik peternak mandiri maupun integrasi sama-sama bisa menikmati hasil,” tutupnya.

Baca juga: Harga Ayam Hidup Turun ke Rp 18.000, Peternak Merugi

Terpisah, Ketua Umum Perhimpunan Peternak Rakyat Mandiri Indonesia (PERMINDO), Kusnan, membenarkan kondisi tersebut terjadi secara luas.

“Betul, harga ayam semakin tertekan di seluruh Pulau Jawa,” ujar Kusnan kepada Kompas.com, Rabu (22/4/2026).

Berdasarkan data Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (PINSAR), harga broiler (live bird/kg) dari kandang peternak per Senin, 20 April 2026, kondisi harga di Jawa cenderung stagnan di level rendah.

Di wilayah Banten, harga berada di kisaran Rp 18.500 sampai Rp 19.500 per kg.

Baca juga: Cerita Pedagang Ayam Potong Investasi Emas, Konsisten Beli Tanpa Lihat Naik Turun Harga...

Sementara di Jawa Barat berkisar Rp 18.000 hingga Rp 19.500 per kg, dan Jawa Tengah–DIY berada di rentang Rp 18.000 sampai Rp 19.000 per kg.

Jawa Timur sedikit lebih tinggi, yakni Rp 19.000 sampai Rp 19.500 per kg, dengan beberapa daerah seperti Malang, Jember, dan Banyuwangi menyentuh Rp 20.000 per kg.

Di luar Jawa, harga menunjukkan variasi yang cukup lebar.

Di Pulau Sumatera, harga berkisar Rp 18.000 sampai Rp 18.500 per kg di wilayah seperti Palembang dan Lampung, namun bisa mencapai Rp 26.000 per kg di Aceh dan Rp 27.000 hingga Rp 28.000 per kg di Belitung.

Baca juga: Harga Ayam Anjlok, Peternak: Program MBG Belum Jalan

Wilayah lain seperti Jambi, Bengkulu, dan Lubuk Linggau masih berada di kisaran Rp 18.500 sampai Rp 19.500 per kg.

Sementara itu, kawasan Indonesia Timur cenderung mencatat harga lebih tinggi.

Di Kalimantan, harga ayam kecil bisa mencapai Rp 24.000 hingga Rp 25.000 per kg, sementara ayam besar berkisar Rp 18.500 sampai Rp 21.000 per kg.

Ilustrasi peternakan ayam pedaging. SHUTTERSTOCK/HENADZI PECHAN Ilustrasi peternakan ayam pedaging.

Di Sulawesi, harga bahkan lebih tinggi, seperti di Gorontalo yang berada di kisaran Rp 30.000–Rp 31.000 per kg dan Manado sekitar Rp 26.000 sampai Rp 27.000 per kg.

Baca juga: Harga Ayam Hidup Anjlok, Permindo: Bisa Pukul Usaha Peternak Rakyat

Di Bali dan Nusa Tenggara, harga juga bervariasi, mulai dari Rp 17.000 hingga Rp 18.500 per kg di Lombok hingga Rp 26.500 per kg di Kupang.

Kusnan menegaskan bahwa harga yang dihimpun tersebut merupakan harga untuk ayam ukuran besar dengan bobot di atas 2 kilogram.

Ia juga menyoroti ketimpangan harga antarwilayah yang masih cukup lebar, dengan tekanan terbesar justru terjadi di daerah produksi utama.

“Ini untuk keseluruhan harga di semua daerah. Harga ini adalah untuk ayam ukuran besar bobot 2 kg ke atas,” tegasnya.

Baca juga: Perhimpunan Peternak: Serapan Ayam untuk Program MBG Masih Rendah

Sebelumnya, Kusnan, menjelaskan bahwa penurunan harga tidak semata-mata disebabkan oleh berakhirnya momentum Ramadhan dan Idul Fitri.

“Penurunan harga ayam saat ini tidak hanya disebabkan oleh faktor pasca Lebaran. Berdasarkan data yang kami lihat, faktor utama adalah masih tingginya suplai ayam di pasar,” ujarnya kepada Kompas.com, Minggu (5/4/2026).

Tag:  #harga #ayam #hidup #anjlok #peternak #mandiri #tertekan #suplai #berlebih #jadi #sebab

KOMENTAR